Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
BAB Spesial - Kaizen & Shiren



"Kai... Kai..." panggil Shiren dari jendela kamarnya.


Kebetulan kamar mereka memang berseberangan bahkan mereka mempunyai tali penghubung untuk mengirim sesuatu jika penting.


Kaizen pada saat itu baru saja mandi dan belum memakai baju, hanya celana pendek saja yang pemuda tujuh belas tahun itu kenakan.


"Ada apa? Pagi-pagi sudah memanggil," ketus Kaizen. Dia selalu bersikap dingin dengan anak gadis tetangga itu padahal aslinya bucin maksimal.


Kaizen sengaja supaya perasaannya tidak ketahuan, mereka lahir di hari yang sama dan tumbuh bersama. Dari kecil Kaizen sudah menyukai Shiren tapi gadis itu tidak peka sama sekali.


"Aaaa..." teriak Shiren. "Kenapa tidak memakai baju?"


"Bilang saja kau suka," balas Kaizen.


Sebenarnya bukan kali pertama gadis itu melihat Kaizen bertelanjang dada.


"Aku mau meminjam buku biologi, bukuku ternyata tertinggal di kelas dan ada PR yang belum aku kerjakan," ucap Shiren kemudian.


Kaizen tidak membalas apapun tapi dia mencari buku biologinya yang tampak masih bersih lalu dia masukkan di dalam ember yang terhubung dengan tali.


Pemuda itu memutar katrol yang membuat ember bergerak ke arah kamar Shiren.


"Aku akan menukarnya dengan bukuku, Kai!" Shiren berkata seperti itu setelah mendapatkan buku dari Kaizen.


"Terserahmu, setengah jam lagi kau harus sudah siap!" balas Kaizen yang lagi-lagi masih ketus. Dia memang biasanya membonceng Shiren memakai motornya untuk berangkat sekolah.


"Baiklah, aku akan mengerjakan PR ku dengan cepat!" seru Shiren.


Ketika jendela kamar Shiren tertutup, Kaizen langsung memegang dadanya. Gadis itu selalu saja membuatnya berdebar.


"Sial! Shiren semakin cantik setiap hari, awas saja kalau dia pacaran dengan orang lain," gerutu Kaizen. Dia bersiap-siap untuk berangkat sekolah dengan memakai seragam mahalnya.


Shiren memang keturunan campuran Arab, mempunyai mata besar yang cantik, kulit putih dan hidung yang mancung.


Sementara Kaizen sendiri mengikuti gen sang daddy yang mempunyai wajah bule, pemuda itu menjadi incaran para gadis selain tampan, dia juga pewaris Zesla Group.


"Kai, sarapannya sudah siap!" Ara memanggil putranya.


Kaizen segera mengambil tas dan kunci motornya lalu turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama keluarganya.


Di meja makan sudah lengkap ada Zester, Ara dan adik perempuannya, Jennie.


"Makan dengan benar!" Kaizen mengacak rambut adiknya itu yang tengah menyuap nasi goreng.


"Ish, kakak! Rambutku jadi berantakan," protes Jennie.


"Pagi-pagi jangan berkelahi," tegur Zester. Kedua anaknya itu memang jarang akur.


Ara menuangkan nasi goreng ke piring Kaizen. "Semoga nilai putraku naik setelah makan nasi gorengku!"


"Mom..." Kaizen merasa tersindir karena nilainya selalu dibawah angka 50. Dia memang tidak suka belajar.


"Setidaknya naiklah jadi 60!" pinta Ara.


"Baiklah, nanti aku akan mencotek Shiren," balas Kaizen dengan santai.


Ara menggelengkan kepalanya, mempunyai anak remaja memang susah-susah gampang.


Suasana mendadak hening karena keluarga kecil itu tengah menikmati sarapan, walaupun keluarga bule tapi lidah mereka adalah lidah lokal seperti Ara.


"Aku berangkat duluan!" pamit Kaizen setelah selesai.


Pemuda itu buru-buru ke garasi rumah untuk mengambil motor besarnya lalu dia juga mengambil satu helm berwarna pink milik Shiren.


Kaizen membunyikan klakson motor di depan rumah Shiren dan gadis itu tak lama keluar.


"Apa sarapanmu hari ini, Kai?" tanya Shiren basa-basi.


"Jangan tanya hal tidak penting, cepat naik!" balas Kaizen seraya memberikan helm pink di tangannya.


Shiren berdecak sebal, dia segera naik ke jok belakang dan memakai helmnya.


Beberapa detik kemudian, Kaizen melajukan motornya dengan kencang. Momen yang paling dia tunggu adalah ketika lampu merah menyala.


Kaizen akan mengerem mendadak sampai membuat Shiren yang duduk di belakang maju dan menempel di punggungnya.


"Kai..." protes Shiren dengan memukul lengan Kaizen.


"Khilaf," ucap Kaizen tanpa dosa.


"Khilaf tapi setiap hari, itu namanya doyan," balas Shiren jadi kesal.