Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 50 - Gerak Cepat



Asisten Mike melihat gerak-gerik dari lambe turah kantor yang mencurigakan. Orang itu adalah karyawan tetap yang bekerja di bagian devisi keuangan.


Kalau ada yang mengira dia perempuan itu salah besar, nyatanya orang itu adalah laki-laki yang cocoknya memakai rok.


Kerjanya di gedung utama tapi suka mondar-mandir untuk mencari gosip baru.


Sebenarnya catatan kerjanya bagus hanya saja dia memang suka seperti itu.


"Sepertinya dia akan makan siang di luar," lapor asisten Mike.


"Kalau begitu, kita harus mengikutinya," tanggap Ara.


Mereka pun bersiap-siap pergi tapi tiba-tiba Zester mendatangi ruangan mereka.


"Kau tinggal di kantor saja, Mike. Biar aku dan Ara yang pergi," ucap Zester.


"Tapi, aku ingin pergi bersama asisten Mike," tolak Ara.


"Sekarang keadaan sedang panas, apa kata orang kalau kalian berjalan berdua jadi lebih baik pergi bersamaku saja," Zester tetap memaksa.


Akhirnya mereka pergi berdua, saat melewati loby kantor, Zester bergandengan tangan dengan Ara. Seolah dia menunjukkan kalau memilih gadis itu daripada calon istrinya.


"Sepertinya bulan ini kita tidak bisa makan enak," bisik seorang cleaning service pada rekannya.


Padahal dia dan rekannya sudah berencana membungkus rendang daging di acara pernikahan Zester nanti.


"Iya, pak direktur ternyata suka daun muda," balas rekannya.


Yang dimaksud daun muda sepanjang perjalanan mengikuti lambe turah kantor tidak mau membalas perkataan Zester karena dia merasa marah atas insiden tadi pagi.


"Ara, kau mendengarku atau tidak?" tanya Zester.


"Aku sedang menuli," jawab Ara ketus.


Sial! Ara langsung mengerti apa sesuatu itu, pasti ular yang menyembul.


"Konsen saja pada tujuan kita," Ara mengalihkan pembicaraan.


"Tenang saja, aku sudah membayar orang untuk mengikuti gerak-gerik Riri dan di belakang kita ada beberapa bodyguard yang mengikuti kita," jelas Zester.


Ternyata lelaki itu diam-diam sudah mempersiapkan semuanya.


"Baguslah, karena Agam didatangi pocong, ayahku berpikir akan ada hal buruk yang terjadi padaku," ungkap Ara.


"Pocong?" Zester merasa syok. "Itu hantu lokal yang dibungkus kain putih itu, 'kan?"


"Kenapa adikmu berteman dengan makhluk seperti itu?"


"Sebenarnya Agam yang memberitahu kalau kita terhubung jadi saat kau bercerita tentang bulan September waktu itu, aku langsung memikirkan perkataan adikku," jawab Ara.


"Ternyata adik ipar berjasa besar pada hubungan kita, aku harus memberinya hadiah. Mobil keluaran terbaru atau adik ipar aku jadikan brand ambassador saja," ucap Zester tanpa beban.


"Sejak kapan Agam jadi adik iparmu?" protes Ara.


"Sejak sekarang dan seterusnya, aku juga akan memanggil pak kades menjadi ayah mertua dan bu kades menjadi ibu mertua. Aku pasti akan menjadi menantu yang berbakti," tambah Zester.


Ara menepuk jidatnya, ternyata Zester sudah mengalami sindrom kebelet kawin.


"Jangan mengklaim sembarangan begitu, ya. Aku kan belum memberi jawaban, mau atau tidaknya menerima janjimu," Ara mencoba mengingatkan.


"Tapi, aku merasa bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi tadi pagi, aku sudah memberi tanda itu artinya kau sudah menjadi milikku," Zester tetap mengklaim secara sepihak.


"Kita harus sering kencan supaya kau cepat jatuh cinta padaku!"


Zester harus gerak cepat, dia juga akan melakukan perawatan supaya terlihat lebih muda dan bisa mengimbangi Ara.