
Buat yang ingin tahu seperti apa sih wajah nafia.
Oke Lanjut.
"Aku di parkiran capek nyariin kamu nggak ketemu." ucap nagia kesal.
"Ya udah aku ke parkiran."
Bayu bergegas ke parkiran dan di sana nampak nafia sedang berdiri di samping motor bayu dengan muka masam.
"Maaf ya sayang. Sebagai gantinya kamu mau apa aku turutin deh?" ucap bayu.
"Idih ngrayu. Langsung aja yank udah panas ini." ucap nafia.
"Bentar aku chat ayu dulu."
"Yu dimana?" chat bayu ke ayu.
"Mas yang dimana aku udah pulang ini tapi tak tunggu di depan sekolah. Cepetan ke sini mas kalau nggak aku pulang nih."
"Iya2 tunggu 5 menit sampe situ."
Bayu langsung meluncur ke SMP 1 M di depan sekolah nampak ayu yang mukanya sama kayak nafia tadi.
"Ini semua gara gara rindu sialan itu." ucap bayu dalam hati.
"Halo ayu lama ya nunggu. Maaf ya masmu tadi sempet ilang makanya lama." ucap nafia.
"Iya mbak gapapa..Ayuk mas ini kemana kita?" ucap ayu.
"Ikutin motor gw y jangan sampai ketinggalan."
"Tapi jangan kenceng2 juga bawa motornya mas motorku beda level sama motormu." ucap ayu protes.
"Iya iya."
Bayu langsung menuju rumah pak ustad di ikuti ayu di belakang.
"Assalamu'alaikum." salam dari bayu dan ayu.
"Wa'alaikumsalam eh sudah sampai ayo masuk masuk." ucap pak ustad.
Di dalam rumah sudah du gelar tikar dan meja kecil. Di mulailah hijrah nafia.
(Mohon maaf tidak bisa di ceritakan secara detail karena toleransi)
"Alhamdulillah nak nafia sudah masuk Islam."
"Al hamdu lilah?" ucap nafia.
"Jika kamu ingin bertanya tentang agama islam bisa datang kemari ya na. Bayu tolong di bimbing juga nafia tapi jangan sampai salah jalan ya." ucap pak ustad.
"Iya pak alhamdulillah kamu udah masuk islam say." ucap bayu senang dan memeluk nafia.
"Eh eh bayu bukan muhrim lepasin." perintah pak ustad sambil melotot.
"Hehe... maaf pak efek terlalu senang. Pak nama nafia nggak di ganti?" tanya bayu.
"Namanya nggak ada hubungannya dengan agama yang lama jadi nggak perlu di ganti cuman nanti di kirim do'a saja lewat tasyakuran."
Singkatnya nafia telah masuk islam dan bayu senang bukan main karena suatu saat nanti dia bisa menikahi nafia.
"Yang tahu nggak tempat yang sepi dan sejuk gitu?" tanya nafia di jok belakang.
"Mau ngapain say?"
"Pingin aja ke tempat kayak gitu tapi bukan untuk mesum lo ya." ucap nafia.
"Hehe kirain. Aku ada tempat yang sepi tapi di tepi hutan kalau udah sore serem kamu mau?"
"Ke taman atau apa gitu yank masak ke tepi hutan sih.Nanti ada hewan buas gimana?"
"Ke danau aja yuk!"
"Sepi nggak?"
"Sepi yuk gas."
Bayu dan nafia tiba di danau yang di maksud bayu. Di danau ini dulu adalah tempat pembuangan mayat para penjajah jadi bayu tak heran banyak makhluk halus di sekitar danau ini.
"Duduk situ yank."
"Kamu kenapa tiba tiba ngajak ke tempat sepi say?" tanya bayu setelah duduk.
"Nggak tahu yank aku merasa sebentar lagi akan ada masalah."
"Masalah apa say? Kamu menyesal masuk islam?" tanya bayu.
