
Shiren ingin membeli es krim di kantin ketika jam istirahat, dia butuh mood yang bagus untuk memulai pelajaran selanjutnya.
Ketika sampai di kantin, Shiren jadi bahan gosip lagi karena kejadian di lapangan upacara sebelumnya.
Ini sudah pernah terjadi, Shiren hanya perlu bersikap cuek.
"Kak Shiren..."
Shiren mendengar namanya dipanggil dan langsung menoleh ke belakang.
"Oh, Kara. Ada apa?" tanya Shiren. Ternyata adik kelasnya yang memanggilnya.
"Apa kita bisa bicara berdua?" ajak Kara.
"Bisa, aku bayar es krim ku dulu," balas Shiren.
Shiren membeli dua es krim dan memberikan satu pada adik kelasnya itu. "Makanlah!"
"Terima kasih," ucap Kara seraya menerima es krim itu.
"Ada apa?" tanya Shiren. Dia jadi penasaran.
"Tapi, kakak harus jawab yang jujur. Apa kak Shiren berpacaran dengan Kak Kai?" tanya Kara. Dia sudah menyukai Kaizen sejak lama dan kejadian pagi tadi jadi membuat salah paham.
"Hahaha..." Shiren tertawa mendapat pertanyaan seperti itu. "Kenapa banyak yang mengira kami pacaran, aku dan Kai itu tetangga maka dari itu kami sangat dekat."
"Bukankah tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan? Pasti salah satunya menyukai," ucap Kara lagi.
"Kami memang saling menyukai tapi sebagai saudara, lagipula Kai itu suka bersikap dingin padaku. Apa itu yang disebut suka?" balas Shiren.
"Kalau begitu, bisakah kak Shiren membantuku untuk mendekati kak Kai? Di antara kalian harus ada yang punya pacar supaya tidak ada lagi persepsi miring tentang kalian," pinta Kara menggebu-gebu.
Kalau dipikir-pikir ada benarnya juga tapi selama ini Shiren tidak pernah melihat Kai berpacaran atau membicarakan gadis yang pemuda itu sukai.
Jadi, saat pulang sekolah, Shiren menanyakan hal itu.
"Kai, apa kau tidak mau berpacaran?" tanya Shiren.
Pada saat itu motor Kai sedang berhenti di lampu merah.
"Memangnya kenapa?" tanya Kai balik.
"Aku tidak suka mereka dan tidak mau pacaran dengan mereka," tegas Kai. Nada bicara pemuda itu lebih keras dari sebelumnya.
"Kalau kau tidak mau pacaran, aku saja yang pacaran," ucap Shiren.
Pupil mata Kaizen membesar mendengarnya, bisa-bisanya Shiren mempunyai pemikiran seperti itu.
"Kau sebenarnya kesambet apa? Kenapa bicara begitu?" cecar Kaizen tidak suka.
Lampu hijau sudah menyala, Kaizen segera memutar gas motornya. Dia menambah kecepatan dari sebelumnya yang membuat Shiren jadi takut.
Refleks Shiren melingkarkan tangannya di perut pemuda itu dengan erat sekali.
"Kai, turunkan kecepatannya!" teriak Shiren.
Bukannya menurut, Kaizen tetap dengan kecepatannya itu, dia sangat menikmati pelukan Shiren dari belakang.
"Aaaa...." Shiren semakin berteriak.
"Semakin berteriak, aku akan menambah kecepatannya!" ancam Kaizen.
"Cepat katakan, kalau kau tidak mau pacaran!"
Demi keselamatannya, Shiren setuju dengan syarat yang diberikan pemuda itu.
"Iya, aku tidak mau pacaran!" seru Shiren.
Kaizen tersenyum smirk dan langsung mengurangi kecepatan motornya. "Nah begitu!"
"Kai..." Shiren memukul lengan pemuda itu seperti biasanya. "Awas ya, besok aku tidak mau berangkat dan pulang sekolah lagi denganmu!"
"Memangnya siapa yang akan mengantarmu?" tanya Kaizen.
"Kan ada taksi online," jawab Shiren.
"Lihat saja, aku akan menebar paku di depan rumahmu supaya kendaraan yang lewat jadi bocor," balas Kaizen.
"Dasar menyebalkan!" Shiren selalu saja dibuat kalah telak.