
Pesta kedua pernikahan diadakan di salah satu ballroom hotel bintang lima. Persiapan di sana sudah sembilan puluh persen, Rebecca tampak puas sekali karena mengusung tema putih nan elegan.
Pesta kali ini tidak akan ada biduan dangdut seperti di kampung karena pesta sudah mempunyai dresscode yaitu Black Tie.
Black Tie. Ini adalah dress code yang paling formal di antara yang lainnya. Biasanya, acara-acara dengan kode busana black tie merupakan pesta yang super mewah dan elegan. Pakaian yang sudah pasti adalah tuxedo hitam dan bow tie/ dasi untuk pria, serta gaun floor-length untuk wanita.
Tamu-tamu yang datang pun pasti dari kalangan pebisnis dan teman-teman artis Theo Megan.
"Kau sangat seksi, sayang," komentar Theo melihat Megan memakai gaun yang ketat. "Kalau bisa ganti gaunnya!"
"Gaunnya sudah dipilihkan oleh bu presdir jadi tidak enak kalau berganti, lagipula cukup sopan dan tertutup hanya sedikit ketat saja," balas Megan.
Walaupun begitu Theo tetap tidak suka.
"Aku mau melihat Ara dulu," Megan pergi ke kamar yang dipakai untuk merias pengantin perempuan.
Di sana Ara memakai gaun mewah yang sudah disiapkan mertuanya.
"Putri ibu cantik sekali," komentar Megan.
"Pestanya tidak akan lama seperti di kampung," lanjutnya.
"Seharusnya ibu bicara seperti itu pada menantu ibu," balas Ara. Karena yang menginginkan pestanya cepat selesai adalah Zester.
Malam itu, pesta begitu ramai tapi berjalan dengan santai. Semua ikut berbahagia dan berdoa untuk pasangan pengantin.
"Maukah kau berdansa denganku Mrs. Schweinsteiger?" tanya Zester pada Ara yang sibuk dengan teman-temannya.
Terpaksa Ara harus meninggalkan teman-temannya dan mengikuti suaminya untuk pergi ke lantai dansa.
"Kau pasti bosan dengan kolega bisnismu," tebak Ara.
"Yah, aku sedang tidak berminat membicarakan masalah bisnis sekarang," sahut Zester.
Keduanya berdansa dengan mesra, mata Zester tidak lepas dari melihat wajah Ara yang begitu dekat dengannya.
"Aku ingin menciummu, Yank," ucap Zester.
"Kalau bukan di sini berarti boleh, 'kan?" Zester ingin membawa Ara keluar dari tempat acara namun langkahnya terhenti oleh para pengawal.
Theo tiba-tiba muncul karena sudah menduga hal ini akan terjadi lagi.
"Mau dibawa kemana lagi?" tanya Theo.
Kali ini Zester tidak boleh kalah, dia harus membuat negoisasi dengan ayah mertuanya itu.
"Sebagai menantu yang baik, saya akan memenuhi kewajiban saya, ayah mertua," Zester mendekat dan mencoba menepuk pundak Theo. Dia akan memberikan sugesti untuk menghipnotis ayah mertuanya.
Sebelumnya dia sudah belajar keras untuk melakukan ini.
"Saya akan membuat cucu untuk ayah mertua jadi biarkan saya membawa Ara!"
Entah karena kelelahan atau apa, Theo langsung membuka jalan untuk menantunya.
"Ya, buatkan cucu untukku!" ucap Theo.
Sebelum Theo sadar, Zester segera membawa Ara pergi dan masuk ke dalam lift.
Di dalam lift pasangan itu segera bercumbu sampai lipstik yang dipakai Ara berpindah ke bibir Zester.
"Sejak kapan kau bisa menghipnotis seperti itu?" tanya Ara seraya mengusap bibir suaminya.
"Itu hanya faktor keberuntungan saja, Yank," Zester mengangkat tubuh Ara untuk keluar lift. Dia membawa istrinya itu ke kamarnya yang ada di kamar president suite.
Kamar itu sudah dihias oleh Rebecca dan Megan sebelumnya.
Ada sebuah kotak hadiah untuk Ara di sana, karena perasaannya tidak enak gadis itu membawanya ke dalam kamar mandi.
"Aku mau mandi dulu," pamit Ara.
Setelah pintu kamar mandi tertutup dan terkunci, Ara segera membuka kotak hadiahnya dan gadis itu mengangakan mulut karena melihat lingerie seksi berwarna merah.
"Ya ampun, ibu dan mommy..." Ara mengambil lingerie itu dan merasa merinding melihat bentuknya. "Apa aku memang harus memakai kain tembus pandang ini?"