"Bukan itu aku bahagia masuk islam tapi orang tuaku belum tahu aku masuk islam." ucap nafia.
"Ya udah nanti ngomong ke ortumu tak temenin say."
'Jangan! Nanti mereka malah tambah marah say dikira aku pindah agama kamu paksa yank. Udah biar aku aja yang urus. Yank aku boleh minta sesuatu nggak?"
"Minta apa sayangku? Jangan hal yang aneh aneh ya."
"Itu mah pikiranmu yank yang aneh2. Aku cuma ingin tidur di pangkuanmu yank sampai senja tiba."
"Nanti kamu di cariin ortumu nggak say?"
"Mereka pulang besok pagi yank."
Di sebuah bangku agak panjang bayu duduk di tepi dan nafia merebahkan diri di samping bayu. Sambil mengelus rambut nafia bayu memandang wajah kekasihnya itu betapa cantik nafia dan bayu merasa beruntung mendapatkannya.
"Yank kenapa lihatin aku kayak gitu?" tanya nafia heran.
"Nggak kok kamu tambah cantik aja sayang." ucap bayu mulai gemas.
"Stop! Aku tau bentar lagi kamu pasti mau cium aku kan. Kamu pasti gemas kan yank."
"Hehe nggak kok pingin nyubit hidungmu ini lo kok bisa mancung."
"Aaa sakit yank hidungmu lo juga panjang."
"Anak kita kelak hidungnya harus mancung kayak kita ya." ucap bayu berganti mengelus pipi nafia.
"Aaa yank geli udah elus2 rambutku aja. Ya semoga juga mancung yank. Emang kamu nggak suka kalau anak kita hidungnya pesek?" tanya nafia sambil menutupi pipinya yang terasa geli.
"Ya nggak masalah sih tapi aneh aja ayah bundanya mancung masa anaknya pesek."
"Udah ahh kok bahas ayah bunda segala masih lama itu yank. Fokus ujian nasional dulu habis itu kuliah terus kerja cari duit yang banyak supaya kita bisa nikah."
"Terus kamu lulus mau lanjut kuliah say? atau kerja?"
"Aku kuliah dong sambil nunggu kamu lamar aku. Tapi aku ingin kuliah di luar indonesia yank boleh nggak?" tanya nafia.
"Emm gimana ya say. Rasanya berat buat LDR bahas kedepannya aja say gimana."
"Jawab sekarang dong yank kamu siap apa enggak? LDR itu cuma jarak yang memisahkan tapi hati kita tetap satu yank."
"Hmm ya udah aku siap." jawab bayu terpaksa.
"Kamu jawabnya nggak serius ahh." Nafia ngambek dan memilih tidur bayu hanya bisa terdiam dan berpikir.
Waktu terus berjalan bayu masih dengan lamunannya. Matahari sudah berada di ujung barat dan bayu membangunkan nafia untuk melihat senja. Nafia memotret momen itu dan tak lupa foto bareng bayu.
"Udah puas?" tanya bayu dan di jawab anggukan oleh nafia huh comel banget.
"Pulang sekarang?" tanya bayu dan nafis hanya menggeleng.
"Ngomong say kok diem aja " ucap bayu kesal.
"Aku laper beli makan dulu yank. Tapi yang enak." ucap nafia manja.
"Kamu tahu tempatnya?"
"Enggak. Pokoknya cari sambil muter muter kota yank."
Hmm cewek kalau udah ada kemauan nggak akan bisa di tolak. Akhirnya mereka muter muter sampai waktu maghrib hampir tiba.
"Say udah gelap ini bensinnya juga mau habis kita beli makan di mana?" tanya bayu yank udah mulai capek.
"Ke pengisian bahan bakar dulu yank di isi bensinmu. Habis itu lanjut ke tempat warung nasi padang. Mau yang pedes pedes aku." Okelah sekarang mereka sudah membeli nasi padang dan otw ke rumah nafia.