Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 58 - Curhat



Megan menyisir rambut Ara seperti biasanya, awalnya gadis itu menolak karena takut bekas tanda merahnya ketahuan karena belum sepenuhnya hilang.


Tapi, kalau Ara menolak terus justru Megan semakin curiga.


"Jadi, pria tadi yang membuatnya?" tanya Megan tiba-tiba.


"Apa maksud ibu?" tanya Ara mulai takut.


"Di lehermu, apa pria bule itu yang membuatnya?" tanya Megan lebih jelas.


Perempuan itu sudah banyak pengalaman jadi langsung tahu saat pertama kali melihat bekas tanda cinta Zester untuk Ara.


"Ini..." Ara tidak menyangka kalau ibunya akan langsung tahu. "Bukan seperti yang ibu bayangkan!"


"Ibu percaya kok," balas Megan dengan yakin.


Ara membalik badannya supaya bisa melihat Megan, bukannya marah ibunya tampak biasa saja.


"Ibu mengenal Ara dengan baik jadi ibu percaya," ucap Megan lagi supaya Ara semakin yakin.


"Hal ini sudah kami bahas sebelumnya, ibu dan ayah tidak akan terlalu ikut campur untuk hal pribadimu!"


"Tapi yang dilakukan ayah?" tanya Ara yang merasa Theo tengah menentangnya.


"Ibu belum cerita ya..." Megan mendudukkan diri di samping putrinya. "Ayahmu tidak suka dengan bule karena dia mengingat perlakuan grandpamu!"


"Ini adalah aib, kami berusaha menutupnya rapat-rapat tapi sepertinya Ara harus tahu supaya tidak salah paham,"


"Grandpamu memilih menjadi transgender kemudian bercerai dengan Oma, hal itu membuat ibu hidup tak tentu arah sebelum bertemu dengan ayahmu,"


"Oleh karena itu, ayahmu tidak suka dengan bule!"


Megan menjelaskan alasan yang sebenarnya dan Ara langsung memeluk ibunya, dia baru tahu hal ini.


"Aku benar-benar bingung, Bu. Aku merasa Zee mendekatiku karena ada maunya bukan benar-benar mencintaiku," Ara akhirnya curhat dengan Megan.


"Selain janji itu sebenarnya ada sesuatu, Zee itu..." Ara mendekat dan berbisik di telinga ibunya. "Impoten!"


"Impoten?" Megan rasanya tidak percaya.


Akhirnya dia bisa bercerita, rasanya sangat lega. Ara ingin sebuah solusi.


"Ternyata ini alasan dia seperti kebelet kawin begitu," ucap Megan sudah mulai mengerti.


"Apa anak ibu merasa terbebani?"


"Tentu saja, dia terus mengejarku dan berusaha dekat denganku setiap waktu bahkan dia beli unit apartemen tepat di lantai bawah penthouse ini," balas Ara.


Melihat putrinya yang selalu tidak enak hati pada orang pasti Ara terjebak dengan itu.


"Kau harus tegas, ibu juga tidak mau kalau anak ibu dinikahi hanya karena dia bisa berdiri jika bersamamu," ucap Megan.


"Nah kan, tapi Zee tidak mengerti, dia justru semakin gila," keluh Ara. Gadis itu membaringkan diri dan memeluk guling.


Bersamaan dengan itu, pintu kamar Ara diketuk oleh Theo yang membuat pembicaraan anak dan ibu terputus.


"Sayang..." panggil Theo.


Karena mereka datang untuk urusan pekerjaan, Megan harus pergi.


"Ibu pergi dulu, nanti kita bicara lagi. Jaga Agam, okay," Megan mengecup kening Ara sebelum keluar dari kamar.


"Jangan sampai ayah tahu masalah impoten itu," pinta Ara.


"Memangnya ibu itu Budhe Juminten, ibu bisa menjaga rahasia," balas Megan yang membicarakan perempuan kontroversial di kampung Suka Maju.


Setelah kepergian Megan, Ara merenung seorang diri. Dia memang harus tegas pada Zester supaya lelaki itu tidak semena-mena padanya.


"Bagaimana kalau aku minta putus? Tapi kan kami tidak ada hubungan apa-apa, fokus saja pada ularnya supaya sembuh," gumam Ara.


_


Yang belum baca cerita Megan dan Theo, judulnya Hidden Husband cari di profil othor.


Silahkan dibaca bagi yang ingin masuk ke dunia lato2 dan tutorial lengkap proses pembuatan Mbak Ara yang antimainstream🤣