Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 123 - Cerita Sebenarnya



Kehamilan Ara berkembang dengan sehat, perempuan itu mulai mengikuti kelas hamil dan siapa sangka Ara akan bertemu di kelas yang sama dengan istrinya Zein.


"Kita kan tetangga," tegur istri Zein bernama Farah.


Farah sering melihat Ara tapi masih enggan menegur karena malu tapi hari ini dia memberanikan diri.


"Dunia memang sempit, ya," balas Ara.


Mereka berdua pun berkenalan dan langsung akrab, mereka mulai membicarakan jembatan penghubung di antara rumah mereka dan rencana pembuatan taman.


"Suamiku ingin membuat kolam ikan," ucap Ara memberitahu.


"Kebetulan suamiku juga ingin membuat taman bunga," balas Farah.


Akhirnya sudah diputuskan bahwa jembatan penghubung itu tidak akan pernah dihancurkan, kedua wanita itu justru berencana ingin mempersatukan Zester dan Zein lagi supaya salah paham diantara mereka terselesaikan.


"Kalau begitu, weekend nanti kita akan barberque bersama," ucap Ara.


"Iya, sebagai perayaan usia kandungan kita yang memasuki trimester kedua," balas Farah.


Mereka mengutarakan niatnya itu pada suami masing-masing, Zein tampak bersemangat tapi Zester yang berusaha menolak.


"Kenapa kau dekat-dekat dengan mereka, Yank," protes Zester.


"Mereka kan tetangga kita apalagi bayi kita nanti seumuran dengan bayi mereka," Ara berusaha membujuk suaminya.


"Ini pasti bagian dari rencana busuk Zein, dia itu sengaja menikah di bulan yang sama denganku dan membeli rumah tepat di samping rumahku," ucap Zester dengan menggebu-gebu. Dia sangat yakin kalau selama ini Zein sudah mengawasinya.


"Itu artinya dia perhatian padamu, lebih baik kau dengarkan dulu penjelasan dari sudut pandang Zein setelah itu kau baru bisa memutuskan," balas Ara.


Sebagai pawang Zester, Ara selalu bisa meluluhkan hati lelaki itu.


Zester bersedia melakukan pesta barberque tapi dilandaskan demi istrinya.


Benar saja saat hari H tiba, Zester hanya diam seperti orang sakit gigi. Biasanya para suami yang memanggang daging sementara para istri menyiapkan keperluan lain.


"Aku membeli daging Arab, Zee. Kau menyukainya, 'kan?" tanya Zein.


Zester tidak merespon, dia memilih memanggang daging yang sudah dimarinasi.


"Tambahkan minyak zaitun pasti rasanya tambah enak," Zein terus saja mengajak lelaki itu berbicara.


Akhirnya Zester jengah juga karena mulut Zein yang tidak bisa diam.


"Kalau kau bicara sekali lagi, aku benar-benar akan membubarkan acara tidak jelas ini," ucap Zester mengancam.


Zein menghela nafasnya, padahal dia hanya ingin mencairkan suasana saja. "Maafkan aku, Zee!"


"Aku benar-benar tidak bermaksud meninggalkanmu sendirian!"


"Jangan bahas masa lalu!" Zester menolak untuk mengungkit masalah yang ada di antara mereka.


"Dengarkan aku dulu, saat daddy mu meninggal hari itu juga bisnis keluargaku mengalami kebangkrutan. Aku begitu sibuk sampai lupa mengabarimu," Zein buru-buru bercerita.


"Aku tidak dekat dengan teman lain, hanya saja aku mendekati mereka supaya mereka mau memberi belas kasih untuk keluargaku agar memberi waktu pembayaran hutang yang besar!"


"Kita sama-sama mengalami musibah di hari yang sama Zee, aku tidak ingin meminta bantuan padamu disaat kau masih dalam keadaan berduka,"


"Semenjak itu hubungan kita merenggang dan kau pergi ke luar negeri!"


Zester masih saja diam tidak merespon, suasana hatinya jadi semakin buruk. Dia pergi begitu saja masuk ke dalam rumahnya.


"Biar aku yang berbicara pada suamiku," ucap Ara yang mengejar Zester.