Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 74 - Cooking Date



Theo harus kembali ke kampung karena beberapa rapat di balai desa sudah dia tunda, dia harus segera menyelesaikan urusan desa tapi lelaki itu masih belum rela meninggalkan putrinya.


"Apa aku mengundurkan diri saja dari jabatan kepala desa?" tanya Theo pada istrinya.


"Ya ampun, nanti gak dapat motor N-max merah kan sayang," tanggap Megan.


"Aku tidak ikut demo, lagipula aku bisa beli sendiri kalau hanya motor N-max merah, jalanan kampung yang aku perbaiki justru nilainya berkali-kali lipat dari nilai motor itu," ucap Theo yang tidak mau dibilang mengharap motor dinas dari pemerintah.


"Buat apa punya motor dari pemerintah kalau kita tidak bisa menjalankan aspirasi masyarakat dengan baik," tambahnya.


"Nah itu tahu, jadi jangan mengundurkan diri seenaknya apalagi alasannya hanya karena ingin menjaga Ara di kota, apa kau juga tidak memikirkan para pekerja di pabrik?" tanya Megan.


Theo menghela nafasnya, mungkin memang dia khawatir terlalu berlebihan, dia hanya ingin anak-anaknya nanti mempunyai pendidikan yang tinggi, jangan seperti dirinya yang hanya lulusan SMA.


"Lagipula bu presdir kan sudah berjanji akan menjaga dan mengawasi Ara jadi jangan terlalu memikirkan hal yang belum tentu terjadi," sambung Megan.


"Dilihat dari segi manapun, bu presdir itu justru bersemangat menjadikan Ara menantu supaya bisa dekat denganmu," sahut Theo.


"Ya bagus lah, itu artinya bu presdir menyayangi Ara dan akan segan dengan kita. Calon menantu juga sudah cukup usia dan punya pekerjaan mapan, tidak ada manusia yang sempurna bahkan kita pun masih sering berbuat salah," ucap Megan yang terdengar sangat bijak.


"Kalau begini, aku ingin menciummu sayang," Theo mendekati istrinya dan langsung melahap Megan dengan sesuka hati.


Awalnya yang hanya sebatas ciuman menjadi permainan lato-lato yang menggebu-gebu.


"Satu kali saja, kasihan Agam kalau kita tidak cepat kembali," Megan memberi peringatan keras sebelum dia terkapar.


Sudah diputuskan, Theo dan Megan akan kembali ke kampung Suka Maju dengan tenang. Ternyata enak juga mempunyai calon besan seperti Rebecca, perempuan itu sudah mengurus semuanya jadi pasangan suami istri itu tidak sibuk untuk klarifikasi.


Bayang-bayang hukuman mati membuat Riri menjadi setres, perempuan itu sudah beberapa kali mencoba bunuh diri tapi gagal. Dari pada dia di eksekusi lebih baik mati sendiri karena biasanya eksekusi akan dilakukan beberapa tahun kemudian setelah vonis dijatuhkan.


"Jangan sampai wanita itu kabur dari penjara dan minta ke sel khusus supaya dia tidak bisa mencoba bunuh diri lagi. Dia harus meratapi hidupnya setiap detik, menit dan jam," ucap Zester memberi perintah.


Asisten Mike hanya bisa menganggukkan kepalanya.


"Banyak jadwal yang tertunda dan sekretariat jadi kacau, saya harap anda cepat pulih, Tuan," ucapnya membahas masalah pekerjaan.


"Aku memang tidak tahan berada di rumah sakit, aku ingin cepat pulang dan rawat jalan saja," balas Zester.


"Mike, kau juga harus membuat jadwal kencanku dengan Ara. Pacarku itu suka gaya kencan biasa yang normal, kau harus membuat daftarnya," Zester sudah tidak sabar melakukan kencan dengan Ara sebagai pasangan.


"Hah, pekerjaanku jadi bertambah," batin Asisten Mike.


Sesuai permintaan Zester, akhirnya lelaki itu menjalani rawat jalan. Zester lebih memilih pulang ke apartemen barunya supaya bisa bertemu dengan Ara dengan leluasa.


"Hallo?" jawab Ara saat Zester melakukan panggilan.


"Kau ada di mana, putri duyung kecilku?" tanya Zester.


"Masih di kampus, mau aku belikan sesuatu saat pulang?" balas Ara.


"Boleh, aku tidak bernafsu makan," ungkap Zester mulai modus.


"Kalau begitu, aku akan membeli bahan makanan dan masak di apartemenmu, kita akan melakukan cooking date," ucap Ara yang diam-diam juga mencari referensi kencan.