
Ara bersiap-siap untuk menonton konser musik di malam hari, kebetulan di Jepang tengah musim semi jadi dia bisa memakai baju santai.
"Bukankah kalau musim semi, bunga sakura akan bermekaran?" tanya Ara pada suaminya.
"Ya, kita bisa jalan kaki menuju tempat konser, di sepanjang jalan ada pohon sakuranya," jelas Zester.
"Benarkah?" Ara bertepuk tangan kesenangan..
Pasangan suami istri itu pun, berjalan berdua dengan bergandengan tangan untuk menikmati bunga sakura yang bermekaran.
"Sepertinya kita datang terlalu cepat, bunganya belum terlalu banyak," komentar Ara yang merasa bunga sakura belum lebat seperti di foto yang sering dia lihat.
"Kan memang baru masuk musim semi, lain kali kita akan kemari lagi, mungkin kita bukan berdua lagi," balas Zester membicarakan masa depan.
Ara mengulum senyumnya. "Apa kau ingin cepat menimang seorang anak?"
"Dulu aku tidak pernah berfikir sejauh ini tapi semenjak mengenalmu, aku jadi memikirkan banyak hal terutama usia ideal memiliki anak," jelas Zester.
"Karena lamaran dan menikah secara mendadak, aku justru belum memikirkan hal sejauh itu, aku hanya ingin menjalaninya saja," ungkap Ara.
"Itu wajar, apa aku terlalu egois, Yank?" tanya Zester.
Ara menggelengkan kepalanya, dia tidak habis pikir suaminya akan bertanya hal seperti itu. "Kenapa sadarnya baru sekarang?"
"Tapi, walaupun begitu aku tetap suka," lanjutnya.
Zester mengguyar rambutnya penuh percaya diri. "Lagipula siapa yang bisa menolak abang ganteng ini, 'kan?"
Mereka tertawa dan melanjutkan perjalanan ke tempat konser musik, konser itu begitu meriah. Zester dan Ara begitu menikmatinya.
Selama beberapa hari mereka menghabiskan waktunya untuk berjalan-jalan dan kuliner di Jepang.
Setelah puas, baru mereka pergi ke Korea dan melakukan hal yang sama.
Sampai tak terasa sudah lebih dari seminggu mereka berbulan madu.
"Besok kita pulang dengan penerbangan pagi, Yank," ucap Zester seraya memberikan istrinya segelas kopi.
Keduanya kini tengah menikmati pesta kembang api di sebuah taman hiburan.
"Thanks," Ara menerima kopi itu dan langsung meminumnya.
"Jadi, malam ini adalah malam terakhir bulan madu?"
"Ya begitulah," jawab Zester. Dia merangkul istrinya.
"Kalau kaca refleksi memangnya kenapa?" tanya Ara tidak mengerti.
"Artinya dari luar tidak bisa melihat apa yang ada di dalam tapi sebaliknya kita bisa melihat yang ada di luar," jelas Zester.
Kalau itu Ara juga tahu, pasti ada maksud tersembunyi suaminya mengatakan hal seperti itu.
"Kok perasaanku jadi tidak enak, ya," batin Ara.
Ternyata memang benar, Zester tengah meminta sesuatu pada istrinya sebagai kenang-kenangan malam terakhir bulan madu mereka.
Zester ingin melakukannya sambil berdiri dan menempel di dinding kaca dengan background pemandangan kota Seoul.
Bahkan lelaki itu sampai melakukan push up sebanyak 100 kali.
"Aku harus menonjolkan ototku dan menunjukkannya dengan baik pada istriku," gumam Zester di tengah push up yang dia lakukan.
Ketika Ara keluar dari kamar mandi, jantung keduanya berdebar kencang sekali.
"Apa kau yakin, Zee? Aku malu," ungkap Ara.
"Kenapa malu? Tidak ada yang bisa melihat kita," bujuk Zester. Dia mendekati Ara dan mencoba memberi rangsangan di daerah sensitif istrinya.
"Cukup kunci kakimu di pinggulku, Yank. Nanti aku yang akan mengangkat tubuhmu!"
Zester benar-benar mencoba semua gaya sesuai instruksi daddy Mike, entah bagaimana hasil cetakannya nanti.
Dan Ara dengan pasrah dililit ular bule terus-menerus.
_
Entah gimana tuh calon baby bulemu, Zee. Dibuat dengan berbagai macam gaya🙈
Othor bawa rekomendasi karya baru dari bunda Lunoxs
Judul : Dream Wedding
Napen : Lunoxs
Silahkan diserbu...