
Konferensi pers tentang pembatalan pernikahan Zester dan Riri, terdengar oleh Theo.
Pak kades kembali uring-uringan karena mengira jika Ara juga terlibat atas pembatalan pernikahan itu.
"Kan sudah jelas alasan pembatalan pernikahannya," Megan berusaha menenangkan.
"Lagi pula waktu itu juga sudah jelas kalau dia bicara bahwa akan menikahi perempuan yang salah!"
"Ara sudah besar jadi bisa menentukan pilihannya sendiri!"
Mendengar itu, emosi Theo sedikit mereda. Dia masih merasa kalau Ara adalah gadis kecilnya.
"Rasanya baru kemarin gadis kecil itu bermain dengan Jarwo dan main tai ayam," ucap Theo.
Megan tergelak. "Aku juga masih ingat Ara menangis sampai tidak mau makan karena Jarwo mati. Kita bahkan mengubur ayam itu bersama-sama dan berdoa untuk Jarwo supaya tenang di alam kubur!"
"Tapi, waktu sudah berlalu. Putri kita sudah besar jadi jangan terlalu mengekangnya karena hal itu bisa membuatnya terbebani!"
Akhirnya Theo mengalah, dia sebenarnya sudah berkali-kali membicarakan hal ini dengan istrinya. Saat hari di mana itu tiba, rasanya Theo masih tidak rela.
"Kita pulang dan biarkan Ara menyelesaikan masalahnya sendiri. Kalau gadis itu memerlukan bantuan kita pasti dia akan menghubungi kita, bukan?" tambah Megan.
"Ya, benar," Theo memeluk istrinya sampai atensi mereka teralihkan dengan pintu apartemen yang terbuka.
Ara dan Agam sudah kembali, hari itu juga keluarga kecil Ara kembali ke kampung, meninggalkan gadis itu sendirian lagi.
Rasanya apartemen itu kembali sunyi, Ara menyibukkan diri dengan membersihkan hunian itu.
Setelah selesai, Ara turun ke lantai bawah dan pergi ke swalayan untuk memakan mie instan. Sesekali gadis itu melirik ponselnya, tidak ada pesan atau panggilan yang masuk.
Ara tahu Zester sudah melakukan konferensi pers dan membersihkan nama baiknya di perusahaannya.
Seharusnya Ara senang karena tugasnya sudah selesai kecuali masalah ular karena dia belum tahu kalau ular itu sudah bisa bangun sendiri.
"Cih, pasti dia sudah tidak membutuhkan aku lagi, bukan?" Ara jadi kesal. Dia seperti habis manis sepah dibuang.
Setelah mie instannya habis, seperti biasa dia akan membeli es krim dan memakannya di taman dengan bermain ayunan.
Biasanya dia berbicara berdua dengan Zester tapi sekarang Ara sendirian.
"Setidaknya ucapkan terima kasih, jangan menghilang tanpa kabar," Ara terus menggerutu sambil menggigit es krimnya.
Ara tidak tahu saja kalau Zester memang mengurus banyak hal supaya lelaki itu benar-benar bersih. Zester tidak mau saat mendekati Ara tapi masih dikait-kaitkan dengan masa lalunya.
Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di area taman itu, Ara mengenal merk mobil sport itu dan benar saja tak lama Zester keluar dari mobil dengan pakaian casual.
"Kenapa aku jadi berdebar?" batin Ara. Baru saja dia memikirkan lelaki itu tapi Zester langsung muncul.
Bukan kebetulan, memang Zester membayar salah satu security di apartemen untuk memata-matai Ara, jadi dia tahu apa yang dilakukan gadis itu.
"Merindukan aku?" tanya Zester seraya mendekat.
"Gak tuh," Ara menjawab dengan memalingkan wajahnya.
Namun, tanpa diduga Zester justru berjongkok di depan Ara sambil meraih tangan gadis itu dengan lembut.
"Aku datang bukan sebagai direktur, bukan juga sebagai laki-laki impoten yang minta kau sembuhkan tapi aku datang sebagai laki-laki biasa yang ingin mengenal lebih jauh gadis desa Suka Maju," ucap Zester kemudian.