Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
BAB Spesial - Kaizen & Shiren



Shiren terus berlari menembus hujan sampai bajunya basah kuyup. Seharusnya dia memberi selamat karena sahabatnya baru saja jadian tapi kenapa justru dia berlari?


Bukankah sebelumnya memang itu yang Shiren inginkan, salah satu diantara dia dan Kaizen, ada yang mempunyai pacar supaya tidak ada yang salah paham lagi.


Namun, ketika hal itu benar terjadi, kenapa Shiren tidak suka?


"Aku memang payah," gumam Shiren. Dia mencari tempat berteduh dan mencoba menghubungi papanya supaya menjemputnya.


"Baterainya habis, aku lupa charge!"


Shiren jadi bingung, bagaimana caranya pulang dengan kondisinya yang basah kuyup.


Sampai dia mendengar ada yang memanggil namanya.


"Shiren..."


Ketika gadis itu menoleh, dia melihat pemuda yang baru mengungkapkan cinta padanya tempo hari.


"Nathan?" panggil Shiren. "Kenapa kau bisa ada di sini?"


"Rumahku kan memang dekat dengan sekolah, aku tadi mau membeli nasi goreng tapi aku melihatmu berlarian di tengah hujan. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Nathan seraya berdiri di samping gadis itu.


"Aku tadi baru dari sekolah, aku ingin menghubungi papaku tapi baterai ponselku habis," jelas Shiren.


"Aku tidak membawa ponsel, kalau kau mau, ayo berteduh di rumahku," ajak Nathan.


Sepertinya tidak ada pilihan lain jadi Shiren setuju untuk berteduh di rumah Nathan, mereka berjalan berdua di bawah payung yang sama.


Nathan meminjami Shiren baju dan gadis itu menunggu papanya untuk menjemputnya.


Kesalahan Shiren malam itu adalah melupakan baju basahnya yang tertinggal di rumah Nathan.


...***...


Kaizen berusaha menghubungi Shiren tapi nomor ponsel gadis itu tidak aktif jadi dia mendatangi rumah Shiren melewati jembatan penghubung.


"Di mana Shiren, Tante?" tanya Kaizen pada Farah yang membukakan pintu belakang.


"Shiren demam, jadi tidak bisa bersekolah hari ini," jawab Farah.


"Sakit?" Kaizen jadi panik.


Pemuda itu bergegas naik ke lantai kamar Shiren untuk memeriksa keadaan gadis itu.


Kaizen melihat Shiren masih memejamkan mata lalu tangannya mencoba memeriksa suhu tubuh gadis itu, memang panas.


Merasa ada telapak tangan yang ada di keningnya, Shiren perlahan membuka matanya.


"Kai..." panggilnya lirih.


Terdengar suara decakan dari mulut pemuda itu, Kaizen hari itu tidak ikut masuk sekolah dan menemani Shiren sampai seharian. Bahkan dia mematikan ponselnya.


"Kenapa kau tidak sekolah, Kai? Aku hanya demam," ucap Shiren ketika Kaizen menyuapinya bubur ayam.


"Diamlah," balas Kaizen. Dia tetap menyuapi gadis itu dengan bubur ayam yang baru saja dia beli.


Sebenarnya Shiren ingin bertanya tentang hubungan Kaizen dan Kara tapi dia takut merusak suasana.


"Sepertinya kemarin baik-baik saja tapi kenapa sekarang bisa sakit?" tanya Kaizen. Dia sama sekali tidak tahu kalau gadis itu menyusulnya di sekolah.


"Mungkin karena aku kelelahan," jawab Shiren.


"Mengenai rumus itu, aku memang menghafalnya secara tidak sengaja jadi jangan berpikir macam-macam. Aku itu memang bodoh dan kau anak yang pintar jadi tetaplah jadi juara satu supaya aku bisa melihatmu mendapat gelar dokter Shiren," ucap Kaizen.


Shiren memang bercita-cita menjadi dokter, oleh karena itu nilainya harus bagus.


"Menghafalnya secara tidak sengaja? Alasan apa itu?" protes Shiren seraya melempar bantalnya.


Dengan cepat Kaizen menangkap bantal itu dan naik ke ranjang Shiren. Pemuda itu menggelitiki badan Shiren, seperti yang biasa mereka lakukan.


Shiren tertawa, dulu rasanya tidak masalah mereka melakukan hal seperti ini tapi kalau sekarang rasanya sudah berbeda.


Apalagi Kaizen berada di atas tubuhnya.


"Kau tidak merasa geli lagi, hem?" Kaizen ingin menggelitiki tubuh Shiren lagi.


Namun, dia terpaku melihat wajah Shiren dari atas.


Secara refleks Kaizen menundukkan wajahnya yang membuat jaraknya sangat dekat dengan wajah Shiren.


Hidung mancung Shiren sampai menyentuh hidung Kaizen, mendadak suasana menjadi panas.


"Shiren..." Kaizen memanggil nama gadis itu setengah berbisik.


Shiren memejamkan mata karena merasa Kaizen akan menciumnya. "Tunggu! Kenapa aku menutup mataku? Aaaa..."