Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 84 - Misi Mike



"Menikah?" tanya Mike kaget. Dia tidak menyangka Zester akan menanyakan hal seperti ini. Apa ini sebuah kode untuk menerima kehadiran daddy baru?


Mike harus memperjelasnya supaya tidak salah paham. "Anda mengizinkan nyonya presdir menikah lagi?"


"Kalau mommy mempunyai kekasih, aku bisa memikirkannya," jawab Zester.


Tidak salah lagi, ini adalah lampu hijau, Mike semakin bersemangat mengejar cinta Rebecca.


"Jam makan siang kita akan pergi ke mansion," ucap Zester lagi.


Buru-buru Mike pergi ke toilet untuk memeriksa keadaan wajahnya, wajah patah hati itu harus tidak terlihat. Dia harus terlihat segar dan tampak berwibawa seperti biasanya.


Namun, bayangan tubuh Rebecca dan suara desahaan perempuan itu mulai mengotori pikirannya lagi.


"Tenang, Mike! Kau sudah jadi laki-laki sejati sekarang!" Mike berusaha menyemangati dirinya sendiri.


Ketika jam makan siang tiba, Mike sudah siap mengendarai mobil untuk pergi ke mansion Schweinsteiger.


Kepala pelayan menyambut kedatangan Zester dan Mike kemudian mengarahkan mereka ke taman karena Rebecca menunggunya di sana.


"Hai darling," Rebecca menyambut Zester dengan memeluk putranya.


"Apa mommy benar-benar sudah sembuh?" tanya Zester yang merasa khawatir.


"Seperti yang kau lihat, mommy baik-baik saja," sahut Rebecca.


Perempuan itu tampak mengabaikan Mike yang berdiri di belakang Zester.


"Hari ini mommy ingin makan masakan Jerman jadi mommy memasak sendiri," Rebecca mempersilahkan Zester untuk duduk.


Zester duduk dan meminta asistennya ikut bergabung. "Duduklah, Mike! Kau pasti juga merindukan masakan Jerman!"


"Ehem!" Mike berdehem karena merasa mereka bertiga seperti keluarga kecil yang makan bersama.


Rebecca masih tampak acuh dan tidak mau memandang Mike yang terus curi perhatian padanya.


"Oh iya, aku akan melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Ara ujian semester dan Mike akan cuti kemudian ikut pulang kampung bersama Ara. Jadi, aku harap mommy bisa datang ke perusahaan," ucap Zester disela makannya.


"Biar mommy saja yang menemani Ara pulang kampung sekalian silaturahmi," balas Rebecca.


"Tidak bisa, Mike mempunyai misi di kampung jadi dia akan menghabiskan masa cutinya di sana," jelas Zester.


"Misi?" tanya Rebecca.


"Ada perempuan yang mengambil keperjakaan Mike lalu mencampakkannya tapi karena Mike sudah terlanjur cinta, dia akan mengejar perempuan itu," Zester lebih memperjelas lagi.


Seketika Rebecca langsung tersedak minuman yang tengah dia teguk, ternyata Mike ingkar janji. Katanya akan melupakannya tapi kenapa sekarang ingin mengejarnya lagi? Dasar gila!


"Lantas apa hubungannya dengan kampung Ara? Perempuan itu kalau sudah menolak tapi dikejar-kejar terus akan semakin illfeel," Rebecca memberi kode keras.


"Mike ingin menunjukkan ketulusannya," Zester mulai sadar kalau sedari tadi jadi juru bicara untuk asistennya.


"Mike, jelaskan sendiri! Jangan hanya diam!"


Mike pun berdehem dan mencoba berbicara. "Saya adalah fans pak kades jadi tahu banyak tentang perjalanan cintanya demi mendapatkan bu kades, dia harus menunjukkan ketulusan begitu juga dengan tuan Zester yang menunjukkan ketulusan pada nona Ara!"


"Jadi, saya akan menunjukkan ketulusan itu pada perempuan yang saya cintai!"


Rebecca memegangi kepalanya karena pusing, bisa-bisanya lelaki itu tidak ada kapoknya sudah ditolak berulang kali.


"Mommy kenapa?" tegur Zester.


"Kepalaku pusing jadi mommy akan masuk ke dalam dulu," Rebecca berpamitan masuk ke dalam mansion.


"Biar saya antar, Nyonya," Mike berdiri dan mencoba membantu Rebecca.


Kalau Rebecca menolak Zester akan curiga jadi dia bersedia dibantu tapi awas saja dia akan mengusir lelaki itu lagi jika sudah masuk ke dalam.


"Sebaiknya kau urungkan niat konyolmu itu," ucap Rebecca pelan tapi masih terdengar di telinga Mike.


"Aku tetap menolakmu!"


"Tapi, tubuhmu berkata lain, Becca," balas Mike dengan berbisik di telinga perempuan itu.