
Ara belajar menyusui bayinya perlahan-lahan, ASI-nya mulai banyak dan baby Kaizen tampak kuat menyusu.
Kini tempat favorit Zester menjadi tempat ternyaman bagi baby Kaizen.
"Ingat ya, daddy hanya meminjamkannya selama dua tahun," ucap Zester yang setia berada di samping istrinya.
"Ish, memangnya punyaku koperasi simpan pinjam," balas Ara.
Karena masih bayi, baby Kaizen akan tidur setelah kekenyangan.
Ara dan Zester yang menjadi orang tua baru terus memandangi bayi mereka.
"Padahal aku kan yang mengandung tapi kenapa wajahnya sangat mirip dengan daddy nya," protes Ara.
"Namanya aku yang kerja keras sampai pinggang dan lututku sakit," ucap Zester bangga.
Bayi jaman sekarang pintar-pintar, belum seminggu saja tali pusar sudah lepas. Jadi, Ara mulai belajar memandikan bayinya sendiri.
"Kalau punya bayi laki-laki harus cepat-cepat tutup tytydnya memakai diapers supaya air mancurnya tidak mengenai kita," ucap Megan memberitahu. Dia cukup berpengalaman karena mengurus Agam dulu.
"Kalau memberi minyak telon atau lotion sambil dipijit-pijit supaya bayinya rileks," timpal Rebecca.
Keduanya masih tinggal karena enggan berpisah dengan cucu mereka.
Ara mengikuti instruksi kedua perempuan itu dan baby Kaizen sepertinya menikmati karena hanya diam saja.
Kalau pun menangis akan banyak tangan yang berebut menggendongnya.
"Hompimpa alaium gambreng!"
Theo, Zester dan Mike bermain hompimpa untuk mencari pemenang siapa yang akan menggendong baby Kaizen duluan setelah mandi.
"Aha! Aku yang menang!" seru Theo.
"Ayah mertua pasti curang, ayo ulangi lagi," Zester merasa tidak terima.
"Iya benar, kita kan masih pemula bermain seperti ini," timpal Mike.
Theo tersenyum smirk karena mau diulang seperti apapun, dia pasti akan menang. "Baiklah, kita ulang sekali lagi!"
"Hompimpa alaium gambreng!"
Lagi-lagi Theo yang menang, dia pun mengambil baby Kaizen untuk dibawanya berjemur di depan rumah.
"Ayo cucu opa, kita cari vitamin D!" Theo menggendong cucunya kemudian memakai kaca mata untuk berjemur.
"Kalian kan kalah main hompimpa," protes Theo. Dia ingin we time bersama cucunya.
"Tidak ada peraturan kalau tidak boleh ikut berjemur," balas Zester.
"Benar, kami juga butuh vitamin D!" tambah Mike.
Hal itu rupanya dilihat oleh Farah yang juga menjemur bayinya, perempuan tertawa kecil, dalam hatinya dia sangat iri pada Ara.
"Sepertinya bayi kita sudah cukup berjemurnya," ucap Zein yang membuyarkan lamunan istrinya.
"Ayo kita masuk!"
Zein tahu yang ada dipikiran istrinya dan dia tidak mau Farah merasa bayi mereka berbeda dengan bayi Zester dan Ara.
"Baiklah," balas Farah seraya menggendong bayinya masuk ke dalam rumah.
Bayi perempuan Zein dan Farah sangat cantik sekali, matanya bulat besar dengan hidung mancung, Shiren namanya.
"Kita memang tidak mempunyai orang tua tapi aku berjanji akan memberikan banyak cinta untuk putri kita," ucap Zein berusaha menghibur.
"Aku pegang janjimu," sahut Farah.
Pada saat itu, Farah mendengar suara Ara di belakang rumah memanggilnya. Jadi, dia memberikan bayinya pada Zein dan mendatangi Ara di belakang.
"Lama tidak bertemu," ucap Ara ketika melihat Farah.
"Baru juga seminggu," balas Farah seraya mendekati Ara di jembatan penghubung.
"Cobalah ini, masakan ibuku supaya bisa memperlancar ASI," Ara memberikan beberapa kotak makanan untuk Farah.
"Ya ampun, tidak perlu repot-repot," Farah jadi tidak enak.
"Ibuku masak banyak sekali, aku pikir tidak akan habis sendirian, sekarang anggap aku keluargamu juga," ucap Ara.
Sekarang Farah jadi mengerti kenapa Zein kukuh untuk menjodohkan anak mereka dengan keluarga Ara dan Zester, pasti supaya putri mereka bisa merasakan kehangatan keluarga itu.
Namun, bagaimana dengan Kaizen dan Shiren nantinya?
_
Kai bakal bucin sampe tulang sumsum dari orok😅