Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 36 - Skinship Terus



Terjadi kesepakatan, Zester akan membawa keluarga Bu Sutopo kembali ke kota sampai keadaan mental Bu Ismail kembali pulih.


Zester sampai melupakan tentang keadaan ularnya.


"Mike yang akan mengurus semuanya," ucap Zester pada Ara ketika mereka akan pulang.


Sebenarnya Bu Sutopo menolak keras bantuan dari Zester, dia tidak mau berhubungan lagi dengan perusahaan tempat anaknya bekerja.


Usut punya usut ternyata Bu Sutopo mengalami pengancaman sampai tidak jadi membeli warung bakso, wanita paruh baya itu memilih membeli rumah di daerah terpencil.


"Siapa yang mengancam Bu Sutopo? Dan anehnya setelah aku selidiki semua berkas dan bukti saat kejadian juga dimusnahkan padahal dari rekaman cctv memang itu pure kecelakaan kerja," komentar Ara.


"Kenapa harus takut kalau tidak salah?"


Zester hanya diam saja karena semua kasus ini atas kendali sang mommy.


"Apa ada hubungannya dengan presiden direktur?"


Ara mencoba mengimbangi langkah Zester yang mendahuluinya kemudian gadis itu menangkap lengan Zester supaya memelankan langkah kakinya.


"Ada apa?" tanya Ara bertubi-tubi.


"Aku ingin istirahat dulu," jawab Zester.


"Apa aku perlu membuka tenda lagi?" tanya Ara.


Zester menggelengkan kepalanya. "Aku akan memesan kamar hotel saat perjalanan pulang!"


"Kamar hotel?" gumam Ara.


Gadis itu pikir Zester akan memesan dua kamar tapi nyatanya, Zester hanya memesan satu kamar saja.


"Apa kau bercanda? Aku akan memesan satu lagi," Ara tidak mau satu kamar dengan lelaki itu.


"Hanya tersisa satu kamar, tenang saja aku tidak akan macam-macam," bujuk Zester.


Mengingat Zester yang setia, sepertinya lelaki itu memang bisa menguasai dirinya. Jadi, Ara setuju satu kamar tapi dia harus tetap hati-hati.


Saat masuk kamar hotel, Zester dan Ara mandi bergantian kemudian mereka makan mie cup di balkon hotel berdua sambil menikmati pemandangan.


"Nothing, aku biasanya tidak pernah peduli dengan orang lain jadi hari ini aku melakukan sesuatu yang tidak biasa," balas Zester.


"Itu kemajuan, setidaknya kau lebih peka setelah ini kau harus membalas salam dari para karyawan kantor dan lebih baik pada mereka," ucap Ara.


Mereka tidak membahas presiden direktur karena hal itu akan membuat mood Zester memburuk, biar lelaki itu yang bercerita sendiri pada Ara.


"Jadi, kita akan menginap semalam di sini?" tanya Ara.


"Kalau pak kades tahu, kau bisa disunat ulang!"


"Aku kan tidak macam-macam, paling cuma peluk dan cium," balas Zester tanpa beban.


"Itu juga tidak boleh, kita kan hanya partner misi ular," Ara memberi peringatan.


"Tapi, kau sepertinya butuh kehangatan seperti di tenda," Zester tidak mau kalah.


"Pokoknya kita tidur harus ada batasannya, tidak boleh ada ada skinship diantara kita," tegas Ara.


Jadi, malam itu Ara meletakkan guling di tengah sebagai batas.


"Selamat malam," ucap Ara seraya membaringkan diri dan membelakangi Zester.


Karena lelah, Ara dengan mudahnya tertidur dan diam-diam Zester mencuri kesempatan, dia menjauhkan guling kemudian memeluk Ara dari belakang.


Tangannya melingkar diperut Ara dan wajahnya berada di puncak kepala gadis itu karena tubuhnya yang tinggi.


"Terima kasih," ucap Zester sebelum memejamkan matanya.


Pagi harinya, kedua anak manusia itu sudah berpindah posisi dengan saling memeluk dari depan.


"Gulingnya hangat," gumam Ara yang masih tidak sadar.


_


Othor : Awas mbak Ara nanti dililit ularnya Bulok🙈