Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 69 - Luapan Hati



Ara kaget karena Riri yang mengarahkan pistol padanya, mendadak otaknya langsung beku. Dia tidak bisa mengambil tindakan dengan cepat, kakinya ingin berlari tapi tubuhnya tidak bisa digerakkan.


Namun, ada yang membuatnya lebih kaget lagi karena Zester yang tiba-tiba memeluknya dan menjadi tameng baginya.


DOR!


Satu peluru mengenai punggung Zester.


Rupanya Riri belum puas, perempuan itu menembak lagi sampai ada tiga peluru mengenai punggung Zester yang melindungi Ara.


"Setidaknya salah satu diantara kalian mati," ucap Riri yang langsung mengarahkan pistol ke kepalanya sendiri. Dia berniat bunuh diri tapi hal itu langsung dicegah oleh para polisi.


Kejadian itu berlangsung sangat cepat, Ara masih merasakan jantungnya berdebar ditambah tangannya yang memeluk Zester sudah bersimbah darah dari lelaki itu.


"Zee..." panggil Ara dengan air mata yang mengalir deras.


Zester merasakan sakit yang luar biasa bahkan mulutnya sampai mengeluarkan darah. Tapi, lelaki itu masih bisa tetap tersenyum menatap Ara.


"Kau selamat, Ara," ucapnya terdengar lirih.


Lelaki itu merasa kesadarannya sudah mulai menurun, sebelum Zester benar-benar tak sadarkan diri, dia ingin mengatakan sesuatu pada Ara sebelum terlambat.


"Ara, apa kau mendengarku?"


"Ternyata hal yang aku takutkan terjadi, aku memang selalu tidak siap untuk hal ini tapi..."


"Aku sangat mencintaimu, bukan karena kau gadis yang menolongku tiga belas tahun lalu, bukan juga karena kau gadis yang bisa membuat milikku berdiri, aku mencintaimu karena kau adalah Namira Sulistiyono anak pak kades Suka Maju..."


Zester ingin mengungkapkan perasaannya lebih banyak lagi tapi matanya sudah berkunang-kunang dan tak lama semuanya gelap.


"Tidak, tidak..." Ara menggelengkan kepalanya. "Zee, buka matamu!"


Suasana di tempat persidangan itu menjadi riuh tapi para polisi bertindak untuk mengamankan semuanya.


Mobil ambulance datang, Ara dan Rebecca ikut masuk ke mobil itu untuk membawa Zester ke rumah sakit.


Sepanjang perjalanan, Ara tidak berhenti menangis karena melihat Zester yang banyak kehilangan darah.


"Ini semua salahku," ucap Ara dengan sesugukan.


"Bukan, seharusnya aku menyelesaikan masalah Riri dari dulu," Rebecca merasa bertanggung jawab dengan apa yang telah terjadi.


Operasi membutuhkan waktu berjam-jam lamanya.


Ara hanya bisa menunggu di depan ruangan operasi dengan harap-harap cemas. Gadis itu terus memandangi gelang pasangan pemberian Zester padanya.


Dia selama ini selalu menyangkal perasaan dan ragu pada Zester.


Tapi, setelah apa yang dilakukan Zester untuknya hari ini, Ara yakin kalau Zester benar-benar mencintainya dengan tulus.


"Tolong bertahan untukku, Zee," gumam Ara yang kembali menangis.


"Aku akan bertindak sebagai pasangan mulai sekarang, aku akan membalas cintamu jadi kau harus selamat!"


Kemudian gadis itu berdiri di depan ruangan operasi sambil menempelkan tangannya di pintu ruangan itu.


Semua kenangannya bersama Zester satu persatu kembali terlintas di kepalanya.


"Bukankah kau memintaku untuk menjagamu dengan baik?"


Ara begitu terpukul atas kejadian yang tidak terduga hari ini.


"Ara..." panggil Rebecca mendekati gadis itu. "Lebih baik kau pulang dulu, Mike akan mengantarmu!"


"Tapi, Zee..." Ara enggan meninggalkan rumah sakit sebelum melihat Zester baik-baik saja.


"Bajumu masih penuh dengan darah, kau juga perlu istirahat supaya pikiranmu tenang," bujuk Rebecca.


Sepertinya memang benar Ara butuh istirahat, dia harus mengumpulkan energi.


Saat perjalanan pulang, ponsel Ara terus berdering karena panggilan dari Theo.


Rupanya berita penembakan itu langsung viral, Theo mencemaskan keadaan Ara apalagi namanya juga ikut dibawa-bawa.


"Anak ayah tidak apa-apa? Ayah bersiap ke kota," ucap Theo saat panggilannya diterima oleh putrinya.


"Ayah..." Ara butuh tempat untuk meluapkan isi hatinya sekarang. "Sepertinya aku memang menyukai, Zee!"


"Astaga, sudah ayah duga akan seperti ini," balas Theo dengan helaan nafas panjang.