INDIGO & 7

INDIGO & 7
Camp Sekartaji.



"Aku takut ular yank." ucap nafia.


"Kan ularnya udah pergi sayang nggak perlu takut ya." ucap bayu menenangkan.


"Tapi dari tadi aku lihat ular dari pos 1 sampai sini." ucapan nafia yang membuat bayu dan wulan terheran bagaimana nafia bisa melihat ular sedangkan bayu tidak.


"Lan apa benar dari tadi ada ular?" tanya bayu.


"Aku tidak melihat ular selain raja baruklinting saja."


Setelah istirahat mereka lanjut berjalan dan kali ini nafia menggenggam tangan bayu dengan erat.


Tiba di pos alap alap mereka istirahat dan berfoto foto. Di pos ini istirahat agak lama karena rahma sudah merasa kakinya kesemutan. Akhirnya bagas mengoleskan minyak GPU supaya kaki rahma tetap hangat. Di saat yang lain foto foto nafia malah diem aja di dekat tas ranselnya.


"Yank kita foro di sana yuk!" ajak bayu.


"Enggak ahh kamu aja aku di sini aja."


"Kamu kenapa sih kok nggak semangat gitu? kamu yang ngajak naik gunung udah aku turutin sampai sini kamu kayak gini. Kalau kamu kayak gini terus lebih baik kita pulang aja." ucap bayu tegas dan jengkel terhadap sikap nafia.


"M maaf yank bukannya gitu aku cuma takut."


"Takut apa? ular gak ada ular yang bisa menyakitimu selama ada aku fi." ucap bayu.


"I iya yank aku minta maaf ya."


Skip jam 2 mereka melanjutkan perjalanan dan di tengah jalan mereka beetemu 1 rombongan yang sedang istirahat. Salah satu dari rombongan itu berjalan menghampiri joy yang berjalan terdepan.


"Permisi mas saya juan boleh kami minta tolong?"


"Iya pak apa yang bisa di bantu?" tanya joy.


"Apa kalian bawa kotak medis? kalau bawa kami minta obat merah dan perban secukupnya mas buat keponakan saya tadi jatuh." ucap pak juan.


"Oh iya mas pak sebentar." joy membuka tas ransel milik eva.


"Ini pak."


Perjalanan di lanjut setelah rombongan itu juga berangkat jadi mereka berangkat bersama. Rombongan pak juan ternyata dari jawa barat dan mereka ke sini bersepuluh semua adalah saudara dan keluarga pak juan.


Sampai pos sekartaji sudah pukul 4 sore dan di base camp sekartaji sudah ada 2 tenda yang pemiliknya entah siapa karena tidak ada orang.


Bagas,joy dan bayu mengeluarkan tenda dari ranselnya. 1 tenda besar telah berdiri dan akan di tempati eva,rahma dan nafia. Tenda ke 2 ukuran sedang yang di tempati bayu,bagas dan joy. Tenda terakhir agak kecil pas untuk 2 orang yaitu tenda edi dan jono. Rombongan pak juan yang cowok sepertinya mencari kayu untuk membuat api. Dua tenda yang tadi tak bepenghuni tadi sekarang sudah ada orangnya tapi mereka membongkarnya dan merapikan lalu rombongan yang berjumlah 8 orang itu lanjut ke pos selanjutnya.


"Mereka gila atau bagaimana kok jam segini lanjutin perjalanan?" tanya joy.


"Hus udah biarin aja." ucap bagas lalu bagas mengeluarkan alat dari ranselnya yang ternyata itu kompor lipat wah pasti mahal nih harganya.


"Enaknya hiking bareng lu ya ini alat alat lu canggih semua bro." ucap joy memuji bagas.


"Udah lah jangan memuji terus ayuk kita cuci muka atau mandi dulu." ucap bagas.


"Yu cuci muka aja karena mandi di gunung sama aja bawa penyakit." ucap wulan dan bayu hanya mengangguk.


Skip pukul 6 mereka sedang memasak mi tiba tiba nafia minta di antar bayu buang air kecil. Akhirnya bayu mengantar nafia buang air di dekat sebuah sungai tapi tidak buang air di sungainya ya.


"Terus awasi cewekmu itu sepertinya dia di incar penghuni sini." ucap wulan.


