
Nyatanya sampai malam tiba, tamu masih belum berhenti juga, justru semakin malam semakin ramai.
Apalagi para biduan dangdut menjadi penghibur malam itu.
"Goyang terus..."
Para pengawal Rebecca begitu menikmati goyangan biduan dangdut kemudian mereka menyawer dengan jumlah tidak sedikit.
"Biasanya mereka terlihat galak tapi lihatlah sekarang," komentar Ara yang masih duduk di panggung pengantin.
"Mereka memperlihatkan sisi gelap mereka," balas Zester.
Kalau begini biar tamu undangan habis pun, Zester tidak akan bisa berkonsentrasi untuk menghabiskan waktu berdua dengan Ara. Di rumah pak kades terlalu banyak orang.
Jadi, ketika Ara menghapus make up nya, Zester mengajak istrinya itu untuk keluar.
"Memangnya kita mau ke mana?" tanya Ara bingung.
"Ikut saja," Zester sedikit memaksa Ara dan mereka melewati pintu belakang supaya tidak ketahuan.
Ternyata Zester ingin membawa Ara keluar dari kampung dan mencari hotel terdekat supaya tidak ada gangguan.
"Kita tidak bilang siapapun nanti pasti dicari," ucap Ara jadi cemas ketika mereka sudah keluar dari Kampung Suka Maju.
"Kalau kita bilang namanya bukan kabur, Yank," balas Zester dengan santainya. Lelaki itu tengah berkonsentrasi untuk menyetir mobil.
Zester menggunakan bantuan maps untuk mencari hotel terdekat tapi justru maps menuntunnya ke jalanan sepi tanpa bangunan apapun.
"Zee..." panggil Ara jadi takut.
"Tenang, Yank," Zester berusaha menenangkan istrinya. Dia berniat putar balik supaya kembali ke jalanan utama tapi justru mereka jadi tersesat.
Bahan bakar semakin menipis, niat awal yang ingin menghabiskan malam penuh gairah jadi berantakan.
"Bagaimana ini?" Ara benar-benar takut karena di sekeliling mereka sangat gelap hanya ada cahaya dari lampu mobil.
Kalau seandainya mobil itu mati, lengkap sudah penderitaan.
Zester menggaruk kepalanya yang tidak gatal, di hari pertamanya menjadi suami justru dia membuat masalah.
Akhirnya pasangan yang baru beberapa jam menjadi suami istri itu menunggu pagi tiba tanpa melanjutkan perjalanan karena takut kehabisan bahan bakar di tengah jalan.
Menghubungi pengawal atau ayah Theo pasti ujung-ujungnya akan membuat panik dan Zester kena marah habis-habisan.
Ara dan Zester tertidur di mobil karena kelelahan, mereka terbangun karena ada yang mengetuk kaca mobil keesokan harinya.
"Bisa antarkan kami kembali ke jalan utama?" tanya Ara ketika sadar yang mengetuk mobil adalah orang yang melintas di jalanan sepi itu.
Untung saja mereka tidak kena begal atau semacamnya.
Ketika siang hari barulah mobil yang dibawa Zester berhasil kembali ke jalan utama dan bisa diisi bahan bakar.
"Ada hotel dekat sini, kita mampir dulu untuk mandi dan makan," ucap Zester saat berada di pom bensin.
Ara menurut dan akhirnya mereka memesan satu kamar hotel bintang dua jadi fasilitasnya tidak seperti hotel yang biasa Zester pesan ketika menginap di hotel.
Tidak mungkin Zester akan melakukan malam pertama di hotel murah, dia ingin lepas perjaka dengan mengesankan.
Jadi, Zester harus menahan diri.
"Sabar ya, sedikit lagi. Kita tunggu momen yang pas," ucap Zester yang lagi-lagi berbicara pada ularnya.
Di sisi lain, Megan mengetuk pintu kamar putrinya karena sudah siang hari pasangan pengantin tidak kunjung keluar.
"Ara..." panggil Megan tapi tak kunjung ada sahutan dari dalam kamar.
Awalnya Megan ingin memaklumi tapi kalau sampai siang tidak keluar kan perempuan itu jadi cemas.
"Apa mereka tidak lelah?" gumamnya. Megan berpikir kalau putrinya sudah melakukan malam pertama terus menerus tanpa henti.
"Ayah, kita harus menyelamatkan Ara dari serangan menantu bulemu!"