
Akhirnya Zester tidak jadi pergi ke kampus Ara maupun ke perusahaan tapi dia pergi ke rumah sakit di mana Bu Ismail dirawat.
Karena sibuk dengan urusan Riri sebelumnya, Zester tidak sempat melihat perkembangan Bu Ismail secara langsung.
Bu Ismail memang dirawat di rumah sakit jiwa tapi mendapat pelayanan VIP jadi tidak bergabung dengan pasien lainnya.
"Bagaimana dengan keadaannya?" tanya Zester pada dokter yang menangani Bu Ismail.
Dokter itu menjelaskan bahwa Bu Ismail sudah mengalami perkembangan, perempuan itu sudah mau memperhatikan kehamilan dan menyayangi calon bayinya lagi.
Setelah mendengar berita baik itu, Zester ingin melihat keadaannya langsung.
Zester berjalan di koridor rumah sakit itu bersama dengan Agam.
"Kenapa?" tanya Zester ketika Agam mencengkram jas yang dia pakai. "Apa kau melihat sesuatu yang mengerikan?"
Agam menganggukkan kepalanya, kebanyakan orang-orang yang mempunyai gangguan jiwa di rumah sakit itu diikuti oleh sesuatu yang tak kasat mata.
"Jangan dilihat," Zester akhirnya menggunakan satu tangannya untuk menutup mata Agam.
Dan tangan lainnya untuk menuntun anak laki-laki pak kades itu.
Sampai mereka akhirnya sudah berada di ruangan Bu Ismail, di sana ada Bu Sutopo yang setia menjenguk menantunya setiap hari.
"Apa kabar?" tanya Zester.
"Kabar kami baik, semenjak mendapat perawatan, menantuku sudah mulai diajak bicara," jawab Bu Sutopo.
Bersamaan dengan itu, beban di pundak Zester menghilang karena arwah Ismail yang berpindah mendekati istrinya.
Zester menggoyangkan bahunya perlahan karena merasa lebih ringan.
"Arwahnya pindah, dia ingin minta maaf pada istrinya," bisik Agam.
"Jadi, apa perantaranya aku?" Zester memastikan.
Kalau Agam menganggukkan kepala artinya Zester harus bicara pada Bu Ismail dan benar saja, Agam memberi kode itu.
Sebagai bentuk tanggung jawabnya, Zester mencoba berbicara pada perempuan hamil itu dan meminta maaf atas nama Ismail. Semoga dia setres bukan karena mengetahui skandal Ismail dengan ibunya.
"Jangan khawatir, saya akan menanggung biaya hidupnya sampai anak itu nanti kuliah," ucap Zester tampak meyakinkan.
Entah apa yang membuatnya jadi begitu peduli seperti ini, bahkan Zester tidak tahu bagaimana nasib ke depannya kelak.
Kalau pun dia bangkrut, Zester akan menjual aset-asetnya, yang terpenting bayi tak berdosa itu mempunyai masa depan yang cerah.
"Aku melihat perutnya bercahaya," bisik Agam lagi.
Sedetik kemudian Bu Ismail merasakan sakit luar biasa, ternyata dari kemarin perempuan itu sudah mengalami kontraksi palsu.
"Sepertinya bayinya mau lahir, bagaimana ini?" Zester jadi panik. Ini adalah pengalaman pertamanya berhadapan dengan perempuan yang akan melahirkan.
"Tenang, Tuan. Biar saya yang menanganinya," Asisten Mike mencoba mengambil alih. Dia meminta bantuan para perawat untuk menaikkan tubuh Bu Ismail ke atas bankar kemudian membawanya masuk mobil ambulance.
Mereka akan membawa Bu Ismail ke rumah sakit bersalin.
Perkiraan melahirkan dua minggu lagi ternyata bayinya ingin keluar lebih cepat.
Zester dan Agam mengikuti mobil ambulance dari belakang sementara Asisten Mike dan Bu Sutopo ikut masuk ke dalam mobil ambulance.
Sepanjang perjalanan, Zester harap-harap cemas.
Ketika sampai di rumah sakit bersalin, Bu Ismail langsung dibawa ke ruang persalinan dan perempuan itu menunjuk Zester untuk menemaninya melahirkan.
"Saya bukan suaminya dan saya tidak bisa melihat orang melahirkan," tolak Zester.
"Keselamatan ibu dan bayi jauh lebih penting," ucap salah satu perawat yang membantu proses bersalin.
"Saya mohon selamatkan menantu dan cucuku," pinta Bu Sutopo.
Zester sungguh dilema tapi pada akhirnya dia masuk ke ruang bersalin dan Bu Ismail langsung mencengkram tangannya.
"Sakit... Sakit..." keluh Bu Ismail.
"Saya juga sakit, saya masih perjaka tapi harus melihat proses melahirkan," ucap Zester yang pasrah dengan nasibnya.