
"A-- apa yang mau kau lakukan?" tanya Ara jadi gugup.
Zester semakin merapatkan tubuhnya ke dinding sampai posisi mereka pepet maksimal.
"Nanti ada yang melihat," Ara mencoba mendorong dada lelaki itu.
Mereka saat ini berada di lorong lantai unit Zester yang biasanya dilewati untuk naik turun lift.
Saat tangan Ara mencoba mendorong, Zester menangkapnya dan mata lelaki itu terus menatap Ara tanpa berkedip.
"Apa kau tahu perasaanku saat tahu kalau ternyata selama ini aku akan menikahi perempuan yang salah?" tanya Zester.
"Aku marah, kecewa, sedih, semua campur jadi satu tapi..."
"Semua tergantikan karena ternyata kau lah penyelamat asliku, aku senang sampai rasanya mau gila. Jadi, mau kah kau menerima janjiku Ara? Aku akan menikahimu saat semua masalahku selesai!"
Entah apa yang ada dipikirkan Zester sekarang tapi Ara tidak bisa begitu saja menerimanya.
"Apa kau juga ingin tahu perasaanku saat tahu kalau kau membuat janji seperti itu?" balas Ara.
"Aku terus-terusan berpikir, apakah harus memberitahumu tentang kebenaran yang terjadi karena janjinya akan berbalik padaku,"
"Aku masih ingin kuliah dan melakukan banyak hal, menikah sangat jauh dari pikiranku jadi setelah semua selesai, aku harap kau membatalkan janji itu!"
Zester merasa tidak percaya Ara tengah menolaknya setelah apa yang mereka lalui bersama. Apa memang Ara tidak menyimpan sedikitpun perasaan padanya?
"Padahal kau bisa saja tidak memberitahuku dan menyimpannya sendiri, kau bisa membiarkanku menikahi Riri tapi kau justru menguak fakta yang ada. Itu artinya kau peduli padaku," ucap Zester yang masih berharap.
"Seperti yang aku bilang sebelumnya, aku tidak ingin ada parasit yang memanfaatkan keadaan bukan berarti aku menerima janji itu," sahut Ara supaya Zester mengerti.
"Tapi pelukan, ciuman dan perhatian yang kau berikan padaku, aku tidak bisa melupakannya justru aku berharap lebih dari semua itu. Anggap saja aku serakah, aku pasti bisa membahagiakanmu," Zester sampai berlutut di depan gadis itu.
"Tidak apa-apa kau belum siap menikah, kita tunggu sampai kau lulus, aku tidak akan membatasi kegiatanmu, aku hanya ingin kau jadi milikku!"
"Jangan seperti ini," Ara mencoba membuat Zester berdiri lagi.
"Kita pikirkan masalah ini nanti dulu, sekarang fokus saja pada masalah utamanya!"
Ketika Zester sudah berdiri, dia langsung memeluk Ara erat sekali. Dia tidak mau kehilangan gadis itu, dia langsung sadar kalau sudah jatuh hati pada anak pak kades.
"Ara, apa kau merasakan debaran jantungku? Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, pikiranku juga jadi kosong, apa kau bisa menjelaskan perasaan ini?" tanya Zester.
Kemudian lelaki itu melepas Ara dan mencium kening gadis itu.
"Jangan buru-buru menolakku, okay," pinta Zester.
"Kalau seperti ini kau tidak kelihatan menyebalkan tuan direktur. Baiklah, aku akan memberimu kesempatan," ucap Ara. Tidak ada salahnya dia mencoba membuka hati.
"Aku pasti akan berusaha sebaik mungkin," Zester mendekat lagi dan mengecup leher Ara.
"Apa yang kau lakukan? Ini geli..." Ara berusaha memberontak tapi Zester begitu kuat jadi dia kalah tenaga.
"Diamlah, aku hanya akan membuat satu atau dua saja supaya terlihat nyata," ucap Zester seraya membuka mulut dan menghisap leher gadis itu.
Tentu saja Ara berteriak tapi tidak terlalu keras karena takut ada yang melihat perlakuan mesum Zester.
Saat berhasil membuat tanda, Zester buru-buru pergi meninggalkan Ara karena ularnya yang mulai memberontak.
Zester masuk kembali dalam unitnya dan mengeluarkan ularnya yang terasa sesak di celana.
Sudah lama dari terakhir kali ular itu bangun, sekarang bekas sunatnya sudah benar-benar mengering.
Dia sampai takjub dengan bentuk baru ularnya.
"Astaga, ini semakin keren," gumam Zester merasa kagum.