
Zester melihat pemandangan indah di depan matanya, di mana dua benda favoritnya tengah naik turun dan hal itu membuatnya sangat gemas.
Tangannya dengan nakal meremas dua benda bulat itu, sangat pas dengan genggaman tangannya.
Ukurannya yang masih ranum membuatnya bersemangat untuk menghisapnya.
"Akh! Zee..." Ara yang tengah bekerja jadi tidak fokus karena ada bayi besar yang tengah bermain dengan bukit kembarnya. Dia sangat geli dan belum terbiasa diperlakukan seperti itu.
Apalagi tangan Zester sekarang bergerilya di pinggulnya dan membimbingnya untuk bergerak lebih cepat.
Akhirnya tak beberapa lama terdengar lolongan kenikmatan di antara pasangan suami istri itu.
Ara ambruk di atas tubuh Zester dengan nafas terengah-engah sementara Zester sendiri mengelus punggung istrinya yang lembab.
Sebenarnya dia ingin melakukannya lagi, Zester bukan tipe lelaki yang puas dengan satu ronde.
Namun, mengingat istrinya yang sebelumnya mempunyai inisiatif sendiri dan sekarang tampak kelelahan, Zester akan menahan diri.
"Tidurlah, Yank," ucap Zester.
"Tapi, lepaskan..." Ara bergumam setengah sadar. Dia merasa ular Zester kembali bangun.
"Kita akan tidur dengan posisi menyatu," Zester memasukkan miliknya lagi dan tidak akan membiarkan bibitnya keluar supaya Ara cepat hamil.
Ketika terbangun, Ara merasa tidak nyaman dengan posisinya apalagi milik Zester masih on di dalam.
"Ular impoten ini memang mengerikan," gumam Ara. Dia berusaha menjauh tapi gerakannya mampu membuat ular yang sensitif justru tidak mau lepas.
"Zee..." Ara melakukan protes. "Aku ingin membersihkan diri!"
Semalam dia terlalu kelelahan dan tertidur setelah bermain kuda-kudaan yang panas. Sekarang Ara ingin membersihkan diri dari sisa percintaannya dengan suami.
"Yank..." Zester tidak mau istrinya menjauh. "Satu kali lagi, ya! Pagi hari waktunya berolahraga!"
Seperti biasa, Zester tidak akan memberi Ara kesempatan dan terjadi lagi olahraga panas di atas ranjang.
Selama perjalanan mereka ke Jepang, pasangan suami istri itu akan menghabiskan waktunya di kamar. Mereka akan istirahat jika waktunya makan.
Sampai akhirnya kapal pesiar berlabuh juga di salah satu dermaga Jepang.
Zester turun dengan menggendong istrinya, Ara memang tengah memberikan hukuman pada suaminya.
"Pokoknya selama di Jepang dan Korea, aku akan mengikat ularmu itu supaya berhenti bangun dan menyembur," kesal Ara.
Untuk kali ini, Zester tidak bisa membalas perkataan istrinya. Dia takut tidak bisa menepati janji, ularnya kan baperan. Melihat Ara senyum saja sudah bangun.
Beruntung Ara sudah mulai terbiasa jadi istrinya sudah bisa mengimbangi walaupun dengan protesan seperti sekarang.
Mereka menginap di salah satu hotel bintang lima yang sebelumnya di reservasi oleh Clarisa.
"Nanti malam kita nonton konser, 'kan? Aku mau istirahat dulu," ucap Ara seraya membanting tubuhnya ke atas kasur.
Zester tidak mau mengganggu, lelaki itu menunggu malam dengan memeriksa laporan yang butuh tanda tangannya. Walaupun bulan madu, dia masih harus bekerja.
Sampai mertuanya menelepon karena anak dan menantunya itu tidak memberi kabar.
"Kalian sudah sampai, 'kan?" tanya Theo yang merasa cemas.
"Kami baru saja sampai hotel di Jepang, sinyal di laut kurang bagus jadi kami tidak bisa memberi kabar lagipula ada kegiatan rutin yang harus kami jalani," jelas Zester.
Theo tentu saja mengerti kegiatan rutin apa itu. "Kalau begitu, lanjutkan bulan madu kalian!"
"Baiklah, ayah mertua. Siap-siap sebentar lagi akan menimang cucu," ucap Zester.
"Menantu sontoloyo," balas Theo.