
Ara menggendong baby Kaizen dan menciumnya penuh kasih sayang, dia tidak menyangka sudah menjadi seorang ibu.
Bayi itu benar-benar bayi bule dan menjadi kesayangan semua orang.
Sekarang dia sudah dipindahkan ke ruang rawat untuk masa pemulihan.
"Uluh, uluh," Theo mencoba menggendong cucu pertamanya.
Untuk cucu bulenya, dia tidak banyak protes karena langsung jatuh cinta pada bayi gembul itu.
"Ganteng kan hasil kerja kerasku, ayah mertua," ucap Zester meminta pujian.
"Kerja kerasmu apa, ini hasil kerja kerasnya Ara yang mengandungnya," balas Theo.
Menantu dan mertua itu selalu saja seperti Tom dan Jerry.
Karena proses lahiran normal jadi Ara sudah diperbolehkan pulang keesokan harinya.
Untuk sementara Ara dibantu oleh ibu dan mertuanya sampai dia benar-benar pulih.
"Daun katuk bagus untuk melancarkan ASI," Megan memasak sayur itu dan meminta Ara memakannya.
"Apa Kai masih tidur? ASI-ku masih belum banyak, dia pasti lapar," ucap Ara sedih.
"Memang seperti itu, nanti lama-lama pasti banyak," balas Megan memberi semangat.
"Aku takut tidak bisa menjadi ibu yang baik," tambah Ara.
Megan terkesiap mendengarnya, entah apa yang ada dipikiran putrinya tapi dia jadi merasa bersalah karena dulu tidak mengurus Ara dari bayi.
"Maafkan ibu," Megan tiba-tiba minta maaf dan memeluk Ara. "Tidak ada hari di mana ibu menyesali apa yang telah terjadi tapi ibu selalu berusaha menebusnya!"
"Aku tidak bermaksud menyinggung masa lalu, hanya saja aku masih bertanya apa aku bisa menjadi ibu yang baik," ucap Ara karena takut Megan salah paham.
"Tentu saja bisa, Ara-Ara Kimochi pasti bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya," Megan memberi semangat lagi.
Tak lama Rebecca ikut bergabung bersama Ara dan Megan. Wanita itu senyum-senyum sendiri tidak jelas.
"Ada apa?" tanya Megan.
"Lihatlah sendiri di kamar Kai, ada empat bayi yang tidur bersama," jawab Rebecca.
Setelah berebutan mengurus Baby Kaizen, Zester dan Theo serta Mike kelelahan yang pada akhirnya membuat mereka tidur bersama.
"Sebentar lagi pasti akan jadi sepi kalau semua sudah kembali ke aktivitas masing-masing," komentar Ara.
"Apa Ara yakin tidak membutuhkan baby sitter? Mommy bisa membantu mencarikan baby sitter profesional," ucap Rebecca. Dia jadi kepikiran karena tidak bisa 24 jam bersama menantu dan cucunya.
"Untuk sementara tidak perlu, Mom," Ara masih menolak.
"Ibu dan ayah harus kembali ke kampung, apa Ara ikut saja?" timpal Megan.
"Nanti aku akan jarang bertemu Zee, jadi aku tetap tinggal bersama suami dan bayiku," ucap Ara yakin.
Yah, Rebecca dan Megan tidak boleh ikut campur, walaupun begitu mereka akan tetap memantau.
Berbeda dengan Theo yang tidak mau jauh-jauh dari cucunya, dia sampai berniat menculik baby Kaizen untuk dia pamerkan di kampung Suka Maju.
"Kai ikut opa saja, ya. Nanti opa belikan kambing yang banyak," ucap Theo berbicara pada bayi yang baru bangun tidur itu. Namun, Baby Kaizen belum bisa merespon.
Zester langsung berdehem mendengar semua itu, bisa-bisanya anaknya disuruh main kambing.
"Tidak usah repot-repot, ayah mertua," Zester langsung menyela.
"Aku tidak merasa direpotkan," balas Theo.
"Karena Ara tidak bisa melanjutkan bisnis beras sepertinya Kai nanti akan jadi juragan beras selanjutnya!"
"Ya ampun ayah mertua, Kai masih baru lahir jadi jangan memikirkan hal sejauh itu," sahut Zester dengan mengacak rambutnya.