
Ara memegangi bibirnya sambil senyum-senyum sendiri ketika masuk ke dalam lift, sebelumnya Zester begitu gigih menciumnya sampai dia kesulitan bernafas.
"Aku merasa berdebar lagi," gumam Ara seraya memegang dadanya.
Semenjak pulang dari pemandian panas hari itu, hubungan Ara dan Zester semakin dekat.
Mereka selalu menyempatkan diri untuk saling memberi kabar satu sama lain dan selalu bertemu untuk sekedar makan bersama atau kencan singkat.
Ara mulai nyaman karena hubungan mereka sekarang bukan dilandasi dengan ular menyembul atau janji yang dibuat Zester.
Kedua anak manusia itu menjalani hubungan mereka mengalir seperti air.
"Aku ada di parkiran basement," ucap Zester ketika menghubungi gadis itu.
"Tunggulah sebentar lagi, aku sudah menuju ke sana," balas Ara.
Hari itu, Zester menjemput Ara karena mereka akan menghadiri sidang Riri di mana agendanya adalah pembacaan tuntutan hukuman dari jaksa penuntut umum.
Setelah beberapa kali persidangan yang dihadiri Zester, kali ini Ara ingin ikut karena ingin mendengar tuntutan hukuman untuk Riri.
"Asisten Mike tidak ikut?" tanya Ara ketika sudah masuk ke dalam mobil Zester.
"Mike masih menyelesaikan beberapa pekerjaan, hanya kita berdua saja," jawab Zester yang langsung melajukan mobilnya ke tempat persidangan.
Karena persidangan digelar secara terbuka jadi ada beberapa media yang turut hadir di persidangan itu.
Akhirnya kasus percobaan pembunuhan berencana yang ditutupi oleh Zester sebelumnya diketahui oleh publik.
Beruntung Marvin mau mengakui semuanya jadi Riri tidak berkutik dan persidangan berjalan lancar.
"Padahal kau berusaha menutupi tapi busuknya bangkai tercium juga pada akhirnya," komentar Ara.
"Semoga Riri bisa sadar atas apa yang telah dia lakukan," balas Zester.
Awalnya Bu Sutopo merasa syok karena mengetahui penyebab kematian anaknya tapi Rebecca sudah minta maaf dan berusaha bertanggung jawab atas bayi Ismail.
Lagi-lagi skandalnya bisa tertutupi, Rebecca sudah menyesali dan berniat untuk kembali ke negara asalnya Jerman.
Dia akan menyerahkan perusahaan sepenuhnya pada Zester tapi lelaki itu belum mau menjadi presiden direktur.
"Zee..." panggil Rebecca.
Pada saat itu, Zester berjalan berdua dengan Ara.
"Apa kabar, Tante?" sapa Ara seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.
"Baik sekali, apa lagi melihat kalian berdua seperti ini," jawab Rebecca.
"Kita berbicara nanti saja, Mom. Sidangnya sudah akan dimulai," timpal Zester.
Mereka bertiga pun berjalan bersama ke ruangan sidang.
Riri yang duduk di kursi terdakwa melihat kehadiran ketiga orang itu, dia sudah sangat menantikan kedatangan Ara akhirnya gadis itu datang juga.
Kalau gadis itu tidak muncul di hadapan Zester pasti dia sudah menikah dan hidupnya tidak akan menjadi seperti ini.
Riri sudah mengincar pistol polisi yang berjaga di sekitar area persidangan. Saat tuntutan jaksa penuntut umum dibacakan Riri terlihat tenang walaupun dituntut hukuman seumur hidup.
Namun, setelah persidangan selesai dan Riri akan diborgol kembali, perempuan itu dengan gerakan cepat dan membabi buta mengambil pistol polisi yang telah diincar sebelumnya.
Riri sudah tidak peduli lagi dengan apapun karena yang dia incar sekarang adalah Ara.
"Nasibmu akan tetap menjadi putri duyung," ucap Riri seraya mengarahkan pistol pada Ara. Dia menarik pelatuknya dan...
DOR!