
"Apa yang kamu cari bersama anggar?" tanya anggi.
"Bulu va**na nadia yang di simpen riski. Tapi riski sudah nggak ada jadi susah nyarinya." ucap bayu.
"Apa? bener benet ya lu nggar. Udah kelewatan lu anjing plakk... " ucap anggi mendatangi anggar dan menamparnya. Dino menarik anggi untuk duduk dan menenangkanya.
"Kalau 4 temannya mati seharusnya anggar ikut mati sekalian biar impas karena itu perbuatannya sendiri." ucap anggi emosi.
"Gw nggak takut mati tapi masalahnya bukan itu nggi. Roh nadia akan menghantui keluarga dan orang2 dekat kita yang dulu membunuhnya. Lu juga bakal kena imbasnya kalo gw mati." ucap anggar emosi mendengar ucapan anggi. Anggi hanya diam setelah tahu fakta tersebut.
"Udah nggar tenang. Intinya gini ya mas mbak kita cari solusinya. Kalau mas dan mbaknya nggak mau bantu jika suatu saat ada sesuatu yang terjadi jangan tanya apa sebapnya karena jawabannya kalian tidak mau bantu kita menyelesaikan masalah ini. Jika masalah ini sudah selesai mbaknya boleh sesuka hati mau di apakan si anggar ini. Bukan menakut nakuti ya mbak mas." ucap bayu dengan tenang.
Beberapa saat heming dan anggi memecah keheningan.
"Dengan cara apa kami bisa bantu?" tanya anggi.
"Pertama saya punya pertanyaan untuk mbak sebagai mantannya mas riski. Apa hadiah yang sering di berikan mas riski?" tanya bayu.
"Sering sih baju dan makanan." jawab anggi.
"Terus sebelum kalian putus mbak di kasih apa aja? ada nggak hadiah yang belum di buka sampai saat ini?" tanya bayu mengintrogasi.
"Bentar bentar kayaknya ada sih tapi kayak kotakan gitu. Kata riski dulu aku di suruh simpen dan kasih kepada orang yang mencari suatu saat nanti. Apa jangan jangan bulunya ada di situ ya?" ucap anggi.
"Nah bisa jadi tuh mbak. Sekarang dimana kotak itu?" Tanya bayu girang.
"Di mana ya aku lupa. Bentar tak inget2 dulu." ucap anggi mengingat dan bayu meminumkan air putih tadi ke anggar.
Dan aneh anggar langsung muntah darah atau seperti cairan berwarna hitam gitu. Ternyata dari tadi wulan menyalurkan energi positif ke tubuh anggar sehingga sesuatu yang buruk akan keluar.
Anggi yang sedang bengingat ngingat jadi kaget bercampur heran.
"Itu cairan apaan kok kentel warna hitam lagi?" tanya anggi dan dino langsung ke belakang ambil lap.
Saat dino datang dan ingin membersihkan bayu mencegahnya.
"Bentar mas." bayu menyentuh cairan itu dengan jari telunjuknya dan muncul siluet saat bayu memejamkan mata. Siluet itu menggambarkan sebuah rumah dengan banyak pintu seperti rumah kost. Rumah kos itu terlihat sepi tapi ada 1 kamar di paling ujung dekat kamar mandi. Kamar itu sangat gelap seperti ada aura negatif sangat kuat di sana.
setelah itu kembali gelap dan bayu membuka mata.
"Mbak dulu kosnya di pojok deket kamar mandi ya?" tanya bayu.
"Emmm iya kok kamu tahu? apa kamu peramal ya?" tanya anggi penasaran bagaimana enggak anggar punya banyak uang tapi kasus sebesar ini malah ngajak anak sekolahan untuk membantu.
"Bukan mbak aku biasa aja hanya menebak nebak. " ucap bayu.
"Ohh iya barang itu tertinggal di kamar kosku dulu. Tapi masih ada nggak ya? kan udah 2 tahunan aku keluar dari sana." ucap anggi.
"Bisa jadi masih ada sayang. Gimana bayu mau di cek sekarang atau besok?" tanya dino.
"Sekarang saja mbak. Tapi anak mbak gimana? dia nggak bisa ikut karena bahaya." ucap bayu.
"Andi titipkan ke rumah rita saja sayang nanti pulang di jemput." ucap dino.
"Ya udah tapi ngerepotin keluarga rita nggak ya?" tanya anggi.
"Kalau kita bisa cepet dan urusan kelar sebelum jam 8 pasti kelar mbak. Atau anak mbak di bawa saja tapi rita juga di ajak." ucap bayu.
"Maksudnya?" tanya anggi.
"Nanti rita biar jagain andi di mobil saat kita masuk." ucap bayu.
"Iya gitu aja daripada ngerepotin keluarga rita. Bentar tak ngomong dulu sama rita." ucap anggi lalu berjalan ke teras.
"Kita berangkat sekarang yu?" tanya anggar agak lemas habis muntah tadi.
"Habis maghrib aja kita sholat maghrib jamaah aja. Mas ada mushola atau masjid nggak di dekat sini?" tanya bayu.
"Ada mushola tapi jauh dari sini kalau jalan aku biasanya pakek motor dan anggi sholat di rumah." ucap dino.
"Ya udah gelar tiker aja din kita sholat di ruang tamu." ucap anggar sudah melupakan kejadian tadi.
"Iya mas." Dino mengambil tikar dan di bantu anggar menggelarnya. Bayu sedang menelepon ibunya kalau nanti pulang malam dan anggi masuk bersama rita yang sudah ganti baju dan berdandan.
"Mas dino nggak mandi dulu bauk tuh bajunya." ucap anggi sewot.
"Iya deh lupa hehe.. Bentar ya mas yu gw mau mandi." ucap dino lalu ngibrit ke kamar dan lanjut mandi di belakang.
"Yu lu juga belum mandi dan belum ganti baju. Mandi dulu sana gantian sama dino terus ganti baju lu gw tadi beli buat lu buat jaga jaga bakal sampai malem." ucap anggar.
Singkat cerita bayu dan dino sudah mandi pakaian juga udah ganti kini mereka sedang sholat maghrib dan dino sebagai imamnya karena anggar menolak jadi imam. Setelah sholat mereka berenam termasuk rita berjalan ke mobil anggar yang terparkir di depan rumah rita.
"Widih mas dari dulu nggak berubah ya mas selalu pakek yang wow." ucap dino melihat mobil alphard hitam di depan rumah rita.
"Jangan katrok dong mas malu maluin aja." ucap anggi kesal dengan tingkah suaminya.
"Hehe... bukan mobil gw ini. Buruan masuk semua." ucap anggar.
"Dari dulu juga mas bilangnya gitu." ucap dino sambil naik ke mobil.
Posisi duduk jelas anggar sebagai sopir di sebelahnya anggi dan andi di pangkuanya. Belakang tempat duduk anggi ada dino dan sebelah dino bayu dan paling belakang rita 👤😔😢sendirian.
Tempat kos anggi dulu tidak terlalu jauh dari kontrakan riski berarti perjalanannya kurang lebih sama yaitu setengah jam. Mobil melaju dengan kecepatan sedang karena anggar tidak ingin terjadi sesuatu dengan mereka semua. Saat tiba di jalan yang kiri kanannya sawah jauh dari perumahan dengan jarak tujuan kurang 2 km bayu merasa sesuatu dan benar mobil bergoyang lalu ada tangan berkuku tajam di kaca sebelah kanan bayu begitu juga sebelah kiri dino. Sepertinya itu sosok jahat nadia yang mengikuti mereka.
...Lanjut chapter selanjutnya>>>...