
Setelah sarapan bayu dan yang lainnya melanjutkan perjalanan.
Pov Aris lagi.
Pagi itu aris sarapan mandi dan berangkat menuju rumah dimas yang jaraknya kurang lebih 7 Km maka dari itu aris berangkat pagi pagi.
Skip sampai di desa dimas pukul 8 dan aris melihat motor dimas di rumahnya berarti yang punya ada di rumah.
"Assalamu'alaikum." Salam 3x dan dimas baru keluar.
"Walaikumsalam salam. Kamu ternyata sini masuk. Ada apa ris?"
"Aku mau ngomong penting mas?"
"Mau ngomong apa? Udah sarapan belum? kalau belum ayo sarapan di rumahku."
"Makasih mas tapi aku udah sarapan di rumah tadi. Tentang orgil yang mengamuk itu loh mas aku minta bantuan."
"Oh ya orgil bantuan apa yang bisa aku lakukan?"
"Aku mau tahu dong siapa saja orang yang berilmu hitam di kota malang ini?" tanya aris.
"Hah buat apa kamu ingin tahu semua itu? Ya jelas banyak ris aku nggak tahu detailnya siapa aja."
"Orgil orgil itu di pengaruhi oleh aura hitam yang pastinya berasal dari ilmu hitam kiriman seseorang."
"Kamu tahu itu semua dari mana? Emang benar energi atau aura hitam pasti berasal dari ilmu hitam atau sebaliknya. Tapi apa iya orgil orgil itu beraura hitam?" tanya dimas.
"Aku lihat sendiri mas. Bahkan aku sempat menginterogasi orgil dan memang benar ada yang menyuruhnya berbuat onar dan mengusik ketentraman masyarakat. Kata salah satu jin yang aku interogasi pengirim ilmu hitam itu menginginkan perang dengan seseorang yang dia incar."
"Kamu interogasi orgil dan berhasil? gila gila idemu cemerlang banget aku merasa kalah cepet denganmu. Memang kemarin sempet lihat berita di tv tapi aku belum sempat menelusuri ehh di pondok terjadi kekacauan. Sebenarnya hari ini ada rapat di pondok tapi aku ijin dulu nanti kamu ikut aku ya kita minta bantuan guruku di kota sebelah." ucap dimas.
"Siap mas aku kira mas dimas bisa mencari siapa orang yang mengirim ilmu hitam itu." ucap aris.
"Pemilik ilmu hitam di kecamatan a,b dan c aja sekitar 10 orang gimana dengan kecamatan lain? belum lagi jika orang yang kita cari itu bisa menyembunyikan kekuatannya bakal susah nemuin nya. Kita ke kediri biar guruku yang menerawangnya tapi biasanya butuh media supaya tidak salah sasaran."
"Medianya apa mas?"
"Bentar tak cuci piring sekalian mandi dulu. kamu jangan kemana mana."
15 menit berlalu dimas sudah rapi siap berangkat.
"Ayo ris kita berangkat! Medianya udah dapet." ucap dimas dengan tas selempang di samping.
"Medianya apa mas?" tanya aris lagi.
"Udah nggak usah di pikir. Ini kamu pulang dulu naruh sepeda apa sepeda nya di taruh dalam rumahku aja?"
Tuttt tuttt bunyi telepon.
"Bentar mas."
"Hallo assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam lu di mana gw di depan rumah lu nih." ucap agus.
"Ngapain?"
"Ada sesuatu nih yang mau gw omongin. Mending lu pulang deh."
"Oke tunggu ya."
"Temenku yang kemarin ke rumahku mas mending ke rumahku dulu aja mas. Siapa tahu temenku mau ikut."
"Oke oke kamu punya helm nggak?"
"Ada kok mas di rumah."
Aris di dorong motor oleh dimas supaya cepat sampai dan 15 menit sudah sampai di TPS.
"Udah mas di depan ada TPS rumahku di situ."
Dimas tak bisa berkata kata melihat TPS itu.
"Ayo mas ke dalam temenku udah nunggu tuh."
"Iya ris." Sambil berjalan dimas heran kenapa aris bisa tinggal di sini? Kemana orang tau aris sampai membiarkan anaknya tinggal di sini.
"Kenapa mas kok kayak bingung gitu? pasti mas mikir kok ada orang yang mau tinggal di TPS? Iya kan." tebak agus.
