Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 53 - Game Over



Riri terlihat puas melihat tanda tangan Zester yang dibubuhkan ke surat perjanjian pra nikah mereka.


"Sesuai perjanjian kau harus memberikan file aslinya," ucap Zester menuntut.


"Aku tidak akan mengingkari janjiku," Riri mengambil sebuah flashdisk dari dalam tasnya kemudian memberikannya pada Zester di sana.


Bukan hanya menyerahkan file asli tapi di ponselnya pun, Riri langsung menghapus video Rebecca dan Ismail.


"Semuanya sudah clear, Zee," ucap Riri.


Zester berdecih dalam hatinya, memangnya dia tidak tahu kalau Marvin yang justru mempunyai file aslinya. Yang di tangan Riri hanya copy an, terpenting sekarang perempuan itu tidak bisa mengancamnya lagi.


"Kita akan menjaga rahasia ini sampai mati," lanjut Riri.


Zester menaikkan minumannya. "Kita rayakan ini!"


"Bersulang," Riri mendekatkan gelasnya pada gelas Zester sampai berbunyi dentingan dari benda kaca tersebut.


"Aku akan segera menyebarkan undangan pernikahan kita, Zee,"


"Lakukan apa yang seharusnya,"


"Jangan membuat alasan apapun termasuk alasan impoten itu, entah apa yang terjadi padamu waktu itu tapi saat malam pertama kita, aku akan berusaha keras membuatmu terkesan pada pelayananku,"


"Berkhayal lah sesuka hatimu,"


Setelah makan malam itu, mereka berpisah karena Zester beralasan akan menemui Rebecca.


"Apa kau akan menginap di mansion?" Riri memeluk dan mencium pipi Zester. "Kalau begitu, selamat malam. Kita akan bertemu lagi saat fitting baju pengantin!"


Zester hanya diam saja tapi saat masuk mobil, lelaki itu mengelap pipinya karena jijik.


"Ikuti dia, Mike!" perintah Zester kemudian.


"Baik, Tuan," asisten Mike segera melajukan mobil untuk mengikuti mobil Riri.


Sesuai dugaan, malam itu Riri melakukan party bersama teman-temannya. Perempuan itu memamerkan perjanjian pra nikah yang sudah ditanda tangani secara resmi oleh Zester.


Karena selama ini teman-temannya meragukan hubungannya dengan Zester.


"Sekarang kami percaya jadi mari kita rayakan!"


Teman-teman Riri memesan minuman beralkohol dan mereka juga memakai obat-obatan terlarang bersama.


Selang satu jam terdengar sirene polisi, party itu dihentikan dan semua yang ada di tempat itu ditangkap.


Beberapa obat-obatan ditemukan tapi Riri tidak merasa takut sedikitpun. Dia yakin tidak akan di penjara tapi hanya direhabilitasi saja. Zester akan berada di belakangnya.


Tapi, siapa sangka kalau Zester justru menjadi dalang dari penangkapan Riri malam itu.


Zester datang ke kantor polisi dengan tim kuasa hukumnya.


"Zee, akhirnya kau datang. Kau harus membebaskan aku, sesuai perjanjian pra nikah kita, kau akan melindungiku walaupun aku terjerat kasus hukum seperti sekarang," Riri meminta haknya di penuhi.


"Perjanjian ini?" Zester mengambil dokumen pra nikah kemudian merobeknya dan melempar sobekan itu di depan Riri.


"A... apa? Kau bisa aku tuntut karena melakukan ini!" Riri jadi geram karena merasa ditipu.


"Bagaimana rasanya ditipu? Itu juga yang aku rasakan, justru ini tidak ada apa-apanya dibanding yang aku rasakan," ucap Zester.


"Kau pikir aku datang kemari untuk membebaskanmu? Kau salah besar karena aku melakukan gugatan padamu karena percobaan pembunuhan yang kau lakukan di perusahaanku," lanjutnya.


Pupil mata Riri membesar mendengarnya, dia tidak menyangka Zester bisa menyerangnya seperti ini.


"Semoga kau menyadari kesalahanmu seumur hidup di jeruji besi," ucap Zester lagi sebelum pergi.


Dia akan menyerahkan semua kasus ini pada tim kuasa hukumnya.


"Zee!" teriak Riri ketika melihat lelaki itu menjauh.


"Aku akan kembali ke Bali dan tidak akan mengganggumu lagi, ampuni aku, Zee!"


Zester menulikan telinganya karena baginya, semuanya sudah game over.