
Theo tetap pergi ke kota bersama Megan walaupun Ara sudah melarangnya. Mereka pergi tanpa Agam karena anak itu harus sekolah.
"Aku harus memeriksa sendiri keadaan putriku," ucap Theo yang tidak tenang sebelum melihat Ara dengan mata kepalanya sendiri.
"Akun sosial mediaku mendapat banyak pesan masuk karena berita itu," balas Megan. Dia sementara menonaktifkan ponselnya karena keadaan Ara jauh lebih penting.
Mereka berencana membawa Ara kembali ke kampung.
Namun, Rebecca ternyata bertanggung jawab penuh pada gadis itu.
Rebecca memberikan pengawalan pada Ara dan juga dokter pendamping karena takut gadis itu mengalami trauma pasca penembakan.
"Kita yang artis saja tidak sampai seperti ini," komentar Theo ketika melihat di depan pintu apartemen ada beberapa bodyguard yang berjaga.
"Itu artinya keluarganya tanggung jawab pada putri kita," sahut Megan. Dia kemudian berbicara pada salah satu bodyguard kalau mereka adalah orang tua Ara.
Ketika Theo dan Megan masuk, Ara tengah tertidur tapi di dalam sana ada dokter yang menjaganya.
Dokter itu mengatakan kalau Ara hanya terguncang saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Terima kasih, Dok," ucap Theo.
Akhirnya dokter itu pergi karena sudah ada yang menjaga Ara di sana.
"Tidak demam," Megan memeriksa suhu tubuh putrinya itu.
"Biarkan Ara istirahat sayang," Theo tidak mau mengganggu Ara yang tertidur pulas. Pasti sebelumnya gadis itu kesulitan memejamkan mata.
Setelah keluar dari kamar Ara, Megan mengajak Theo untuk melihat keadaan Zester.
"Tadi aku sempat bertanya pada bodyguard di depan, katanya operasi calon menantu kita berjalan lancar hanya saja dia masih belum sadarkan diri dan masuk ruangan ICU," jelas Megan.
"Mau bagaimana lagi, aku ada di kubu Ara-Ara Kimochi, Agam juga," balas Megan.
"Jadi, kau kalah vote pak kades," tambahnya.
Theo mendudukkan dirinya sambil membayangkan wajah Zester yang suka gila apalagi tatapannya pada Ara seperti laki-laki kebelet kawin. Dia pernah muda dan jatuh cinta jadi tahu apa yang ada di pikiran Zester.
"Mereka tidak akan cepat menikah, 'kan? Ara masih kecil," ucap Theo tidak siap anak gadisnya diambil darinya.
"Ara itu kan gadis mempunyai prinsip, kalau calon menantu kita tulus pasti mau menunggunya," Megan ikut duduk di samping suaminya dan memeluk lelaki yang usianya jauh lebih muda darinya itu.
"Dan semua orang itu pasti berbeda, entah itu bule atau lokal. Tidak semuanya orang bule tidak baik begitu juga yang lokal belum tentu baik semua, kau pasti mengerti maksudku, 'kan?"
"Semenjak hidup bersamamu dan Ara apalagi lahir Agam, aku sudah melupakan trauma itu jadi jangan khawatir,"
Megan berusaha membujuk suaminya dan akhirnya Theo luluh juga.
Keesokan harinya, Theo dan Megan pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Zester.
"Apa kita perlu menyambut mereka dengan karpet merah?" Rebecca kalang kabut sendiri mendengar idolanya akan datang.
"Tenang, tenang..."
Rebecca harus terlihat biasa saja walaupun hatinya tidak tenang.
Dan hal itu tidak bertahan lama karena nyatanya saat melihat idolanya datang, Rebecca jadi gemetaran.
"Sebaiknya Nyonya istirahat saja, biar saya yang menyambut mereka," ucap Asisten Mike yang akhirnya tidak tahan melihat Rebecca salah tingkah.
"Tidak, aku harus menyambut mereka tapi kakiku tidak bisa bergerak, bagaimana ini?" Rebecca merasa tidak bertulang lagi.