
"Awas saja akan aku hancurkan jembatan itu!" Zester sudah berniat mendatangi rumah barunya lagi untuk memberi arahan pada tukang bangunan.
Namun, ketika sampai Zein kembali mengganggunya.
Bahkan lelaki itu menggunakan istrinya untuk menarik simpati.
"Istriku tengah hamil muda, dia sangat menyukai jembatan itu, kalau sampai kau menghancurkannya dia pasti sangat sedih dan mempengaruhi perkembangan bayi kami," ucap Zein mendramatisir keadaan.
"Tidak usah banyak alasan, kau membuat jembatan tanpa persetujuanku dan sebagian juga memakai tanah dari rumahku. Aku bisa melaporkan ini," Zester menakut-nakuti.
"Aku akan bayar sewa setiap bulan padamu, apa itu cukup?" tanya Zein bernegoisasi.
Zester semakin berdecak sebal. "Aku tidak ingin berurusan denganmu lagi jadi jangan membuat hal yang membuat kita terus terhubung!"
"Ayolah Zee, anggap ini tanda perdamaian kita," bujuk Zein.
"Kau memang keras kepala, ya. Sekali tidak tetap tidak!" tegas Zester.
"Ini sangat baik untuk perkembangan anak kita nanti, mereka bisa bermain bersama di taman belakang dan jembatan itu sebagai sarana mereka bertemu," ucap Zein. Dia sudah memikirkan masa depannya bersama Zester.
Zester mengerutkan keningnya dalam mendengar itu, dia mempunyai firasat buruk. "Kau mau menjodohkan bibit Arabmu itu dengan anakku?"
"Ya, siapa tahu jodoh kan judulnya jadi jodoh lima langkah dari rumah," jawab Zein dengan santai.
"Enak saja kau berpikir seperti itu," kesal Zester.
"Kau tahu kan keunggulan bibit Arab, bagaimana? Kau sudah melihat juga, 'kan?" Zein kembali mengingatkan Zester tentang pertemanan mereka dulu. Mereka bahkan sering mengintip ular satu sama lain ketika buang air di toilet.
"Punyaku lebih keren," Zester kembali menyombongkan diri karena ularnya yang sudah mempunyai helm itu.
"Tapi punyaku lebih top care, kita menikah beda seminggu saja tapi istriku sudah hamil sekarang," Zein tidak mau kalah.
Zester kembali ke kantornya dengan suasana buruk, dia harus mencari cara supaya tidak berhubungan dengan Zein lagi.
Sementara Ara mulai melakukan pemotretan untuk iklan, setelah dari studio dia mendatangi mertuanya yang mengajaknya berbelanja untuk keperluan pindah rumah.
"Anggap ini sebagai hadiah untuk rumah baru kalian," ucap Rebecca yang memilihkan furniture mahal untuk menantunya.
"Tidak harus mahal-mahal, Mom," Ara berusaha menolak tapi tentu saja dia kalah.
"Apa akan ada acara saat kalian pindah nanti?" tanya Rebecca.
"Mungkin acara kecil-kecilan saja," jawab Ara.
"Berarti orang tuamu kemari, 'kan?" tanya Rebecca lagi. Padahal dia sudah tahu kalau Megan dan Theo akan datang tapi dia tetap bertanya.
"Iya, aku merindukan mereka, sudah hampir dua bulan tidak bertemu," jawab Ara. Dia sudah tidak sabar bertemu orang tuanya.
"Aku berniat mengundang anak panti yang ada di yayasan, Mom. Apa boleh?"
Yayasan panti asuhan yang didirikan Mike dan Rebecca baru saja diresmikan tapi sudah banyak anak yatim piatu di sana.
"Tentu saja boleh, kalau begitu mommy akan membantumu menyiapkan acara, jangan lelah-lelah," ucap Rebecca. Bisa saja bibit Zester sudah berkembang di rahim Ara jadi dia tidak mau menantunya kelelahan.
"Harus sering cek kesehatan dan siklus bulanan juga," tambah Rebecca memancing.
"Sebenarnya aku bulan ini terlambat datang bulan," ungkap Ara. Dia masih menganggap itu hal normal karena tidak ada gejala morning sickness dan Zester juga tampak biasa saja, tidak mengalami kehamilan simpatik.
"Sepertinya itu tanda-tanda, kita periksa ke dokter setelah ini, okay," Rebecca kesenangan mendengarnya.