
Furniture yang dibeli oleh Ara dan mertuanya sebelumnya sudah tersusun di rumah baru, Ara hanya perlu menambah beberapa.
Jadi, malam itu Ara akan tidur di rumah baru dan meninggalkan apartemen.
Memang cocok tinggal di perumahan seperti itu, apalagi Ara dan Zester akan memiliki bayi.
"Apa ini tidak kepanasan, Yank?" tanya Zester. Dia baru saja membuat susu hamil untuk istrinya.
"Tidak, aku akan meminumnya," Ara mengambil susu buatan suaminya dan langsung meminumnya. Rasa cokelat memang pas di lidah Ara.
Zester memandangi istrinya, gadis yang diintipnya mandi dulu kini tengah mengandung anaknya.
Kalau dulu dia tidak mengintip Ara, mungkin ularnya masih saja impoten dan tidak bisa menghasilkan bayi.
"Ngomong-ngomong, kenapa stok susu hamilnya banyak sekali?" tanya Zester yang melihatnya banyak karton susu di dapur.
"Itu dibelikan daddy Mike dan ayah Theo," jawab Ara.
"Ternyata calon opa-opanya, aku tidak akan kalah dari mereka," balas Zester yang akan mempersiapkan kebutuhan bayinya.
"Lebih baik jangan membeli sesuatu yang mubazir karena calon oma-omanya juga sibuk untuk keperluan cucunya," jelas Ara. Dia tidak mau banyak barang mubazir karena semua anggota keluarga yang antusias untuk calon bayi mereka.
"Astaga, aku jadi tidak mempunyai peran penting selain membuatnya," gerutu Zester.
"Ini kan cucu pertama jadi sebaiknya kita mengalah," balas Ara.
"Tapi, ini juga anak pertamaku, Yank," Zester pokoknya harus menjadi peran penting.
Ara hanya bisa terkekeh geli, dia mengusap perutnya penuh syukur karena akan banyak cinta yang didapatkan bayinya nanti.
Sebelum tidur, Zester sibuk menciumi perut istrinya yang masih rata.
"Nanti kalau periksa lagi, kita cari rumah sakit yang hasil fotonya tidak buram, okay," ucap Zester seolah berbicara pada calon bayinya.
"Umurnya masih enam minggu, bentuknya masih belum jelas, Zee," tanggap Ara.
"Yank, sepertinya aku tahu yang diinginkan bayi kita," ucap Zester kemudian.
"Apa itu?" tanya Ara. Dia masih samar-samar mencium aroma bawang.
"Kunjungan daddy, aku akan mati lemas jika tidak melakukannya malam ini," bujuk Zester dengan wajah memelas.
"Aku akan bermain dengan lembut!"
Zester melakukan push up dan berlarian kecil supaya berkeringat, kalau bau wangi membuat Ara mencium aroma bawang artinya bau keringat pasti sebaliknya.
"Bagaimana, Yank?" tanya Zester seraya membuka bajunya yang berkeringat.
Tangan Ara terulur untuk menyentuh roti sobek suaminya yang berkeringat. Anehnya, aroma bawang itu menghilang.
"Baumu seperti lavender, Zee," komentar Ara.
Zester tersenyum smirk, ternyata teorinya memang benar adanya. Seharusnya dia memikirkan hal ini dari kapan hari.
Sekarang lelaki itu merangkak mendekati istrinya dan mencium bibir Ara yang sudah lama tidak disentuhnya.
"Aku harus memberi vitamin putih pada bayi kita supaya dia sehat terus, Yank," bisik Zester.
Hanya hitungan detik saja, baju yang dikenakan Ara sudah berceceran di lantai.
Zester mengamati bentuk tubuh istrinya, belum ada perubahan yang signifikan tapi dua tempat favoritnya tampak membesar.
Sebelum dua tempat itu direbut bayinya nanti, dia akan bermain sepuasnya.
"Zee, pelan-pelan, okay," pinta Ara sebelum suaminya melilitnya malam ini.
"Tenang, Yank. Aku akan pelan dan lembut," Zester berusaha meyakinkan.
"Produksi vitamin putihku sudah banyak, bayi kita pasti senang!"