
Ara memandangi ponselnya, dia baru saja mengganti wallpaper di ponselnya menggunakan potret dirinya dengan Zester.
Gadis itu sedang kasmaran.
"Jadi begini rasanya menyukai seseorang," gumam Ara.
"Tapi, apa benar aku akan menghabiskan waktuku nanti dengan Zee?"
Ara mengambil katalog yang diberikan Zester padanya, dia membalik halaman demi halaman, banyak referensi rumah yang ada di katalog itu.
"Aku pikir setelah lulus kuliah akan hidup di kampung bersama ayah ibu dan Agam, atau melanjutkan kuliahku lagi sampai mendapat gelar magister tapi..."
"Apa benar aku harus menjadi seorang istri?"
Memikirkan hal itu, Ara jadi pusing sendiri. Ini semua di luar ekspektasinya.
"Lebih baik aku tidak usah memikirkannya," ucap Ara akhirnya.
Ara lebih memilih untuk mengemasi barang yang akan dia bawa pulang kampung.
Hal sama dilakukan Zester karena dia juga harus pergi untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Banyak schedule yang harus dia kerjakan.
"Apa persiapan semua sudah selesai?" tanya Zester pada Mike dan Clarisa yang bersamanya saat ini.
"Clarisa sudah menyiapkan semuanya, Tuan," jawab Mike.
Zester menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kau harus menjaga Ara dan melaporkan padaku jika terjadi masalah serius!"
"Baik, Tuan," Mike sudah mengerti tugasnya.
Saat akan pergi ke bandara, Ara ikut mengantar kekasihnya itu. Di dalam mobil, Zester tidak melepaskan genggaman tangannya dengan Ara.
"Padahal kalau naik helikopter, perjalanan ke kampungmu hanya membutuhkan waktu sebentar," ucap Zester.
"Kenapa jadi memikirkan perjalananku?" tanggap Ara. Dia menyenderkan kepalanya di pundak lelaki itu. "Pikirkan perjalananmu dan kau harus pulang dengan selamat!"
Zester terkekeh pelan, dulu tidak ada yang mengkhawatirkan dirinya kalau pergi jauh begini apalagi yang menunggunya untuk pulang.
Yah, Riri selalu bersenang-senang sendiri bahkan kalau Zester pergi, perempuan itu akan tambah senang.
Berbeda hal dengan Ara yang justru mendoakan dan menunggunya kembali.
"Tunggu abang gantengmu ini, okay," ucap Zester.
Di depan lelaki itu memang Ara biasa saja tapi ketika mobil kembali berjalan lagi, Ara meneteskan air matanya lalu buru-buru mengusapnya.
"Tidak perlu khawatir, Nona," ucap Mike berusaha menghibur.
Kini Ara dan Mike menuju kampung Suka Maju berada.
Sepanjang perjalanan, Ara lebih banyak tidur tapi sesekali memancing Mike untuk memberitahunya siapa perempuan yang tengah dikejar lelaki itu.
"Apa aku mengenalnya?" tanya Ara.
"Nanti juga tahu sendiri," Mike selalu menjawab seperti itu.
Rencananya Mike memang akan menginap di rumah pak kades untuk sementara waktu, Ara sudah membicarakan ini pada orang tuanya.
"Jangan sungkan, asisten Mike," ucap Ara ketika mereka sampai.
Ara keluar dari mobil dan langsung berlari menuju rumahnya, dia sangat merindukan keluarganya, Ara sengaja tidak memberitahu hari apa dia akan pulang.
Pada saat itu hari sudah malam, Agam yang membuka pintu rumah.
"Mbak Ara..." Agam tampak kaget sekaligus senang melihat kakaknya datang.
Ara memeluk adiknya itu. "Mbak, rindu..."
"Di mana ayah dan ibu?"
"Lagi ke undangan selamatan," jawab Agam.
Tak lama Megan dan Theo datang, mereka datang dengan memakai motor N-max merah.
"Ayah dapat jatah motor?" tanya Ara.
"Padahal tidak ikut demo tapi ayah tetap dapat jatah," jawab Agam.
Megan yang dibonceng Theo segera ingin turun ketika melihat mobil masuk ke halaman rumah mereka dan ada Ara di depan pintu.
"Mbak Ara pulang, cepat berhenti," ucap Megan.
Theo segera mematikan motornya dan Megan langsung turun begitu saja, lelaki itu memakirkan motor dulu dan dia melihat Mike menunduk hormat padanya.
"Ck! Bule lagi, bule lagi," decak Theo sebal.