Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 39 - Dugong Datang



Zester memandangi ponselnya karena dari kemarin tidak bisa menghubungi Ara, dia merasa seperti dicampakkan walaupun mereka tidak melakukan apa-apa.


Dia ingin pergi ke apartemen barunya tapi waktunya tidak sempat karena banyak pekerjaan yang menumpuk dan rapat tertunda yang harus dia hadiri.


"Tuan..." panggil asisten Mike supaya atensi lelaki itu kembali mengarah padanya.


Terdengar helaan nafas dari Zester kemudian dia berusaha fokus.


"Bagaimana dengan nilai saham?" tanya Zester.


"Nilai saham masih stabil dan permintaan pesanan unit mengalami kenaikan, hanya saja kita selalu melenceng dari jadwal perkiraan jadi unit yang diminta tidak selesai tepat waktu," jelas asisten Mike.


"Kita harus membicarakan masalah ini lebih serius, panggil tim perakitan dan atur jadwal untuk melakukan rapat!" perintah Zester.


"Tahun ini kita harus meminimalisir waktu inden supaya bisa sesuai dengan waktu yang ditentukan!"


Asisten Mike menuliskan dalam agendanya dan akan meminta Ara untuk membuat jadwal ulang.


"Bagaimana dengan Bu Ismail?" tanya Zester yang ingin keluar dari topik pekerjaan.


"Hari ini Bu Ismail dan mertuanya pindah ke kota, saya sudah menyiapkan rumah sakit dan psikiater untuk menanganinya," jawab asisten Mike.


"Laporkan secara berkala mengenai kondisinya dan Mike..." Zester tampak ragu untuk bertanya pada asisten yang sejak dulu setia pada keluarganya itu.


"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?"


Asisten Mike tampak gelagapan mendapat pertanyaan itu, biasanya Zester tidak peduli dengan sekelilingnya tapi sekarang ternyata bosnya mulai peka.


"Kenapa kau memberitahu Ara mengenai kecelakaan kerja yang kasusnya sudah ditutup itu? Apa memang benar mommy ku ada hubungannya?" cecar Zester.


"Bukan begitu, Tuan. Saya tidak mau menuduh, hanya saja saya beberapa kali memergoki nyonya besar kelihatan membicarakan sesuatu berdua dengan pak Ismail," jelas asisten Mike.


Zester mendengus kasar, dia sepertinya harus berbicara pada mommy nya.


"Hari ini aku akan menemuinya jadi setelah pulang dari kantor, kita ke mansion Schweinsteiger," ucap Zester.


Lelaki itu memberitahu supaya Zester tidak gelisah seperti sebelumnya.


Dan Ara memang tengah menuju kantor Zester setelah mengumpulkan tugasnya, gadis itu memakai setelan kerja dengan benar hari ini karena sudah mendapat tanda pengenalnya.


Kemeja dan rok selutut ditambah memakai high heels, Ara seperti pegawai kantor pusat sungguhan.


Tapi, ada yang aneh saat Ara berjalan di loby kantor karena semua karyawan menatapnya dengan sinis apalagi karyawan perempuan.


"Apa penampilanku aneh?" gumam Ara yang tidak tahu kalau dia tengah digosipkan oleh seisi kantor.


Tidak mau memikirkan itu, Ara ingin cepat-cepat pergi ke lantai direktur berada.


"Pantas saja, baru magang sudah mendapatkan posisi tinggi dan kerja hanya setengah hari saja ternyata...."


"Iuhhh..."


Ara mendengar jelas sindiran itu ketika menunggu lift terbuka.


Tak lama terdengar suara gaduh karena Riri datang dan para karyawan mendukung calon istri direktur mereka.


"Apa itu karyawan magangnya?" tanya Riri.


Otomatis Ara membalik badan dan mengurungkan niatnya untuk pergi ke lantai direktur, dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Ara melihat seorang gadis yang berpakaian modis dengan kaca mata hitam tengah mendekat ke arahnya, di belakangnya ada beberapa karyawan pendukung.


"Jadi, kau selingkuhan calon suamiku?" tanya Riri seraya berhenti di depan Ara.


Oh, jadi ini penipu itu. Walaupun belum tahu apa yang terjadi, Ara tidak akan takut.


"Dasar dugong," batin Ara kesal.