
Setahun kemudian...
"Mum... Mum..." Kaizen yang mulai belajar bicara memanggil sang mommy.
Di belakangnya ada baby sitter yang menjaga langkah kaki Kaizen mencari Ara.
"Mum..." panggil Kaizen lagi.
Ara mendengarnya samar-samar tapi tidak membalasnya karena tengah muntah-muntah.
"Apa Nyonya baik-baik saja?" tanya pelayan yang membantu Ara.
"Belikan aku alat tes kehamilan, aku ingin mencoba memastikan dulu karena sudah terlambat datang bulan," ucap Ara. Dia keluar dari kamar mandi dan bergantian mencari Kaizen.
Rupanya Kaizen menangis karena tidak menemukan Ara.
"Mommy di sini, maaf ya tadi mommy ada di kamar mandi," ucap Ara seraya mengangkat tubuh gembul Kaizen ke gendongannya.
Ara lalu membawanya ke belakang rumah dan Kaizen langsung meminta turun, balita itu berlari ke jembatan penghubung.
"Shiren tidak ada Kai," ucap Ara yang menyusul putranya.
Keluarga Zein memang tengah pulang kampung di Arab sana dan belum pulang selama berbulan-bulan, mungkin Zein sambil mengurus bisnis di sana.
Hal itu membuat Kaizen merasa kehilangan.
"Ayo kita main," Ara mengalihkan dengan bermain ayunan yang di belakang rumah.
"Kalau Kai punya adik, bagaimana?"
Kaizen mengusap-usap perut sang mommy dan menyenderkan kepalanya di sana, seolah tahu kalau adiknya ada di dalam perut.
Insting Ara semakin kuat kalau dia tengah hamil anak kedua.
Namun, kali ini gejalanya berbeda karena dia mengalami mual dan muntah.
"Apa kali ini perempuan?" gumam Ara kesenangan.
Pada saat itu, Zester pulang lebih cepat setelah melakukan meeting di luar bersama kliennya.
Ketika sampai di gerbang, dia berpapasan dengan pelayan yang baru pulang membeli alat tes kehamilan.
"Tuan," sapanya.
"Kenapa kau terburu-buru?" tanya Zester.
"Ini...." Pelayan itu memperlihatkan alat tes kehamilan yang baru dibelinya. "Nyonya meminta saya untuk membeli ini!"
Zester tahu alat apa itu jadi dia mengambilnya karena ingin memberikannya langsung pada istrinya.
"Yank..." panggil Zester.
Ara masih menimang-nimang Kaizen di ayunan belakang.
"Biar aku yang menggendongnya," Zester mencoba mengambil alih dengan meletakkan bayi gembul itu di dadanya dan menepuk-nepuk punggungnya pelan.
Setelah dirasa tidur Kaizen lelap, Zester mengajak istrinya ke kamar.
Walaupun Kaizen punya kamar sendiri, Zester ingin menidurkan putranya di kamarnya.
"Apa tidak apa-apa Kai tidur di sini?" tanya Ara dengan berbisik.
"Tidak apa," Zester menepuk bokong gembul Kaizen. Kemudian dia memberikan alat tes kehamilan yang dibawanya pada Ara.
"Cek sekarang, Yank!"
"Kenapa kau bisa membawa alat tes kehamilan, Zee?" tanya Ara. Padahal dia ingin memberi surprise.
"Tidak penting, cek saja dulu!" pinta Zester.
Karena suaminya tidak sabaran, Ara segera mengecek di kamar mandi.
Saat menunggu, jantung Ara berdegup kencang dan terlihat dua garis merah yang membuat perempuan itu berteriak kecil.
Ara buru-buru keluar kamar mandi dan memeluk suaminya.
"Bagaimana hasil donor vitamin putihku, Yank?" tanya Zester.
"Lihatlah sendiri," Ara memberikan hasilnya dan Zester merasa bersyukur.
Awal hubungan dengan drama impoten sampai ketahuan kalau mereka saling terhubung lalu berakhir menikah dan sekarang akan menghasilkan anak kedua.
"I love you, Ara. Gadis kembang desa Suka Maju," ucap Zester.
"Terima kasih sudah menjadi istri dan ibu dari anak-anakku!"
"I love you too, Zee. Bule lokal yang mempunyai ular impoten!" Ara berjinjit dan mengecup bibir suaminya.
Mereka belajar sesuatu jika untuk membagi cinta yang lebih besar, mereka harus saling mencintai dan dicintai.
..._...
...TAMAT...
Plot untuk Ara dan Zee udah habis ya tapi bab selanjutnya akan ada bab spesial Kaizen dan Shiren.
Jadi, jangan di unfavorit dan tunggu notif selanjutnya.
Untuk cerita dedek Agam akan launching hari senin ya.
Dukung othor terus ya ayang2ku tanpa kalian othor hanya remahan rengginang.
Dan othor masih banyak upil receh yang belum ditebar untuk kalian, wkwk