Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 132 - Bayi Bule Always



Ara terbangun di pelukan suaminya, rasanya sudah lama dia tidak tidur sambil didekap seperti itu.


Hal pertama yang dilihatnya tentu saja Zester dengan mata terpejam.


Kalau mengingat pergumulan mereka di kamar mandi kemarin, sungguh menggairahkan.


"Morning," Zester tiba-tiba terbangun dan mengecup bibir Ara. Dia sudah lama tidak melakukan itu, rasanya sekarang dia seperti kembali bulan madu.


Ara tersenyum dan kembali memeluk suaminya. "Zee, aku terus memikirkan Kai apalagi kalau susuku sudah penuh. Jadi, ayo kembali hari ini!"


Terdengar suara decakan dari mulut Zester, posisinya sekarang memang sudah tergeser oleh anaknya.


"Aku akan mengikuti saranmu untuk mengambil jasa baby sitter dan menempatkan beberapa asisten rumah tangga tinggal di rumah," ucap Ara. Dia ingin menghilangkan obsesinya itu perlahan-lahan.


"Karena aku ingin satu tingkat lebih bahagia lagi!"


"Bagus," Zester kembali mencium Ara dan gairahnya kembali memuncak di pagi hari.


"Olah raga pagi yuk, Yank!"


Sebelum kembali, pasangan suami istri itu melakukan olah raga panas beberapa ronde sampai membuat Ara lemas.


Jadi, mereka baru bisa kembali keesokan harinya setelah tubuh bugar.


Zester membawa istrinya berjalan-jalan berdua dulu dan memberikan kado anniversary.


"Aku tidak sabar bertemu dengan Kai," gumam Ara di perjalanan pulang.


Selama di Bali, dia sudah memerah susu banyak sekali yang dia simpan di tempat khusus supaya tahan lama sampai dimasukkan ke freezer.


Pasti stok susu Kai sudah menipis, ada rasa bersalah karena meninggalkan bayinya tapi ada perasaan lega karena Ara tidak perlu merasa cemas lagi.


Ketika sampai, Ara dan Zester pergi ke mansion Rebecca untuk menjemput bayi mereka.


"Kai, daddy pulang!" seru Zester saat masuk.


Namun, suasana hening jadi Zester mencari bayinya ke sana kemari.


"Anu Tuan, tuan muda Kai dibawa ke kampung," ucap kepala pelayan.


Ternyata setelah tahu kalau Zester menitipkan bayi pada Rebecca, Theo meminta besannya itu untuk membawa baby Kaizen ke kampung Suka Maju.


"Pantas saja mommy susah dihubungi," gumam Zester.


Terpaksa Zester harus menambah libur lagi karena dia akan menyusul bayinya ke kampung istri tercinta.


Rasanya sudah lama sekali Ara tidak pulang kampung, keadaan kampungnya masih seperti dulu. Siapa menyangka kalau dia akan menjadi istri direktur sekarang, hanya karena ular pak direktur yang bereaksi padanya saja.


"Susunya masih aman kalau langsung masuk freezer," ucap Ara yang mengecek keadaan susu perahnya.


Baby Kaizen tidak rewel karena berganti-ganti suasana, bayi gembul itu dioper ke sana kemari tapi jarang menangis.


"Uluh-uluh," Megan merekam cucunya yang tengah memiringkan badan. "Ayo sedikit lagi!"


Ketika berhasil tengkurap, semua bersorak kesenangan.


"Bayi sekarang pintar-pintar," komentar Rebecca.


Mau tidak mau dia dan Mike ikut menginap sambil menunggu Ara dan Zester datang.


Tak lama ada suara klakson mobil yang minta dibukakan pintu pagar.


"Biar aku saja yang membukanya!" Agam berlari untuk membuka pagar rumahnya.


"Mbak Ara!"


Ara keluar dari mobil dengan berlari, bukan untuk mendatangi Agam tapi lebih memilih mencari bayinya.


"Hahaha..." Zester tertawa karena melihat adik iparnya dicuekin.


"Sekarang kau jadi nomor berapa, ya?"


Agam memasang wajah cemberut karena perhatian semua orang tertuju pada bayi bule.


"Makanya pacaran sana biar ada yang memperhatikan, jangan main sama Tini terus," goda Zester.