
Zester berdiri di dinding kaca apartemennya dengan mata menatap pemandangan kota di malam hari, Ara sudah menceritakan semua padanya mengenai Mike dan Rebecca.
Awalnya dia memang terkejut dan marah luar biasa tapi Ara berusaha membuatnya tenang dan berpikir dengan kepala dingin.
Kenapa Zester tidak menyadari semua itu?
Itu hal yang tengah Zester pikirkan, padahal dua orang itu yang paling dekat dengannya, apa mungkin karena dia yang tidak pernah peduli dengan orang di sekitarnya?
Aku rasa, baik asisten Mike atau mommy Rebecca memikirkan perasaanmu maka dari itu mereka menyembunyikan hal sebesar ini. Tidak mudah menyembunyikan perasaan selama bertahun-tahun lamanya
Zester memikirkan perkataan Ara itu dan dia jadi mengingat masa lalu.
Ketika daddy nya meninggal, orang pertama kali yang mengulurkan tangannya adalah Mike.
Saya akan selalu bersama, Tuan Muda
Zester masih ingat jelas kalimat yang Mike lontarkan padanya. Semenjak itu, Mike selalu berada di belakangnya sampai Zester memutuskan untuk sekolah ke luar negeri.
Tolong jaga mommy ku, Mike
Dia tidak menyangka kalau tanggung jawab yang Zester berikan akan berubah menjadi cinta. Mike begitu rapat menutupi perasaannya sampai dia mengira lelaki itu gay.
Padahal kalau dipikir-pikir, Mike mempunyai banyak kesempatan untuk mencari wanita lain tapi lelaki itu justru menunggu cintanya bersambut bahkan pada saat Rebecca mempunyai skandal dengan Ismail, Mike masih sabar menunggu wanita itu.
Justru Mike berusaha melindungi Rebecca dengan menyalin semua bukti karena takut Riri akan menggunakan wanita itu sebagai tersangka pembunuhan atas Ismail.
Zester terus terdiam sambil merenungi semuanya sampai dia merasakan ada tangan mungil melingkar di perutnya dari belakang.
"Apa sudah tenang?" tanya Ara.
Niat Zester yang ingin memberi kejutan atas kepulangannya pada kekasihnya justru berakhir dia yang diberi kejutan.
"Maafkan aku karena menahanmu untuk tidak bertemu dengan mommy Rebecca atau asisten Mike, aku takut dalam keadaan emosi kau akan bertindak gegabah," lanjut Ara.
"Keputusanmu sudah benar, Yank. Sekarang aku sedang berfikir banyak," balas Zester.
Zester menghela nafasnya, dia membalik badan dan memeluk Ara di sana.
"Kalau jadi aku, apa yang akan kau lakukan?" Zester justru bertanya balik.
"Apa kau membenci mereka?" tanggap Ara.
"Tentu saja tidak, hanya saja..."
"Kecewa?"
"Mungkin begitu,"
Sebenarnya bukan kapasitas Ara untuk ikut campur atas permasalahan keluarga Zester hanya saja kalau gadis itu di posisi Zester sekarang, pasti dia akan merelakan mommy nya bahagia.
Dan sepertinya Zester juga akan melakukan hal yang sama.
"Kelak jika kita ada masalah, aku ingin kita tetap saling menggenggam seperti ini," pinta Zester.
"Baiklah," balas Ara.
Sementara di sisi lain, kepala pelayan di mansion Schweinsteiger merasa kebingungan karena nyonya mereka tak kunjung keluar dari kamar.
Sudah lewat jam makan malam tapi Rebecca tidak menampakkan batang hidungnya. Ingin mengetuk kamar majikannya itu pun takut.
"Kita biarkan saja, yang penting ada makanan di atas meja makan, kalau nyonya lapar tinggal dipanasi," kepala pelayan akhirnya meminta pelayan lain untuk istirahat.
Mereka sudah pasrah.
Rebecca sendiri sudah merasa kewalahan di dalam kamar, walaupun fisiknya terlihat muda tapi tidak bisa dipungkiri kalau orderdilnya sudah berumur jadi mudah lelah.
"Kapan kau akan berhenti?" tanya Rebecca yang badannya terus bergoyang.
"Satu kali lagi, Becca," jawab Mike. Lelaki itu masih bersemangat karena belum mencoba semua gaya.