Dimas tak bisa menjawabnya.
"Aku juga dulu mikir gitu tapi setelau tahu aris itu yatim piatu sejak kecil aku jadi tahu alasan aris tinggal di sini. Btw mas kok ikut aris ke sini emang ketemu aris di mana mas?"
"Tadi aris ke rumahku dan ini kita mai ke kota sebelah buat ketemu guru spiritual ku kamu mau ikut?"
"Boleh mas tapi aku mau cerita sama mas kebetulan ketemu di sini."
Dimana ini? hah ini di kamarku tapi kok aneh ya?
Bu pak kalian di mana kok malam malam gini keluar nggak pamit.
"Sini kamu!" ucap suara dari samping rumah agus.
"Siapa dia?" batin agus.
"Udah jangan banyak omong." ucap pria itu tahu isi hati agus.
"Mati kamu!" saat agus mendekat pria itu menarik agus dengan kekuatan tak kasat mata sampai leher agus di cengkraman pria yang berumur 50 tahunan itu.
"Pak tunggu jangan bunuh sekarang kita bunuh di medan perang saja." Ucap anak kecil seperti kurcaci tapi suara anak kecil itu familiar di telinga agus seperti pernah mendengarnya.
"Huk huk uhuk.." agus terbatuk batuk ketika ketika cekikan di lehernya terlepas lalu agus terbangun dari mimpinya.
Flashback off>i>
"Mimpi yang nyata mas. nih lihat leherku membiru kan kayak bekas cekikan." Agus menunjukan lehernya.
"Jadi menurutmu si pria itu ada hubungannya dengan orgil orgil yang mengamuk itu? dan dia balas dendam ke temanmu yang bernama bayu itu?"
"Betul mas."
" Hmm dan pria itu seperti menunggu bayu pulang untuk di ajak perang."
"Ayo mas berangkat. Gus lu ikut nggak ke tempat guru mas dimas."
"Ikut dong. Ayo gw bonceng aja ris."
Singkat cerita mereka sudah sampai di sebuah pendopo yang di jaga beberapa orang.
"Assalamu'alaikum Syekh Juki ada tidak pak?"
"Wa'alaikumsalam sudah ada janji dengan syekh?"
"Saya salah satu murid syekh yang di kec B kota malang."
"Sebentar." Si penjaga menelepon seseorang.
"Baik syekh sudah menunggu di balai pertemuan."
Semuanya masuk ke halaman pendopo dan terlihat 2 harimau ghaib berkeliaran di dalam pendopo itu.
"Tenang mereka hanya menjaga pendopo dari orang orang yang berniat jelek ayo ikut aku."
Sampai di balai pertemuan ada kakek tua duduk di apit 2 penjaganya.
"Assalamu'alaikum syekh." dimas menyalami 3 orang tersebut dan di ikuti agus dan aris.
"Wa'alaikumsalam lama tak jumpa dimas. Aku kira kamu lupa jalan kemari. Monyetmu kemana kok nggak ada?"
"Si akong aku tinggal di luar syekh."
"Hmm lanjutkan."
"Aku ke sini mau cari seseorang syekh."
"Apa ilmu dariku masih kurang? Sampai mencari orang saja tidak bisa malah datang kemari."
"Mohon maaf syekh aku tidak berani mencari sendiri takutnya salah orang."
"Dari dulu selalu seperti itu. Baiklah ini kali terakhir aku membantu. Kemarikan media yang kamu bawa."
Dimas mengeluarkan guci kecil dari tasnya dan menyerahkan ke pengawal syekh juki. Setelah di pegang syekh juki guci itu di buka dan syekh juki memejamkan mata beberapa saat.
"Hmm dia yang kamu cari. Sepertinya dia tidak terlalu kuat tapi seseorang di belakangnya yang berbahaya.
Kemarilah!" Dimas mendekat dan di bisiki oleh syekh juki.
"Terima kasih syekh sudah mau membantu aku pamit undur diri."
"Iya dan aku harap ini terakhir kali aku membantumu."
"Iya syekh Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Gimana mas apa sudah ketemu orangnya?" tanya aris.
"Kita cari tempat duduk buat ngobrol dulu."
"Tuh di depan ada alfa sepi mas di situ aja." tunjuk agus dari atas motornya.