
Theo jadi geram karena mendapat fakta bahwa Zester dan Ara ternyata tidak ada di kamar.
Dan yang lebih membuatnya marah karena keduanya tersesat.
"Belum 24 jam jadi suami sudah membuat masalah, bagaimana kalau sampai mereka dibegal?" kesal Theo.
"Sudahlah, yang penting mereka sudah selamat," Megan berusaha menenangkan suaminya.
Hal itu membuat Rebecca dan Mike jadi tidak enak karena Zester sudah berbuat ulah di hari pertama pernikahan.
"Kami akan kembali ke kota dan mempersiapkan pesta di sana," Rebecca akhirnya pamit pulang.
"Ayo suamiku!"
Mike mengikuti istrinya dan segera pergi karena tidak mau ikut terlibat dengan masalah yang akan dihadapi oleh anak tirinya.
"Kami permisi dan sampai bertemu di kota," ucap Mike.
Tak lama setelah kepergian Mike dan Rebecca, datanglah Ara dan Zester yang ditunggu sedari tadi.
"Ara..." panggil Theo seraya berlari mendekati putrinya. Dia memeriksa keadaan Ara dengan teliti. "Kau tidak apa-apa, 'kan?"
"Tidak apa-apa, ayah. Kami ditolong orang baik," jawab Ara.
Theo lalu memicingkan matanya pada Zester di sana yang membuat lelaki itu menelan ludahnya.
"Anu..." Zester bingung harus bicara apa.
"Anu anu..." Theo ingin marah tapi ditahan oleh Megan.
"Biarkan menantu kita istirahat," sela Megan.
"Istirahat di kamar Agam, awas saja kalau dia macam-macam lagi," Theo membawa Ara masuk ke dalam rumah.
Padahal Zester adalah suaminya Ara tapi dia masih belum berhak sepenuhnya jika masih tinggal bersama begini.
Ketika berbaring di kamar Agam bulu kuduknya kembali merinding.
"Ada apa ini?" gumam Zester.
Pada saat itu Agam masuk ke kamarnya dan kaget dengan apa yang dia lihat.
"Memangnya kenapa?" Zester mendudukkan dirinya.
"Tadi kakak ipar meniduri rambutnya Tini," jawab Agam.
Zester menoleh ke belakangnya dan tidak ada siapa-siapa di sana. "Tini siapa?"
"Tini temanku, dia sekarang berdiri di belakang kakak ipar," jawab Agam lagi. Pemuda itu duduk di samping Zester.
"Kakak iparku akan tidur di sini malam ini jadi jangan masuk ke kamarku, pergi ke pohon mangga sana!"
Agam tampak berbicara sendiri, Zester semakin bergetar badannya.
"Adik ipar jangan membuatku takut," ucap Zester.
"Tenang kakak ipar, Tini akan tidur di pohon mangga di samping rumah," balas Agam.
Memang benar, Zester tidak cocok tinggal bersama begini apalagi kalau dekat dengan adik iparnya yang suka bermain dengan hantu.
Dia sudah tidak sabar kembali ke kota dan untungnya besok mereka semua akan pergi untuk pesta kedua pernikahan.
Sepanjang perjalanan Zester hanya tidur karena jujur saja di kamar Agam, dia tidak bisa memejamkan mata.
Sekarang Ara yang jadi tidak tega.
"Aku mau bersama suamiku, Bu," bisik Ara pada Megan.
"Jangan dulu, nanti kau akan dibuat tidak bisa berjalan. Jadi nanti saja kalau pesta kedua sudah selesai, kalian menginap di kamar hotel," jelas Megan. Dia dan Rebecca sudah menyiapkan sesuatu.
"Memangnya kalau berhubungan suami istri efek sampingnya tidak bisa berjalan?" tanya Ara karena terdengar tidak masuk akal.
"Untuk pengantin baru, ibu yakin kalian tidak akan melakukannya sekali dua kali," jawab Megan.
Ara jadi malu karena harus membahas masalah seperti itu tapi mengingat Zester yang sudah lama menahan diri, itu cukup masuk akal.
Dia hanya perlu mempersiapkan diri.
"Apa aku perlu minum jamu kuat, Bu?" tanya Ara kemudian.