Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 113 - Hawa Pengantin Baru



Setelah kepulangan Ara dan Zester dari bulan madu, pasangan itu tinggal di apartemen lama Zester untuk sementara.


Karena apartemen itu jaraknya lebih dekat dengan kantor Zester.


Rumah yang dibangun Zester masih belum sepenuhnya jadi, masih tahap penyelesaian. Padahal Rebecca meminta mereka untuk tinggal di mansion.


Namun, Zester menolaknya.


Walaupun Rebecca menyayangi menantunya tapi tetap saja membuat Ara tidak akan nyaman jika tinggal bersama.


Lagipula Zester tidak akan leluasa bermesraan dengan istrinya.


Biasanya di pagi hari yang membangunkan tidurnya adalah suara alarm tapi sekarang kecupan dari istri dan aroma sabun mandi Ara yang selalu memanjakan indera penciuman Zester.


"Morning," ucap Zester sambil memeluk Ara.


"Bangunlah, hari ini kau harus kembali bekerja, Zee!" Ara berusaha membangunkan suaminya sedari tadi.


"Aku tidak ingin pergi," Zester masih ingin menikmati waktu berdua dengan istrinya.


"Kita masih punya banyak waktu," bujuk Ara.


Mau tidak mau, Zester harus berangkat kerja hari ini. Biasanya dia akan memilih setelan baju sendiri tapi di walk in closet sudah ada satu set pakaian kerja pilihan Ara.


Zester memakainya dan keluar dari kamar, pemandangan yang dilihatnya adalah Ara yang tengah menyiapkan sarapan.


"Sudah selesai?" Ara mendekati suaminya dan mencoba membantu memasangkan dasi.


"Suamimu tampan, 'kan?" tanya Zester.


Ara mengulum senyumnya. "Orang tampan itu tidak butuh pengakuan kalau tampan!"


"Kau selalu saja pintar bermain kata," Zester langsung mengecup istrinya.


"Ayo sarapan! Aku membuat nasi goreng," ajak Ara sambil menggandeng tangan suaminya ke meja makan.


Zester selama ini jarang sarapan dengan menu berat tapi kalau buatan istrinya, dia akan menghargainya.


"Bagaimana?" tanya Ara.


"Enak," jawab Zester seraya menyuap telur setengah matang ke mulutnya.


"Apa kau benar akan mengambil tawaran iklan itu, Yank?" tanya Zester memastikan.


"Kita kan sudah membahasnya, aku akan mengambil beberapa saja," jawab Ara. Dia tidak suka menjadi pengangguran.


"Yang harus kau ingat, suamimu itu punya banyak uang jadi jangan terlalu bekerja berlebihan," ucap Zester.


"Kalau mau, kau bisa menghabiskan semua uangku, Yank!"


"Kau tahu ini bukan tentang uang, 'kan?" balas Ara.


Bagaimana pun Zester harus menghargai keputusan istrinya. Nyatanya Ara tetap bisa membagi tugasnya jadi Zester tidak masalah.


"Weekend kita bisa melihat rumah kita," ucap Zester sebelum pergi.


Ara mengangguk dan memeluk suaminya. "Sampai bertemu nanti siang!"


"Belum pergi, aku sudah merindukanmu," Zester mencium Ara dengan panas sebelum keluar dari unit apartemennya.


Karena tidak mau keblabasan, Zester segera pergi atau Ara akan berakhir terkapar di atas ranjang.


Hari itu, Zester kembali disibukkan dengan pekerjaan. Sementara Ara pergi ke agensi untuk melakukan rapat dan tanda tangan kontrak dengan beberapa brand yang memakai jasanya untuk iklan.


Walaupun tidak punya pengalaman tapi Megan sudah mengajari Ara di depan kamera jadi gadis itu tidak merasa canggung.


"Kita akan melakukan beberapa syuting iklan dan pemotretan dengan produk," jelas pemilik brand kosmetik pada Ara.


"Baiklah, saya akan datang saat jadwalnya nanti," balas Ara. Gadis itu tampak puas karena bisa bekerja tanpa backingan dari Zester atau orang tuanya.


"Aku harus menemui, suamiku!"


Ara pergi ke perusahaan Zester dan mereka makan siang bersama di kantor.


Setelah makan siang, seperti biasa Zester akan mengajak bermain kuda-kudaan sebentar. Hawa pengantin baru masih terus menggebu-gebu.


"Zee, ini masih di kantor," Ara merasa tidak nyaman.


"Justru itu Yank, semakin menantang!" Zester setidaknya ingin mencoba di atas meja kerjanya.