
Ara meraba-raba bibirnya, kalau dipikir-pikir yang tadi itu adalah ciuman pertamanya. Selama ini dia selalu membayangkan ciuman pertama dengan romantis tapi sayang sekali ternyata ciuman pertamanya justru berakhir dengan penuh skandal.
"Sebenarnya aku tidak perlu melakukannya, bukan?" gumam Ara jadi menyesal.
Memang ya yang namanya penyesalan itu pasti datangnya belakangan.
Sekarang Ara jadi malu tapi dia harus berusaha baik-baik saja.
"Minum dulu," Zester tiba-tiba memberinya minuman kaleng dingin yang lelaki itu ambil dari kulkasnya.
Ara langsung mengambil minuman kaleng itu dan menghabiskannya tanpa mau melihat wajah Zester.
Enak saja bule lokal itu mencuri ciuman pertamanya tapi salahnya juga memberi umpan.
Bersamaan dengan itu, asisten Mike masuk untuk melaporkan keadaan kantor.
"Semua sudah kembali bekerja dengan normal, Tuan," lapornya.
"Bagus dan pastikan gosip kantor tidak tersebar keluar," Zester memberi perintah seperti itu supaya nama Ara tidak tercoreng sebagai pelakor.
Dia tidak mau sampai berita simpang siur terdengar di telinga pak kades, bisa-bisa Ara akan dibawa pergi dari hidupnya dan ularnya akan tidur selamanya.
"Saya akan berusaha mencari penyebar gosipnya," ucap asisten Mike.
Karena kantor sudah kembali kondusif kini Zester akan membicarakan masalah pribadinya dengan Ara.
"Jadi, apa alasan yang membuatmu setuju membatalkan pernikahanku?" tanya Zester.
"Karena kau akan menikahi orang yang salah," jawab Ara tanpa mau melihat wajah bingung lelaki itu.
Justru Ara membalik badannya karena dia benar-benar tidak mau melihat ekspresi Zester ketika dia mengatakan yang sebenarnya.
"Maksudnya apa?" tanya Zester.
"Kalau mau tahu maksudnya, balik badanmu dan kita bicara saling memunggungi badan," pinta Ara.
Karena mau cepat mendengar jawaban dari gadis itu, Zester menuruti permintaan Ara. Sekarang kedua anak manusia itu saling memunggungi satu sama lain.
"Jadi, apa?" tanya Zester lagi.
Zester diam dan menunggu kalimat selanjutnya.
"Karena yang menolongmu tiga belas tahun lalu adalah aku," ungkap Ara pada akhirnya.
"Apa!?" Zester tentu saja kaget setengah mati, dia sampai membalik badannya tapi Ara menolak berbicara kalau sampai mereka saling memandang satu sama lain.
Jadi, lelaki itu kembali pada posisinya.
"Bisa jelaskan lebih terperinci lagi?" pinta Zester sambil menahan debaran jantungnya yang berpacu sangat cepat.
"Aku tidak punya bukti tapi aku bisa menceritakan apa yang aku lakukan waktu itu, saat itu usiaku masih tujuh tahun dan aku melihatmu tampak linglung di pinggir pantai penginapan," Ara mulai bercerita dan Zester mendengarkan semuanya tanpa memotong cerita gadis itu.
Setelah Ara selesai bercerita, hanya ada keheningan yang membentang di antara keduanya.
Dia harus mengonfirmasi semua ini pada Riri tapi hatinya mengatakan kalau Ara bicara jujur.
Ara tidak merasa diuntungkan dengan keadaan dirinya justru Zester yang menjadi beban gadis itu. Dan ularnya sebenarnya sudah jadi bukti kuat.
"Tuan, saya mengundurkan jadwal hari ini karena nyonya besar ingin bertemu anda sekarang juga," asisten Mike tiba-tiba saja melakukan panggilan darurat.
Zester yakin kalau Riri sudah mengadu pada sang mommy.
"Ara, maukah kau ikut ke mansion keluargaku dan menceritakan semua di depan mommy ku?" tanya Zester.
"Apa dugong itu juga ada di sana?" tanya Ara memastikan.
"Siapa dugongnya? Riri?" Zester bertanya balik.
"Siapa lagi, bukankah ini seperti cerita putri duyung versi ular impoten?" balas Ara jadi kesal sendiri.
Zester tergelak, kali ini dia benar-benar membalik badannya dan memeluk Ara dari belakang.
"Kalau begini ceritanya, aku tidak usah sembuh juga tidak apa-apa asal ularnya berdiri di depanmu saja," bisik Zester di telinga gadis itu.
Ara sampai merinding mendengarnya. "Tapi, aku bukan tipe gadis yang suka membuat ular berdiri!"