INDIGO & 7

INDIGO & 7
Aris Indigo.



Pagi itu bayu membawa motor matic supaya aris bisa di boncengnya. Sampai di TPA aris sudah siap dan mereka berdua langsung berangkat. Sampai di parkiran aris mengucap terima kasih lalu mereka berjalan bersama karena kelas mereka se arah bedanya kelas aris di lantai 2.


"Mas kok mau sih repot repot jemput aku dan nanti nganterin aku pulang."


"Aku kan berangkat dan pulang sendiri ris apa salahnya boncengin kamu kan lebih irit. Tapi kalau aku ada acara sama mbak nafia kamu naik angkot gpp kan ris nanti aku kasih uang ongkosnya."


"Gapapa mas orang aku di jemput aja udah seneng. Jarang lo ada orang baik kayak mas bayu ini. Kalau emang ada perlu sama mbak nafia aku naik angkot gpp mas gak usah si bayarin." ucap aris.


Mereka berpisah di tangga aris naik ke lantai 2 dan bayu masih berjalan sampai kelas. Saat berjalan bayu melihat sekelebat bayangan hitam menembus langit2 menuju lantai atas. Ya karena bayu tidak merasa di ganggu ya udah bodo amat. Jam pertama sampai kam 3 lancar dan tiba pergantian jam ke 4 ada suara jeritan yang melengking panjang lalu suara gaduh terdengar seperti suara kursi terlempar meja di geser geser. Kegaduhan semakin bertambah ketika beberapa jeritan terdengar bersamaan. Guru yang mengajar kelas bayu jadi bingung dan di luar banyak siswa siswi berlarian di ikuti beberapa guru yang menuju lantai 2.


"Anak anak jangan ada yang keluar kelas." perintah pak Suteko guru bahasa jawa itu lalu keluar kelas. Tapi baru aja di omongin para cowok udah keluar termasuk bayu juga. Sampai di tangga udah full ya udah bayu tungguin di bawah pohon sambil nyantai. Dari arah tangga yang lain muncul aris yang sepertinya mau ke kantin.


"Ris mau kemana?" tanya bayu saat aris sudah dekat.


"Mau ke kantin aja mas di kelas rame banget males aku."


" Emang di kelasmu ada apa ris?"


"Di kelas sebelahku sih mas bukan kelasku. Ada 5 cewek gak jelas teriak dan ngamuk gitu." jawab aris polos.


"Ohh kesurupan itu namanya dodol. Ya udah bareng ke kantin ris." ucap bayu.


"Iya mas paling juga sampek istirahat baru kelar tuh cewek cewek."


"Tau darimana ris?"


"Biasa mas ada yang jajal ilmunya." ucap aris santai.


"Hah siapa ris?"


"Dia ada di gudang belakang sekarang. Bersekutu dengan jin di dalamnya."


"Hah kamu tahu di dalam gudang ada jinnya ris? kamu indigo ya?" tanya bayu.


"Entahlah mas apa itu namanya yang jelas aku bisa lihat makhluk yang tidak bisa di lihat mata biasa."


"Tapi mas kok juga tahu di dalam gudang ada jin? apa mas bisa lihat juga? atau pernah ketemu?"


"Mas sama kayak kamu ris. Berarti kamu tahu dong di kantin ini kita tidak hanya bertiga?"


"Tahu mas itu di pojok ada mas2 berseragam dengan wajah pucat. Itu di atap ada cewek tergantung, Terus itu ada pocong tiduran di bawah meja,Itu di atas pohon juga ada mbak kunti yang lagi ngobrol."


"Udah ris jangan si sebut semua. Dari kapan kamu indigo?"


"Dari aku lahir sih mas. Kalau mas bayu sejak kapan?" tanya balik aris.


"Sejak aku tersesat ya baru 4 bulanan lah dari sekarang."


"Kamu nggak takut ris sejak kecil lihat setan?"


"Awal pasti takut mas juga gitu kan tapi lama kelamaan ya biasa aja karena itu ketetapan dari Allah."


"Betul juga ris alam kita memang bersebelahan dengan mereka. Udah bahas horornya buruan pesen aku bayarin."


"Kaki ini aku tolak mas. Mas udah terlalu baik aku bayar sendiri aja."


"Oke mas yang bayarin tapi aku pulang naik angkot aja."


"Kok gitu. Ya udah deh kamu bayar sendiri."


"Kok ada ya orang se aneh aris di bayarin malah ngancem pulang naik angkot padahal kalau orang lain di posisinya pasti seneng banget di bayarin makan minum pulang di anter. Dasar bocah indigo." Batin bayu.


Setelah pesanan datang bayu dan aris langsung memakannya karena kalau dingin udah nggak enak.


Selesai makan mereka lanjut ngobrol.


"Ris gw mau tanya. Itu bosmu namanya anggar kan? emang lu kenal sama bosmu?"


"Justru mas anggar yang bantuin aku mas. Sekolah di sini juga karena dia. Mas anggar baik banget mas. Dia juga nawarin tinggal di rumahnya dengan alasan kesepian di rumah sendiri. Tapi aku tahu diri lah mas jadi aku tolak karena aku merasa nggak pantas tinggal di rumah mewah milik mas anggar belum tentu keluarganya suka kehadiranku."


"Kamu pernah di ajak ke rumahnya ris?"


"Pernah mas rumahnya mewah banget dan halamannya luas."


Bel istirahat berbunyi dan kantin ramai karena pada ngomongin kejadian kesurupan tadi.


"Anggar emang anak orang kaya ris tapi sayangnya anggar kurang kasih sayang. Orang tuanya mengira dengan anggar punya banyak uang bisa membuatnya bahagia. Kenyataanya dia selalu kesepian."


"Iya mas betul itu. mas anggar juga bilang giru ke aku dan minta saran supaya dia nggak kesepian di rumah. Aku kasih saran kalau di rumah sepi kenapa mas anggar nggak coba keluar aja cari temen yang banyak kalau bisa cari ilmu sebanyak banyaknya."


"Ohh jadi anggar kuliah itu karena usulmu ris."


"Mas bayu kenal mas anggar? Dia umurnya udah 23 loh mas."


"Tahu lah dia juga alumni SMK sini kok ris."


"Serius mas? Kok mas bayu tahu?"


"Hehe ceritanya panjang next time aja tak ceritain."


"Ehh ris lu tahu nggak anak kurus culun yang juga indigo kayak kita? dia angkatanmu."


"Kata adit temen sekelasku ada anak akuntansi 1 yang punya indra ke enam gitu tapi aku juga belum pernah ketemu. Namanya bono mas. Satu lagi kalau yang ini aku ketemu langsung. Dia anak tata busana namanya indah. Waktu itu aku naik tangga dan si indah turun tangga aku lihat kalau aura indah menyala kebiruan gitu. Kayaknya dia juga indigo kayak kita." ucap aris.


"Ohh iya mas tanya apa mbak nafia juga indigo? soalnya tubuhnya seperti bersinar walau auranya biasa aja." tanya aris lagi.


"Masa sih? kok aku nggak pernah lihat ya? Btw auraku warna apa ris?" tanya bayu.


"Aura mas itu biru terang dan aura mas bayu itu samar samar jadi kalau nggak fokus nggak kelihatan."


"Sama dong ris auramu juga gitu."


"Iya kah? Kenapa kita nggak bisa lihat aura kita sendiri ya."


"Aku juga tahu mas."


Mereka lanjut ngobrol sampai bel masuk yang memisahkan mereka.