
Malam itu bayu menemani anggar tidur di teras beralas kasur lantai tipis.
"Kenapa nggak tidur di kamar gw aja sih nggar? disini banyak nyamuk pakk..." ucap bayu sambil menepuk nyamuk di lengannya.
"Gw ingin mendiginkan hati dan pikiran yu. Jujur 1 hal yang gw ingin sejak kecil dan baru sekarang terwujud adalah hal yang gw lakukan ini. Tidur di teras di temani orang yang peduli sama gw." Ucap anggar dengan mata berkaca kaca.
"Gw ingin menikmati momen ini yu. Kalo ngantuk tidur duluan aja gapapa besok kan masih sekolah." lanjut anggar menatap bulan di langit yang masih bulan setengah.
"Yaudah gw tidur duluan ya lu kalo mau ngapa ngapain bangunin gw ya." ucap bayu yang di balas anggukan oleh anggar.
Wulan telah tiba di rumah bayu dan melihat bayu tidur di teras bersama seorang pemuda yang sepertinya berumur lebih tua dari bayu. Wulan mendekat dan melihat aura yang keluar dari tubuh anggar sangat gelap. Wulan menyimpulkan pemuda itu punya masa lalu yang kelam dan tersimpan sampai sekarang. Wulan mencoba melihat masa lalu pemuda itu dan terlihat kejadian 'itu' lagi. Lalu wulan menyalurkan aura positif ke anggar dan hasilnya anggar mulai tenang dan merasa mengantuk dan tidur.
Di luar rumah roh jahat nadia sedang mengintai tapi tidak berani mendekat karena ada wulan. Wulan yang menyadari ada yang mengawasi dari jauh langsung menghilang entah kemana. Roh nadia yang sudah tidak melihat wulan merubah penampilannya menjadi nadia waktu masih hidup lalu mendekat ke rumah bayu. Tapi saat roh itu sampai di depan gerbang dia terpental akibat energi pelindung rumah bayu. Memang sejak awal wulan mengawal bayu dirinya sudah memasang pagar pelindung. Sosok itu mengaduh ke sakitan dan suaranya di dengar oleh anggar. Anggar bangun dan melihat sosok nadia terduduk memegangi kakinya di depan gerbang.
"Na Nadia ka kamu beneran nadia?" tanya anggar tergagap dan kaget sekaligus takut.
"Iya ngga ini aku nadia aku masih hidup. Aku ingin kamu ikut aku sebentar ada yang mau aku sampaikan. Ayuk ikut aku sebentar." ucap sosok nadia itu.
"Apa yang mau kamu omongin? Terus mau kemana kita?" tanya anggar keluar dari gerbang dan mengikuti sosok nadia berjalan.
Sosok nadia membawa anggar ke pekarangan tidak terurus yang tidak jauh dari rumah bayu. Wulan juga mengikuti sosok nadia dengan menyembunyikan wujud dan auranya.
Sosok nadia berhenti di tengah pekarangan yang gelap itu hanya ter sinari lampu redup dari rumah terdekat.
"Nad mau ngomong apa sih kok sampai ke sini segala apa nggak bisa di tempat yang terang aja?" tanya anggar menghentikan langkahnya karena rasa curiga.
"Gw tau lu udah ngerti kalau temen segeng lu dulu udah nggak ada." ucap nadia tanpa membalikan badan dengan kepala bergetar ke samping kanan dan kiri.
"Iya gw tau gw sendiri sekarang dan mau lu apa? lu mau bunuh gw sekalian? silahkan tapi gw jamin selamanya lu bakal jadi roh gentayangan nggak jelas." ucap anggar keras seolah melepas beban yang tersimpan begitu lama.
"Lu udah tahu siapa gw? terus kenapa lu nggak takut dan ngikutin apa mau gw? lu udah nggak takut mati?" ucap nadia berbalik dan berubah jadi wanita berbaju merah darah dengan wajah hancur, kuku panjang dan tajam tak lupa mata merah menyalanya.
"Takut gw udah lenyap. Gw siap mati kapan pun termasuk di tangan lu nad biar lu puas." Ucap anggar seolah menantang.
Sosok itu terlihat sangat marah dan mengeluarkan aura merah gelap.
'Baiklah kalau itu mau mu manusia biadap.' ucap sosok itu menyerang anggar dan anggah hanya mampu menutup mata.
'Sapapun makhluk yang melindungi ba**ngan itu jangan harap selamat'
'Dasar tolol. Buka mata lo kalau dendam udah buat lu buta.' ucap wulan yang tak bisa di lihat sosok itu.
'Siapa kau? Tunjukan wujudmu kalau berani ayo kita duel di sini!' teriak sosok itu.
'Woy jangan jadi pengecut yang bersembunyi kau? ' amuk sosok itu ke angin karena wulan sudah tidak di sana.
Pagi harinya bayu bangun dan tidak menemukan anggar di sampingnya lalu dia masuk dan bertemu ibunya.
"Bu lihat temen bayu nggak? kok udah nggak ada di depan?" tanya bayu.
"Ohh tadi pagi temenmu tanya lokasi mushola dan pinjem sarung ke ibu. Mungkin masih di sana kamu buruan sholat subuh dulu ya." ucap ibu bayu yang baru selesai sholat. Setelah itu bayu bergegas sholat dan menyusul anggar dan ternyata benar baru keluar gerbang terlihat anggar berjalan santai memakai sarung dari arah barat rumah bayu.
"Sialan gw cariin nggak ada lu. gw kira ilang." ucap bayu menghampiri anggar.
"Lu udah gw bangunin tapi nggak bangun ya udah gw tanya nyokap lu aja. Sini lu ikut gw mau ada yang gw omongin." ucap anggar membuka pagar rumah bayu.
"Mau ngomong apa lu?" tanya bayu setelah mereka duduk di teras.
"Tadi malem gw di datengin nadia atau hantunya nadia yu. Gw di ajak ke pekarangan sono(nunjuk arah barat) gw mau di bunuh yu.Tapi belum sempet gw di bunuh gw udah balik di rumah. Nah tadi gw sholat tujuannya buat nenangin diri dan mengecek pekarangan itu nyata atau cuma di mimpi gw dan ternyata memang ada yu." ucap anggar.
"Dan lagi nadia juga ngomong kalau temeng geng SMK gw itu udah nggak ada. Apa jangan jangan riski juga udah mati ya?" Lanjut anggar.
"Berarti kalau riski udah nggak ada tinggal lu sendiri dong. Wah bahaya nih karena sosok nadia ngincer lu nggar." ucap bayu tegang.
"Iya yu gw tau itu dan sekarang gw tahu dimana tempat gw berlindung. Hanya Allah tempat berlindungku dari para shaiton dan bahaya. Btw lu sekolah biar di anter supir gw aja sekalian gw pulang. Pas lu pulang nanti calling gw terus lanjut cari keberadaan riski karena dia target kita yang terakhir semoga dia masih hidup." ucap anggar.
Dari dalam rumah ibu berteriak.
"Yu masuk sarapan udah siap ajak temen mu sekalian."
"Iya bu bentar. Jadi nanti penentuan hasil akhir nih." jawab bayu.
...Lanjut chapter selanjutnya>>>...