Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 41 - Rencana Cadangan



Ara hanya ingin menempelkan bibirnya saja dan mencoba membalik keadaan untuk mempermalukan Riri tapi Zester justru terbawa suasana, lelaki itu membuka mulut yang membuat ciuman mereka jadi begitu intim.


Bahkan Zester mengangkat tubuh Ara sambil berjalan untuk masuk ke dalam lift tanpa melepaskan ciuman mereka.


"Mmphh!" Ara memukul dada Zester ketika mereka sudah berada di dalam lift.


Otomatis Zester menurunkan tubuh Ara ketika pintu lift sudah tertutup.


"Kenapa menciumku sungguhan?" protes Ara sambil mengusap-usap bibirnya.


Zester langsung merapatkan tubuh Ara ke dinding lift karena gadis itu sudah membangunkan sesuatu.


"Kenapa tiba-tiba melakukan tindakan impulsif seperti itu? Kau akan membuatku seperti direktur cabul di depan semua karyawanku," protes Zester.


"Itu karena calon istrimu," Ara berusaha membela diri.


"Kalau sudah begini, gosip tentang perselingkuhanku akan semakin menyebar dan namamu akan dicap jelek oleh semua orang," ucap Zester yang tidak mau menyeret Ara ke dalam masalahnya lebih jauh.


"Bukankah ini yang kau inginkan? Batal menikah?" tanya Ara.


"Iya, tapi tidak dengan cara ini lagipula aku sepertinya tidak berdaya dengan janji yang aku buat sendiri," Zester menghela nafasnya dalam sekali.


"Ini bukan masalah prinsip, janji itu seperti kesempatan mempunyai kehidupan kedua jadi bukan sembarang janji!"


"Maka dari itu aku membantumu, kau tidak penasaran dengan alasan kenapa aku melakukannya?" tanya Ara.


Sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk memberitahu lelaki itu.


TING!


Lift terbuka dan Ara buru-buru menarik tangan Zester untuk keluar dari lift untuk menuju ruangan direktur.


Sementara di loby suasana semakin gaduh karena pak direktur memilih pergi bersama selingkuhannya dan meninggalkan calon istrinya.


Tentu saja hal itu membuat harga diri Riri diinjak-injak.


Perempuan itu keluar dari perusahaan dengan hati kesal.


Karena yang tahu rahasianya hanya gadis penolong asli.


"Sial!" Riri langsung mengumpat.


Buru-buru dia masuk ke mobilnya untuk mengonsumsi obat terlarang supaya pikirannya tenang.


Semenjak pindah ke ibukota, Riri masuk ke circle pertemanan yang salah. Gadis yang dulunya polos kini berubah menjadi gadis liar karena penasaran dengan banyak hal.


"Hahaha..." Riri tertawa ketika efek dari obat yang dikonsumsinya bekerja.


"Kau pikir aku tidak mempersiapkan rencana cadangan, kali ini tidak ada yang bisa menggagalkan pernikahanku!"


Setelah itu, dia pergi dan tujuannya adalah mansion Schweinsteiger.


Kalau di mata Zester, calon istrinya dan sang mommy begitu dekat, itu salah besar. Tampilan luar memang begitu tapi di dalamnya, ada rahasia di antara satu sama lain.


Saat sampai Riri segera menemui perempuan yang telah melahirkan Zester itu.


"Di mana nyonyamu?" tanya Riri pada kepala pelayan yang menyambut kedatangannya.


"Nyonya sedang melakukan treatment," jawab kepala pelayan itu.


Di mansion itu memang ada salon pribadi dan Rebecca Schweinsteiger sering menggunakannya daripada dia harus datang ke klinik lebih baik memanggil dokter kecantikan ke mansionnya.


Riri masuk ke salon pribadi itu dan ikut melakukan treatment dengan mengganti bajunya.


"Ternyata kau," komentar Rebecca malas ketika melihat wajah Riri. "Bukankah kita akan bertemu saat orang tuamu datang?"


"Ada masalah serius, Zee selingkuh," lapor Riri.


Rebecca hanya melirik ke arah calon menantunya itu, dia sedang facial jadi tidak bisa terlalu banyak bergerak dan bicara.


"Kali ini mommy harus membantuku membereskan selingkuhan Zee," pinta Riri.