Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 97 - Sebentar Lagi



Sepertinya magang di kantor Zester memang bukan ide yang tepat, lelaki itu sering mencampur adukkan urusan pribadi seperti sekarang.


"Aku harus kembali Zee," ucap Ara yang tidak enak dengan teman-temannya.


Ara memencet tombol lift untuk turun tapi Zester menahannya.


"Apa lagi yang ingin kau lakukan, Yank?" tanya Zester.


"Maksudnya?" Ara tidak mengerti.


"Setelah lulus, apalagi yang ingin kau lakukan?" Zester memperjelas.


"Kau tidak berniat tinggal di kampung untuk mengambil alih pabrik beras ayahmu, 'kan?"


"Awalnya memang begitu rencananya," jawab Ara.


Pupil mata Zester membesar, sudah lelaki itu duga kalau Ara masih belum siap menikah dengannya.


"Tahun ini abang gantengmu ini sudah berumur 32 tahun loh," Zester mencoba mengingatkan.


Ara tertawa karena dia mengerti apa yang lelaki itu maksudkan, dia pun melingkarkan kedua tangannya di leher lelaki itu. "Tentu saja aku tahu, bagaimana aku bisa lupa!"


"Aku ingin mengambil beberapa tawaran iklan dan film yang selama ini aku tolak!"


"A... apa?" tanya Zester terbata.


"Tapi karena kesabaran pacarku yang setipis tisu, aku akan melakukan semua itu setelah menikah," lanjut Ara. Dia berjinjit dan mengecup Zester supaya mau melepasnya.


"Jadi, aku menunggu lamarannya, pak direktur!"


Rasanya Zester ingin berteriak dan meloncat kegirangan di sana. Akhirnya sebentar lagi dia bisa menjadi seorang suami.


"Aku juga bisa Mike," gumamnya mengingat daddy barunya itu.


Pasangan Rebecca dan Mike setiap hari seperti pengantin baru seperti pak kades dan bu kades, mereka ternyata memang mencontoh idola mereka.


Dan hal itu membuat Zester tidak tahan setiap bertemu mereka.


"Kalian tidak berencana membuat bayi, 'kan?" tanya Zester kala itu.


"Tentu saja tidak, umur mommy sudah tua walaupun bisa hamil pun sangat beresiko jadi kami memutuskan untuk mengurus anakmu nanti, Zee," jawab Rebecca.


Zester berdecak sebal mendengar itu. "Menikah saja belum tapi sudah request anak banyak, memangnya Ara mesin pencetak bayi!"


"Aku harus bertanya pada Ara, apakah dia mau mengandung anakku? Karena aku tidak mau egois!"


"Lagipula tujuanku menikah untuk mempunyai partner hidup, anak itu bonus jadi jangan terlalu berharap yang belum pasti!"


Rebecca dan Mike justru terharu mendengar pernyataan Zester itu, semakin kesini Zester sudah mulai berpikir dewasa, memang benar yang dikatakan lekaki itu.


Tujuan menikah memang mempunyai partner hidup bukan anak. Karena anak itu titipan dari Tuhan.


"Kami berencana ingin membangun yayasan panti asuhan, apa kau setuju, Zee?" tanya Rebecca yang mengubah topik pembicaraan.


"Maksud mommy?" Zester mulai ragu dengan pembahasan ini.


"Mommy ingin pensiun jadi mommy akan menyerahkan semua padamu," jelas Rebecca.


Hal ini pasti memang akan terjadi karena Zester adalah pewaris satu-satunya.


"Bisa tunggu sampai aku menikah?" tanya Zester.


Sudah diputuskan bahwa posisi presdir akan Zester duduki setelah lelaki itu menikah.


Sekarang Zester harus memikirkan lamaran yang tidak akan terlupakan untuk Ara.


Ketika Ara disibukkan dengan skripsi, gadis itu meminta cuti kerja supaya lebih fokus. Kadang Ara yang setres sering menangis di depan Zester.


"Aku sudah lembur semalaman sampai tidak tidur tapi dosennya justru tidak ada saat aku ke kampus," keluh Ara.


"Yah, kalau kuliah di Konoha memang begitu, Yank," tanggap Zester.


Walaupun begitu Zester tetap mendukung gadis itu dari belakang.


Sampai akhirnya sidang skripsi Ara lulus.


Yang paling bahagia bukan Ara tapi Zester dengan ularnya.


"Tenang ya, sebentar lagi pawangmu akan melihat kau yang keren," gumam Zester yang seolah berbicara pada ularnya.