
Karena harus kembali beraktivitas dan bekerja lagi, semua anggota keluarga harus rela berpisah dengan baby Kaizen yang semakin menggemaskan itu.
"Opa pulang dulu, nanti kalau opa manggung sekalian Kai diculik ke kampung," ucap Theo sebelum pergi.
"Kita foto sama-sama dulu," Megan sibuk menyiapkan kameranya sedari tadi.
Selama beberapa hari, Megan puas membuat konten dan baby Kaizen pasti akan menjadi idola baru followersnya.
Begitu juga dengan Rebecca dan Mike harus pergi karena mereka harus mengurus anak yatim yang ada di panti, apalagi mereka juga berencana membangun rumah kanker.
Semua semata-mata Rebecca lakukan untuk menebus dosanya di masa lalu, dia sangat bersyukur karena mempunyai suami yang selalu mendukungnya.
Sekarang hanya menunggu Zester naik jabatan menjadi presdir karena lelaki itu sudah mempunyai pewaris.
Setelah kepulangan anggota keluarga, rumah menjadi sepi hanya terdengar suara baby Kaizen yang sesekali menangis.
"Yank..." panggil Zester yang baru pulang dari belanja keperluan bayi.
Lelaki itu membeli pompa ASI dan beberapa botol susu.
"Aku di sini," balas Ara yang menimang bayi di ruang tengah.
Semenjak kepergian para orang tua, bayi itu sedikit rewel dan terus menangis.
Zester mendatangi istrinya itu dan meminta Ara untuk memompa ASI.
"Mulai sekarang kita harus stok ASI di kulkas, Yank. Jadi, kita bisa bergantian menjaga Kai," ucap Zester.
"Tapi, kau harus mulai bekerja Zee," Ara ingin menolak.
Namun, suaminya tetap memaksa. Dia ingin ikut andil mengurus anak.
Ketika tengah malam saat waktunya minum susu dan ganti popok sebisa mungkin Zester tidak membangunkan Ara.
"Jangan nakal kalau daddy tinggal nanti, okay," ucap Zester seraya menyusui bayinya memakai dot berisi ASI Ara yang sudah diperah.
"Apa anak daddy ingin udara segar?"
Zester membawa bayinya ke belakang rumah, rupanya di jembatan penghubung ada Zein yang juga menyusui bayinya di tengah malam.
Zein melihat baby Kaizen yang masih sibuk menyedot susunya, sementara baby Shiren sudah selesai dan waktunya bersendawa.
Jadi, Zein menepuk-nepuk punggung bayinya.
"Tampan, 'kan?" tanya Zester bangga.
"Putriku juga sangat cantik," Zein mendekatkan bayinya.
Pada saat itu mata besar baby Shiren terbuka dengan cantik.
Sampai baby Kaizen melepaskan dot susunya, tangan bayi itu ingin menyentuh bayi perempuan yang lahir di hari sama dengannya.
"Lihatlah Zee, anakmu menyukai putriku," komentar Zein.
"Suka apanya?" Zester berusaha memperbaiki gendongannya. Tapi, baby Kaizen justru menangis karena dijauhkan dari baby Shiren.
Tangisan bayi laki-laki itu membuat Ara terbangun dan mencari bayinya.
"Kenapa?" tanya Ara yang menyusul. Dia mencoba mengambil alih bayinya tapi baby Kaizen tidak mau berhenti menangis.
Bayi itu akan berhenti ketika berdekatan dengan baby Shiren.
"Ini tanda-tanda, Zee," Zein terus saja mengompori.
"Mereka ini masih bayi jadi jangan memikirkan hal yang belum pasti," balas Zester. Bisa-bisanya Zein terus saja memikirkan masalah perjodohan.
"Ini bukan jamannya Siti Nurbaya!"
"Sejak kapan kau tahu tentang cerita Siti Nurbaya?" tanya Zein penasaran.
"Sejak aku cosplay jadi Jaka Tarub!" jawab Zester asal-asalan.
Ara menyenggol perut suaminya, dia tidak mau awal pertemuan mereka diketahui semua orang. Bagaimana kalau kelakuan Zester yang suka mengintip orang mandi diikuti oleh baby Kaizen?