
Agam berdiri di taman rumah sakit dengan kepala mengadah menatap langit, dia tengah melihat arwah Ismail yang terbang ke atas sana.
"Apa adikmu sering melakukan itu?" tanya Zester.
"Aku beberapa kali melihatnya seperti itu," jawab Ara.
Keduanya melihat Agam dari kejauhan dan tidak mengganggu pemuda itu karena mereka tahu ada yang dilihat oleh Agam.
Apalagi saat Agam melambaikan tangannya ke atas.
"Sepertinya pak Ismail sudah tenang karena istrinya sudah melahirkan," ucap Ara seraya menatap Zester di sana.
"Sebaiknya kau pulang, Zee!"
"Aku berencana akan pulang ke mansion," balas Zester.
"Kau ingin memperbaiki hubungan dengan mommy mu? Itu bagus," ucap Ara lagi.
Saat mereka akan pergi, mereka mendengar suara Bu Sutopo yang berlarian mengejar mereka.
"Tunggu!" teriak Bu Sutopo.
Ara dan Zester yang akan pergi mendatangi Agam, menghentikan langkah mereka. Mereka membalik badan dan mendapati Bu Sutopo berlari dengan nafas terengah-engah.
"Aduh, Bu. Kenapa berlari-lari seperti ini," tegur Ara.
"Tidak apa-apa," Bu Sutopo perhatiannya justru mengarah pada Zester.
Ternyata pikirannya selama ini salah, lelaki itu cukup baik walaupun kesan di awal terlihat buruk.
Bu Sutopo merasa bersalah atas apa yang dia katakan sebelumnya, dia ingin mencabut semua perkataan buruknya pada Zester.
"Semoga hidupmu dipenuhi oleh keberkahan dan kau mendapatkan semua yang kau inginkan, Nak," ucap Bu Sutopo dengan tulus.
Tiba-tiba ada petir kembali menyambar lagi yang membuat Zester merinding.
"Apa ini artinya kutukannya hilang?" batin Zester. Dia baru bisa tahu besok pagi kalau bangun tidur.
Sesuai dengan rencana awalnya, Zester pergi ke mansion keluarganya untuk menemui Rebecca. Dia ingin mengabarkan tentang kelahiran anak Ismail dan tunjangan setiap bulan untuk anak itu.
Rebecca mengangguk paham, dia pasti setuju untuk menebus rasa bersalahnya. "Semua akan diurus dengan baik, kau tidak perlu cemas!"
"Dan kasus Riri juga semua bukti sudah cukup untuk membawanya ke persidangan!"
Satu persatu masalah sudah terselesaikan, Zester tinggal menunggu kepastian tentang ularnya.
"Zee..." panggil Rebecca yang ingin membicarakan masalah pribadi mereka.
"Aku sudah memaafkan semuanya," ucap Zester. Dia tahu yang akan disampaikan sang mommy.
"Benarkah?" Rebecca merasa terharu. "Apa kau masih menjalin hubungan dengan Ara? Mommy sangat mendukungmu!"
"Apa yang mommy katakan sebelumnya itu tidak sesuai dengan kata hatiku!"
Rebecca masih berharap hubungannya dengan Ara bisa diperbaiki.
Dia tidak tahu kalau Zester juga tengah galau memikirkan hubungannya dengan anak pak kades itu.
Malam itu, Zester menginap di mansion dan tidur di kamarnya dulu. Kamar itu masih sama seperti dulu, banyak barangnya saat remaja masih ada di sana.
Zester membaringkan diri dan menatap langit-langit kamarnya yang tergambar ruang angkasa.
Karena lelah, lelaki itu ketiduran dan terbangun keesokan paginya karena ponselnya yang tidak berhenti berdering.
"Berisik," gerutunya. Zester ingin mematikan ponselnya tapi fokusnya jadi beralih pada sesuatu.
Zester sudah lama tidak merasakan ini, ularnya berdiri di pagi hari.
"Oh my God!" pekiknya histeris.
"Ternyata kutukannya benar-benar bilang," ucap Zester.
Bukannya senang, dia malah kembali uring-uringan karena misi ular Ara sudah selesai.
Kini dia bingung harus mencari alasan apa supaya bisa bertemu dengan gadis itu.
"Ini artinya aku harus melakukan pendekatan secara normal," gumam Zester yang harus berhenti bersikap cabul.