Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 118 - Surprise Untuk Bojo



Ara terbangun dan tidak mendapati suaminya di atas ranjang yang sama dengannya.


"Zee..." panggil Ara.


Sebelum keluar kamar, dia memakai maskernya lagi dan mencari suaminya.


Ternyata Zester tidur di sofa.


"Zee..." Ara kembali memanggil suaminya. Kali ini dia sudah berjongkok di depan Zester dan menunggu lelaki itu membuka mata.


Ketika mata itu terbuka, Ara mengelus pipinya.


"Kenapa tidur di sini?" tanya Ara.


Zester menangkap tangan istrinya yang sekarang mengelus pipinya, dia membimbing tangan kurus itu ke mulut dan mengecupnya.


Tidak ada kiss morning jadi itu sebagai gantinya. Ara masih memakai masker, sudah dipastikan pasti tubuhnya masih beraroma bawang.


"Apa sebau itu?" tanya Zester.


Ara menganggukkan kepalanya. "Aku sampai tidak tahan!"


"Apa aku perlu ganti parfum, Yank?" tanya Zester lagi.


"Tidak perlu, aku mempunyai surprise untukmu nanti jadi jangan berpikir macam-macam," ucap Ara supaya Zester tidak melakukan hal aneh.


"Surprise apa itu?" Zester penasaran.


"Pokoknya berhubungan dengan...." Ara menggantung kalimatnya dan menutup wajahnya memakai tangan. Dia malu.


Dan hal itu semakin membuat Zester bertanya-tanya.


Lelaki itu tidak tenang bahkan saat berada di kantornya.


"Ini laporan gaji karyawan untuk bulan ini, pak direktur," Clarisa memberikan beberapa dokumen untuk Zester.


"Karena bank mengalami bug jadi gaji karyawan diretur yang membuat gaji telat masuk!"


"Dan ini dokumen dari bea cukai tentang pajak tahun ini yang harus perusahaan bayar!"


Zester hanya mendengarkan tanpa menanggapi, padahal banyak masalah yang harus dia selesaikan tapi pikirannya terus mengarah pada Ara.


"Aku masih tampan kan, Clarisa?" tanya Zester tiba-tiba.


"Astaga, bukan seperti itu," Zester jadi kesal sendiri. Asisten barunya itu memang tidak bisa mengerti dirinya.


"Kau boleh keluar! Aku akan memeriksa laporannya dan susun jadwal untuk rapat dengan departemen keuangan!"


Akhirnya Zester kembali memfokuskan diri ke pekerjaan.


Sementara Ara sendiri mulai proses syuting iklan hari ini, beruntung syutingnya di dalam studio jadi dia tidak perlu panas-panasan.


"Bagus! Kau memang berbakat seperti Megan," puji seorang produser yang melihat proses syuting iklan Ara.


"Terima kasih, saya memang mempelajarinya dari ibu," ungkap Ara. Padahal dia hanya sering membuat konten bersama Megan.


"Apa kau benar-benar tidak mau bermain film?"


"Saya memilih menolaknya, bakat akting saya masih belum bagus,"


Ara memilih beralasan seperti itu, dia tidak mau menjadikan Zester dan calon anaknya sebagai alasan.


Wajah perempuan itu kini menjadi banyak sorotan publik.


Bahkan beberapa papan billboard di jalanan dengan wajah Ara tampak menghiasi pemandangan ibu kota.


Zester bisa melihat papan iklan itu setiap hari ketika berangkat dan pulang dari kantor. Wajah yang sangat dia rindukan, hanya bisa dipandang tapi tidak bisa disentuh.


Karena nyatanya Ara masih berusaha menghindari suaminya.


Zester hanya bisa menunggu surprise dari istrinya tiba, setiap hari dia mempertanyakan hal itu tapi Ara selalu menghindar.


"Tunggu saat di rumah baru kita nanti," ucap Ara.


Pada hari pindah rumah, Zester datang paling terakhir karena dia harus menyelesaikan beberapa urusan terlebih dahulu.


Orang tua dan mertuanya sudah ada di sana, serta beberapa anak panti dan pengurus yayasan. Mereka mengadakan acara kecil-kecilan.


"Zee, apa masih lama?" tanya Ara yang menunggu kedatangan suaminya.


"Sebentar lagi, Yank. Masih macet di jalanan," jawab Zester.


"Cepatlah, surprise menunggumu!" Ara tidak sabar untuk memberitahu mengenai kehamilannya.