Setelah nafia selesai bayu segera mengajaknya kembali ke tenda.


Malam itu begitu asik mereka menyanyikan lagu lagu romantis dan juga bersenda gurau. Nafia yang dari tadi diam juga sudah tertawa dan ikut menyanyikan sebuah lagu spesial untuk bayu. Pukul 8 bagas mengistruksikan para cewek untuk tidur supaya besok udah full lagi tenaganya. Saat asik ngobrol pak juan datang dan bergabung.


"Halo semua boleh gabung?" ucap pak juan.


"Wah alatmu canggih mas nggak perlu repot repot kalau begini. Kopi aja mas." ucap pak juan memuji alat bagas.


"Hehe iya pak biar praktis aja. Ini pak kopinya."


"Makasih mas. Saya ke sini mau tanya soal rombongan tadi mas. Waktu mulai petang kok mereka malah lanjut mendaki ya mas." ucap pak juan.


"Iya pak mereka aneh bukannya senang ada kita malah pergi." jawab joy.


"Mas saya mau bilang sesuatu tapi kalian jangan takut ya."


"Ada apa pak?"tanya bayu.


"Emm bekas tenda mereka tidak ada sama sekali mas saya tadi lewat kan tak lihat tapi kosong seperti tidak pernah ada tenda di sana."


"Apa jangan jangan...." ucapan jono di potong.


"Hush jangan bicara macam macam. Mungkin tendanya otomatis pak atau sebelum mereka pergi tadi bekasnya sudah di rapikan lagi." ucap bagas memotong supaya tidak berpikiran aneh aneh.


"Semoga saja begitu mas."


Mereka lanjut ngobrol sampai pukul 10 dan tenda rombongan pak juan sudah tertutup sejak jam 9 tadi tapi pak juan yang belum ngantuk malah ngobrol bareng bayu dan lainnya. Pukul 10 lebih 15 terdengar lolongan serigala dan bagas mengajak mereka semua untuk tidur dan pak juan masuk ke tandanya.


......................


"Yank yank tolongin aku." ucap nafia yang tubuhnya terbelit seekor ular besar berwarna hitam.


"Siapa kau? Aku tahu kau bukan ular biasa. Tunjukan wujudmu." bentak bayu.


"Lepaskan anak manusia itu." ucap wulan yang ternyata di samping bayu.


Kepala ular itu berubah jadi tubuh atas seorang wanita.


"Wulandari anak dari Galuh pandhita. Buat apa kau mengikuti anak manusia sepertinya. Memang matanya bagus tapi dia sangat lemah." ucap siluman ular itu.


"Aaaa sakit..." Teriak nafia kesakitan.


"Aku tahu kamu salah satu penjaga gunung wilis ini. Aku tidak berniat membuat keributan di sini. Maka dari itu aku minta baik baik supaya melepaskan anak itu dan jangan ganggu kami." ucap wulan dengan nada di buat selembut lembutnya. Sepertinya wulan mulai emosi.


"Tenang lan jangan membuat onar di sini." ucap bayu.


"Terus membiarkan cewekmu di bunuh siluman ular itu?" pertanyaan wulan membuat bayu terdiam.


"Kalau aku nggak mau bagaimana? mau apa kau?" tantang sosok siluman ular itu.


Slep wulan sudah berpindah di belakang siluman itu.


"Akun ku potong potong tubuh ularmu itu." jawab wulan.


"Hah kecepatan apa itu? Pasti dia bukan sembarang ular siluman." ucap siluman ular itu menengok ke belakang.


"Aku memang bukan siluman ular sepertimu." Ucap wulan membaca isi hati siluman itu.


Wulan memukul tapi sosok itu dapat menghindar tapi memang itu yang di inginkan wulan supaya dia bisa mengambil nafia di ekor siluman itu. Saat siluman ular itu menghindar ekornya melemah dan kesempatan itu tidak di sia siakan oleh wulan.


Secepat kilat wulan sudah di samping bayu bersama nafia lalu bayu terbangun dari mimpinya.


"Hah hah mimpi buruk apa tadi." ucap bayu dalam hati.


"Tadi bukan mimpi memang sukma cewekmu di incar siluman ular tadi tapi tenang barusan sudah aku buatkan perisai di tubuh cewekmu." ucap wulan.


"Terima kasih lan."