
Pagi itu, rencananya Ara akan membawa Agam ke kampusnya karena dia tidak tega meninggalkan adiknya sendirian di apartemen.
"Kita sarapan roti aja ya, Dik. Nanti tunggu mbak di kantin, di sana banyak makanan enak," ucap Ara sambil mengoles roti tawar menggunakan selai cokelat.
Agam hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju. "Tapi, jangan lama-lama mbak!"
"Gak sampai jam makan siang udah selesai kok," balas Ara.
Biasanya sehabis itu Ara akan ke kantor Zester, apa hari ini dia akan dijemput paksa lagi?
Kalau dipikir-pikir sejak semalam, Zester sama sekali tidak menghubunginya.
"Mbak..." panggil Agam karena Ara jadi melamun sampai roti yang ada di tangan gadis itu penuh dengan selai cokelat.
"Ya ampun," Ara yang sadar langsung mengganti dengan roti yang baru.
"Kenapa mbak jadi galau?" tanya Agam penasaran.
"Anak kecil tidak perlu tahu," balas Ara yang tidak mau ketahuan tengah memikirkan Zester.
Setelah fokus, Ara berhasil mengoles dua roti kemudian kakak beradik itu keluar dari apartemen untuk pergi ke kampus.
Tapi, mereka justru berpapasan dengan Zester di loby apartemen.
Baik Zester atau Ara seperti orang yang salah tingkah. Dan hal itu membuat Agam jengah sendiri, untuk hari ini dia akan jadi mak comblang sehari.
"Mbak, aku mau ikut pak bule saja. Kalau di kampus kan bosan sendirian," ucap Agam.
"Justru kalau ikut ke perusahaannya semakin membosankan," tolak Ara.
"Tidak apa-apa, aku ingin melihat mobil keluaran terbaru di sana, mbak kan magang juga jadi bisa jemput aku," Agam tetap memaksa ikut Zester.
Zester seperti mendapat lampu hijau jadi dia akan membawa Agam ke perusahaannya.
"Ayo adik ipar, asistenku sudah menunggu," ucap Zester kemudian.
"Dan jangan panggil pak bule, panggil saja kakak ipar supaya lebih akrab!"
Sebenarnya bukan hanya karena ingin menjadi mak comblang tapi Agam melihat ada arwah gentayangan mengikuti Zester padahal tadi malam belum ada.
"Sepertinya akan terjadi sesuatu hari ini," ucap Agam dalam perjalanan.
"Apa itu sesuatu yang berhubungan dengan mbakmu?" tanya Zester yang berharap hubungannya dengan Ara mengalami kemajuan.
Agam menggelengkan kepalanya. "Akan ada kelahiran hari ini dan dia bisa tenang!"
"Kau sebenarnya bicara adik ipar?" tanya Zester. Dia yang sebelumnya bersemangat jadi merinding.
"Apa pak bule merasa ada beban berat di pundak?" tanya Agam.
"Wah, kau memang cenayang, ya. Ini pasti karena aku kelelahan jadi badanku sakit semua seperti memikul beban tapi aku harus tetap bekerja," jawab Zester sambil menggoyangkan pundaknya.
Di mata Agam, arwah gentayangan itu tengah bergelayut di badan Zester dengan luka berdarah-darah.
Sangat mengerikan tapi Agam sudah terbiasa melihat hal semacam itu.
"Namanya Ismail sepertinya dia ingin meminta sesuatu," ucap Agam lagi.
Sumpah demi apa, Zester semakin merinding. Kalau tahu begini, dia tidak akan membawa Agam bersamanya.
"Adik ipar, jangan bicara sesuatu yang aneh, yang namanya Ismail itu sudah meninggal," balas Zester.
"Memang sudah meninggal dan sekarang arwahnya sedang digendong pak bule," Agam memberitahu.
Zester jadi panik, dia tidak percaya dengan hal seperti itu tapi kenapa dia ketakutan.
"Mike... Mike... Apa kau melihat sesuatu?" tanya Zester.
Asisten Mike menoleh ke belakang sejenak tapi tidak melihat apapun. "Tidak ada, Tuan!"
"Tak gendong kemana-mana, tak gendong kemana-mana," Agam justru bernyanyi seperti itu yang membuat Zester tambah panik.
"Putar mobilnya antar adik ipar ke kampus Ara!" perintah Zester yang tidak mau bersama Agam lagi.