
Ara sepertinya memancing Zester, lelaki itu langsung mengubah posisi untuk menindih gadis itu.
"Kau sengaja membuatku gila, ya?" Zester menautkan tangannya dengan Ara.
"Apa kau tidak takut kalau aku khilaf?"
"Aku tahu, kau tidak akan melakukannya, Zee," balas Ara dengan yakin.
Zester tersenyum smirk mendengarnya. "Kau terlalu percaya padaku, kau tidak tahu kalau aku setiap saat semakin bernafsu!"
"Kalau memelukmu, aku jadi ingin mengecupmu selanjutnya menciummu, dan selanjutnya..."
"Aku terus ingin melakukan hal lain!"
Lelaki itu menunduk dan ingin menyambar bibir Ara tapi belum juga bibirnya menempel, Zester mendengar suara deheman.
Persis suara Theo.
Sontak Zester merasa denial dan langsung melepas Ara.
"Kenapa aku mendengar suara ayah mertua?" gumamnya sambil mencari sosok itu.
Namun, di kamar itu tidak ada siapa-siapa selain dirinya dan Ara yang membuatnya jadi bingung.
"Itu namanya kutukan pak kades," ucap Ara sambil tertawa.
"Baru sembuh kutukan impoten tambah lagi kutukan baru," gerutu Zester.
"Sebaiknya aku membelikan obat batuk untuk ayahmu supaya tenggorokannya tidak gatal!"
Ara semakin tertawa mendengarnya, dia merentangkan kedua tangannya supaya Zester mendekat lagi.
"Kemarilah, beruang besar," ucapnya.
Perlahan tapi pasti, Zester mendekat lagi dan mendekap kekasihnya. Dia lama-lama bisa gila beneran kalau di dekat Ara tapi tidak bisa menyentuh gadis itu.
"Aku masih memikirkan mommy mu, kalau saja mommy mempunyai pasangan dan tidak kesepian, bukankah skandal seperti sebelumnya minim terjadi dan..."
"Lihatlah kamarmu masih seperti dulu, artinya mommy peduli padamu, Zee!"
Zester menghela nafasnya karena lagi-lagi Ara mencemaskan orang lain, seharusnya gadis itu hanya memikirkan hubungan mereka saja.
"Jadi, apa yang kau mau, Yank? Meminta mommy ku menikah lagi?" tanya Zester kemudian.
"Akan aku pikirkan," Zester akhirnya mengalah.
"Jadi, kalau mommy punya kekasih, kau akan setuju, 'kan?" tanya Ara memastikan.
Zester tidak menanggapi tapi tidak juga menolak, lebih baik Ara menyudahi pembicaraan Rebecca dari pada suasana hati Zester tidak baik.
Mereka akhirnya pergi ke resto Oma Berta setelah puas bermesraan.
Sebenarnya Ara agak takut membawa Zester ke sana karena Oma Berta sama seperti ayahnya yang tidak suka bule.
Namun, Ara tetap membawa Zester dan memperkenalkannya.
"Ara, cucu cantikku..." Oma Berta yang melihat kedatangan cucu pertamanya langsung menyambut dan memeluk serta mencium gadis itu.
Atensi perempuan paruh baya itu kemudian mengarah pada Zester yang berdiri di belakang Ara.
"Oma, perkenalkan namanya Zester. Dia pacarku," ucap Ara malu-malu.
"Pacar?" Oma Berta menelisik wajah dan penampilan Zester.
"Hallo, Oma," Zester mengecup punggung tangan Oma Berta. "Jangan salah paham, lidah saya bisa memakan masakan lokal!"
Zester jadi trauma karena mengalami penolakan beberapa kali, dia harus menunjukkan kalau dia itu bukan sembarang bule.
"Saya juga mempelajari bahasa dari ayah mertua," lanjutnya.
"Asuuu, raimu..."
Zester berbicara dengan santainya yang membuat Ara menepuk jidatnya.
"Zee, jangan menyebutkan kata itu, tidak sopan," tegur Ara.
"Iyakah?" Zester harus memperbaiki kesan pertamanya.
"Oma Berta sungguh cantik, cantiknya seperti neng kono neng kene!"
Zester pernah mendengar kata-kata itu dan terdengar bagus pasti artinya adalah cantik.
"Ara, kau menemukan bule ini di mana?" tanya Oma Berta.