
Setelah di rasa aman aris keluar dari semak semak dan menghampiri kepala adi dan lukman tadi.
"Ris tolong kita. Kita belum mau mati." Ucap kepala itu yang sepertinya masih hidup.
"Hah apa? Ka ka lian bisa ngomong? Apa kepala kalian bisa di satuin ke tubuh yang di bawa monyet besar tadi?" Tanya aris yang kaget ketika tahu kepala adi dan lukman dapat bicara.
"Bisa ris sebaiknya cepat bawa kita ke tempat tubuh kita berada."
"Baiklah." Aris mengangkat kepala mereka dan membawa mereka seperti helm.
"Melesatlah ris karena waktu kita nggak banyak."
"Bagaimana caranya?"
"Pejamkan mata lalu bayangkan kamu bergerak secepat angin menuju rumahmu." Aris mengikuti ucapan dari adi dan setelah bayangannya sampai di rumah aris mual dan muntah.
"Kita sudah sampai ayo segera masuk."
Aris masuk dan dimas bersama monyetnya terlihat senang aris membawa apa yang mereka ingin cari tadi. Tapi karena kondisi tidak memungkinkan akhirnya mereka tinggal saja dan berharap aris menemukan nya.
"Alhamdulillah akhirnya kamu datang membawa apa yang kami mau. Sini ris! Akong kamu sudah siap dan menerima resikonya." ucap dimas.
"Aku rela berkorban demi 2 sahabatmu dimas." Aris tidak paham apa yang mereka bahas.
Dimas mengambil kepala adi dan lukman lalu menempatkan nya di atas tubuh masing masing. Akong berdiri di antara 2 tubuh itu lalu maju dan menyatukan kepala adi terlebih dahulu. Selesai itu ganti kepala lukman setelah kepala keduanya menyatu akong membaca mantra khas monyet. Akong lalu berubah jadi monyet raksasa lagi.
"Dimas aku pergi dan tak akan pernah kembali dan aksesmu ke kerajaan siluman kera akan tertutup juga. Selamat tinggal." Akong lalu menghilang dari pandangan berubah jadi cahaya kecil dan masuk ke tubuh aris. Aris merasa tubuhnya di masuki yang aneh. Ibaratnya seperti menelan kelereng. Anehnya yang melihat itu cuma aris saja.
"Mas sebenarnya apa yang terjadi?" tanya aris ke dimas yang tertunduk lesu.
"Ini semua kesalahan ku ris. Harusnya kita tidak buru buru menyerang darmo. Kalau aku tidak buru buru mungkin adi dan lukman tidak akan terpenggal kepalanya."
"Aku juga merasa tak berguna ikut kamu mas. Aku hanya beban mungkin jika aku nggak ikut tadi kalian bertiga bisa menang tak ada korban." ucap aris juga ikut sedih.
"Kamu ngomong apa? Jelas jelas darmo terlalu kuat untuk kita lawan. Jika tadi kamu nggak ikut mungkin nyawa adi dan lukman nggak akan selamat karena tak ada yang membawa kepala mereka ke sini. Tadi aku sempat berpesan ke akong kalau adi dan lukman gagal di hidupkan kembali aku memilih mati bersama mereka berdua ris. Mereka sahabat terbaikku kita belajar dan berlatih ilmu kebatinan bersama. Aku tak sanggup jika harus kehilangan mereka berdua." Ucap dimas kembali menunduk.
"Kita juga nggak akan bisa hidup tanpamu dim. Makasih ya dim dan ris berkat kalian kita nggak jadi mati." ucap adi yang sudah bangun dan sekarang memeluk dimas dan aris.
"Di lu udah bangun." dimas senang banget sahabatnya itu udah bangun.
"Hoaaah...Dimana ini?" ucap lukman bangun.
"Si anjir baru bangun tidur." ucap adi.
"Alhamdulillah gw bisa hidup lagi. Makasih ya Allah sudah memberi kesempatan hambamu ini hidup lagi. Makasih juga ris udah bantu."
"Iya mas sama sama." jawab aris terharu melihat dimas begitu menyayangi sahabatnya.
"Dim kita berdua hidup lagi berarti?" tanya adi.
"Ya akong berkorban demi kalian. Akong awalnya hamya mau menghidupkan salah satu tapi aku todak bisa memilih karena kalian best friend gw. Jika salah satu di antara kalian tidak hidup aku memilih untuk ikut mati saja. Lalu akong mengalah dan dia bilang kalau 2 orang sekaligus maka akong akan menggadaikan jiwanya untuk menambah kekuatannya. Dan mau gimana lagi walau berat aku harus memilih kalian Sahabat ku." Ucap dimas membuat adi dan lukman terharu lalu mereka bertiga berpelukan.
"Makasih brother." ucap adi.
"Sama sama."
"Apa ini yang di sebut keluarga? Keluarga yang saling menyayangi satu sama lain. Saling menjaga dan melengkapi." batin aris lalu di teringat kebaikan bayu,anggar,ibu panti dan orang orang yang membantunya saat hidup susah di jalanan.
"Apa mereka keluargaku? yang baik denganku selama ini?" tanya aris dalam hati.
"Udah udah pelukannya ayo kita kembali."
"Eh iya ada aris juga mau ikut di peluk nggak?" tanya lukman.
"Nggak usah mas makasih. Ayo kita kembali caranya gimana.?" tanya aris.
"Ohh iya gw kan masih luka dalam." ucap dimas agak panik.
"Gw sama lukman juga nggak punya tenaga banyak karena habis untuk bertarung tadi." ucap adi.
"Terus gimana ini?" tanya aris bingung.
"Ris sini tak ajarin caranya karena harapan kita cuma kamu ris. Tolong ya ya." dimas memelas.
"Ya udah gimana caranya? aku nggak mau di alam ghoib selamanya."
Dimas memberitahu do'a dan tata caranya dan di percobaan pertama gagal karena aris belum bisa mengalirkan energi. Sampai ke 3 kalinya tetap saja gagal karena energi aris seolah ambyar tidak mau berkumpul. Akhirnya dengan menyatukan energi dimas,adi dan lukman mereka membantu aris menyatukan energinya dan akhirnya berhasil semua kembali ke raga masing masing tapi di atas tikar terlihat bercak darah terutama di depan dimas yang terdapat bercak darah besar. Celana dimas juga ikutan basah darah.
"Efek pukulan jin sialan tadi nih jadi banyak darah kayak gini."
"Duh leher gw kok perih ya." ucap lukman.
"Leher lu berdarah man tapi kok melingkar gitu ya." ucap dimas.
"Duh kayaknya leher gw juga ya dim?" tanya adi?"
"Iya sama mungkin efek penyatuan tadi. Udah itu cuma luka paling 3 hari udah sembuh yang penting kalian bisa makan nasi dan ayam lagi." ucap dimas.
Saat melihat jam ternyata udah jam 4 pagi ya sudah akhirnya mereka ngobrol di rumah aris sampai pagi.
"Ris aku pulang dulu ya. Nih uang buat beli tikar baru." ucap dimas.
"Nggak usah mas tikar udah jelek juga. Mas simpen aja uangnya." Tolak aris.
"Kalo nggak di terima aku nggak akan mau kenal kamu lagi ris." ucap dimas memaksa.
"Aku nggak mau uang aku maunya bentuk benda aja mas
Tapi nggak juga gpp."
"Ohh jadi minta tikar baru aja? ya udah deh tapi nggak bisa hari ini lo ya mungkin besok atau senin tak beliin."
"Gampang."
Akhirnya mereka bertiga pulang tinggal aris sendirian.