
Walaupun Oma Berta kurang suka dengan Zester tapi perempuan itu tetap menghargai pilihan cucunya jadi dia tidak mau ikut campur dengan urusan Ara.
Zester dan Ara makan di restonya kemudian saat pulang, Oma Berta memberikan beberapa makanan yang tinggal dipanasi.
"Oma jadi kangen dengan Agam, lain kali datang kemari bersama adikmu," ucap Oma Berta ketika Ara berpamitan pulang.
"Siap!" Ara memeluk omanya sebelum pergi.
"Jaga cucuku, awas kalau sampai Ara menangis," Oma Berta sempat-sempatnya mengancam Zester dengan membawa pisau dapur.
"I... iya," Zester langsung mengajak Ara untuk masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil Ara tertawa karena melihat Zester ketakutan.
"Oma hanya bercanda, jangan dianggap serius," ucap Ara kemudian.
"Lagipula siapa yang berniat membuatmu menangis, aku hanya trauma dikutuk impoten lagi," balas Zester. Dia pokoknya tidak mau berurusan dengan the power of emak-emak lagi.
Ara semakin tertawa mendengarnya. "Direktur itu profesi pacarku tapi sampingannya adalah pemain lawak!"
"Kenapa kau bilang seperti itu, Yank? Aku ini cukup berwibawa loh cuma kadang-kadang suka hilang," ucap Zester.
Sepanjang perjalanan pulang ke apartemen, Zester selalu membuat Ara tertawa, mereka jadi tidak terlihat kalau berbeda umur jauh.
"Yakin tidak tidur di unitmu?" tanya Ara ketika sampai.
Zester mengangguk. "Aku lebih memikirkan masa depan kita, kalau aku bangkrut kan tidak lucu!"
"Kalau bangkrut alih profesi jadi mandor pabrik beras ayahku," goda Ara.
"Ya ampun, Yank. Abang ganteng jadi mandor? Kau terlalu imajinatif," Zester mencodongkan tubuhnya mendekati Ara sebelum gadis itu membuka pintu mobil.
Zester mencoba membantu Ara membuka seatbelt yang membuat jarak diantara mereka menjadi pepet maksimal.
"Setelah ini kau sibuk, aku juga sibuk. Mungkin aku harus ke luar kota bahkan ke luar negeri," ucap Zester yang sebenarnya tidak mau jauh dari kekasihnya.
"Tapi, kau harus tahu. Aku tidak tertarik dengan perempuan manapun kecuali kau everyday..."
"Everything with you!"
Wajah Ara langsung merona mendengar gombalan bule lokal yang semakin lihai itu, dia pun mengecup Zester sebagai salam perpisahan mereka hari itu.
"Kita bisa video call atau berbalas pesan," ucap Ara.
"Apa boleh buat, aku mau tanda emot love yang banyak," balas Zester.
"Dasar bucin..." Ara harus segera keluar dari mobil atau jantungnya semakin berdebar.
Hari itu berakhir begitu saja, Ara dan Zester kemudian sibuk dengan urusan mereka sampai beberapa hari tidak bertemu.
Mereka hanya saling berbalas pesan dan video call sesekali untuk melihat wajah lelah satu sama lain.
"Aku merindukan Ara," keluh Zester sambil melihat kalender di meja kerjanya. Sudah hampir seminggu mereka tidak bertemu.
"Mike..." panggil Zester pada asistennya..
Tak lama Mike muncul dengan membawa beberapa berkas.
"Ini persiapan untuk perjalanan bisnis ke luar negeri, Tuan," ucap Mike sambil meletakkan berkas itu ke meja Zester.
"Haish, karena kau akan cuti, aku harus pergi dengan Clarisa," kesal Zester.
Lelaki itu jadi teringat sesuatu lalu bertanya pada Mike.
"Kira-kira penyakit cacar itu berapa hari baru sembuh?" tanya Zester.
"Siapa yang sakit cacar, Tuan?" tanya Mike yang melewatkan sesuatu.
"Mommyku, dia sakit cacar dan tidak mau menemuiku, aku curiga dia sedang membuat alibi, kau harus mencari informasi dengan pengawal atau kepala pelayan, jangan sampai mommy membuat skandal lagi," perintah Zester.
Mike menelan ludahnya sendiri karena orang yang membuat skandal dengan bu presdir adalah dirinya sendiri.
"Dan Mike, bagaimana menurutmu kalau mommyku menikah lagi?" tanya Zester.