
Shiren merasa gugup karena hari ini, hari kompetisi antar sekolah digelar, beberapa sekolah datang dengan murid unggulan mereka.
Walaupun sudah mempersiapkan diri dengan baik tetap saja ada perasaan gugup karena tidak tahu apa yang akan terjadi nanti.
Aku duduk paling depan!
Awas saja kalau kau sampai kalah!
Shiren membaca pesan dari Kaizen, bukannya memberi semangat, pemuda itu justru mengancamnya.
"Dasar Kai menyebalkan!" kesal Shiren.
Acara kompetisi itu diadakan di aula sekolah, di sana terdapat panggung yang berisi peserta kompetisi dan banyak kursi penonton.
Kaizen benar-benar duduk di barisan paling depan karena ingin melihat Shiren bertanding.
Jangan gigit kukumu terus!
Kaizen kembali mengirim pesan untuk Shiren, dia tahu kalau gadis itu selalu menggigit kuku jarinya ketika gugup.
Ada beberapa acara sambutan sebelum acara utama dimulai.
Mata Shiren melihat Kaizen yang duduk di depan, pemuda menyebalkan itu selalu saja bersikap sok perhatian dengan caranya sendiri.
Ketika acara utama dimulai, Shiren dan timnya fokus untuk menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh panitia.
Pertarungan sangat sengit karena setiap sekolah tidak ada yang mau mengalah.
Namun, tim Shiren mampu menyusul dan terus membuat poin mereka naik.
Kaizen mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai karena poin Shiren sebentar lagi akan unggul.
Sampai ada satu pertanyaan yang menjebak karena pertanyaan menggunakan dua rumus rumit untuk menyelesaikannya.
"Ayo Shiren!" batin Kaizen.
Seolah mendengar kegelisahan hati pemuda itu, Shiren kembali menatap Kaizen di sana. Dan Kaizen langsung memberi kode untuk menggunakan rumus tercepat supaya Shiren bisa mengerjakan dengan mudah.
Shiren menganggukkan kepalanya paham dan mencoba cara Kaizen sampai mendapat jawaban lalu gadis itu segera memencet tombolnya seraya menjawab soal yang diberikan.
Terdengar tepuk tangan yang meriah karena Shiren dan timnya menjadi unggul.
Saat acara selesai, Shiren langsung mencari keberadaan Kaizen.
"Kai..." panggil Shiren masuk kelas.
Tidak ada pemuda itu, jadi Shiren mencari di ruang musik sekolah.
Kaizen tengah sendirian dengan gitarnya di sana, anak-anak lain sedang menikmati waktu bebas hari ini.
"Kau kurang belajar!" Kaizen menjitak kening Shiren ketika gadis itu mendekat.
"Apa kurang sakit? Sini dekat lagi," Kaizen ingin menjitak kening Shiren lagi tapi tangan Kaizen ditangkap oleh gadis itu.
"Kau selama ini berbohong, Kai!" ucap Shiren.
"Berbohong apa?" tanya Kaizen.
"Rumus itu tidak mudah diingat untuk anak yang tidak pernah mengerjakan PR dan remedial setiap ulangan sepertimu," jelas Shiren.
"Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau berpura-pura bodoh?"'
Kaizen mengangakan mulut karena kedoknya sudah ketahuan. Ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya.
Bersamaan dengan itu, Kara masuk ke ruang musik dengan membawa dua gelas milkshake.
"Ternyata ada kak Shiren," tegur Kara. Gadis itu melihat Shiren yang masih memegang tangan Kaizen.
Buru-buru Shiren melepas tangan Kaizen, dia akan melanjutkan pembicaraan mereka di rumah saja supaya tidak ada yang mengganggu.
"Kita bertemu di kolam NyongNyong nanti," ucap Shiren sebelum pergi.
Kara merasa tidak suka melihat kedekatan antara Shiren dan Kaizen, mereka seperti mempunyai chemistry tersendiri.
"Aku harus memisahkan mereka," batin Kara.
_
Yakin bisa?😅
Author bawa rekomendasi karya baru dedek anu lagi, dibantu ramein ya ayang2ku...
Judul : Fierce Boss And Handsome Assisten
Napen : ntaamelia
Blurb :
Layu sebelum berkembang, mungkin itu istilah yang pas untuk menggambarkan keadaan Amanda.
Karena belum juga menyatakan perasaan pada pria yang dicintainya, dia malah melihat surat undangan pernikahan, di mana ada nama Saga di sana.
Di merasa kalah telak dan tak memiliki harapan, karena dengan mata kepalanya sendiri dia menyaksikan pesta pernikahan pria pujaannya.
Dan tepat pada hari itu juga, dia merasakan sebuah kesialan karena harus bertemu dengan pria tua menyebalkan.
Bagaimana kisah mereka akan berlanjut, apakah Amanda akan bertemu dengan pria itu lagi dan move on dari Saga? Cus kepoin ceritanya.