
Rebecca merinding mendengarnya, memang tubuhnya sangat menikmati permainan Mike yang menggila. Dia merasa dikhianati oleh tubuhnya sendiri.
"Kau berbohong, 'kan? Kau tidak terlihat seperti perjaka," ucap Rebecca yang mencoba mencari kesalahan Mike.
"Bagaimana caraku membuktikannya kalau kau tetap tidak percaya padaku?" Mike semakin mendekat dan menarik pinggang ramping perempuan itu.
"Apa perlu kita mencobanya lagi? Dan kau harus merasakan debaran jantungku setiap aku menyentuh permukaan kulitmu!"
Demi apa, Rebecca jadi semakin merinding, dia pun berlari meninggalkan Mike atau hewan buas itu akan memangsanya lagi.
"Aku akan kembali, Becca! Tunggulah aku!" batin Mike penuh tekad.
...***...
Karena tidak ada gangguan dari Zester, Ara bisa fokus belajar dan ujiannya berjalan dengan lancar.
Hari ini, gadis itu telah menyelesaikan ujian. Dia sangat ingin menemui kekasihnya. Jadi, Ara akan pergi ke kantor Zester.
Rasanya sudah lama sekali Ara tidak ke sana.
"Clarisa, di mana pak direktur?" tanya Ara pada sekretaris Zester itu.
"Pak direktur sedang melakukan rapat, kau jadi kemari?" tanya Clarisa balik.
"Iya, aku akan menggantikan posisimu setelah ini," jawab Ara.
Ara bersiap dan mengganti bajunya dengan pakaian formal kerja. Dia juga memakai sedikit riasan.
Kemudian gadis itu pergi ke kantor Zester dan para karyawan kini tidak memandang dirinya sebelah mata.
Justru mereka tampak segan dengan Ara.
"Kau sudah datang?" tegur Clarisa ketika melihat Ara sudah naik di lantai direktur.
"Pak direktur sebentar lagi selesai rapat!"
Ternyata rapat berlangsung lama jadi Ara bisa ke pantry untuk membuat kopi untuk Zester.
Beberapa menit berlalu, Zester keluar dari ruangan rapat dengan merenggangkan dasinya. Dia naik ke lantai ruangannya untuk beristirahat.
Mike menunduk hormat dan menuju ruangannya, saat melewati meja Clarisa, perempuan itu tampak senyum-senyum sendiri.
"Kau kenapa?" tanya Mike.
"Di dalam ada obat lelahnya pak direktur jadi kita bisa bersantai sampai jam pulang nanti," jawab Clarisa.
Karena sama lelahnya dengan Zester, Mike tidak bertanya lagi lebih lanjut sebaiknya dia masuk ruangannya dan segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum dia cuti.
Sementara Zester dibuat terkejut dengan seseorang yang menyambutnya di ruangannya.
"Selamat datang, pak direktur," ucap Ara seraya mendekat. Dia meminta jas Zester yang sudah dilepas lelaki itu untuk dia gantung.
"Duduklah dulu, saya sudah membuatkan kopi!"
Zester duduk dan benar saja di depannya sudah ada secangkir kopi. Lelaki itu meminumnya pelan dan rasanya sangat nikmat.
"Bagaimana?" tanya Ara.
"Biasa saja," jawab Zester. Dia bersikap cuek karena marah dengan Ara yang susah ditemui bahkan beberapa kali menolak panggilan dan tidak membalas pesannya.
"Apa pak direktur marah?" tanya Ara lagi.
"Tidak," Zester masih acuh. Dia menyilangkan kedua kakinya dan seperti tidak tertarik dengan kejutan yang Ara buat.
"Wah..." Ara mulai sedikit terpancing atas respon Zester seperti itu padahal dia sudah berusaha keras untuk membuat kejutan. "Ternyata pak direktur sok jual mahal, ya!"
"Aku tidak jual mahal tapi aku memang mahal," balas Zester dengan angkuh dan sombong. Penyakit lamanya kambuh lagi.
"Baiklah, anda memang mahal dan saya tidak sanggup membelinya. Kalau begitu saya permisi," ucap Ara pura-pura merajuk. Dia ingin pergi tapi tangannya ditarik Zester sampai tubuhnya terhuyung dan bokongnya mendarat di paha pacarnya itu.
"Karena aku baik hati hari ini, aku bisa memberimu diskon," ucap Zester kemudian.
"Bagaimana caranya mendapat diskon?" tanya Ara.
"Cium kening satu diskon, cium pipi dua diskon, cium hidung tiga diskon dan cium bibir...." Zester mendekatkan wajahnya penuh harap. "Aku bisa mengobralnya!"