INDIGO & 7

INDIGO & 7
28.Tinggal sendiri.



"Riski nggak selingkuh nggar. Dia itu aneh selalu nyuruh aku cari cowok lain karena mau balik ke kota asalnya dan dia nggak bisa LDR. Aku jelas menolak karena aku udah sayang banget sama riski. Tapi puncak rasa kecewaku saat terang2an mengusirku dari kontrakannya dan dia berkata tidak ingin bertemu denganku. Detik itu juga dia memutuskan hubungan kita. Aku sangat terpukul aku 2 hari nggak pulang ke rumah dan bertemu wanita di jalan katanya dia mau bantu aku untuk melupakan riski. Walau aku yakin sulit aku harus mencoba karena aku nggak mau harga diriku semakin di injak injak oleh riski. 1 bulan aku lost kontak dengan riski karena aku ganti hp. Sebulan itu juga aku terjerumus di dunia hitam. Oke skip saat mas dino menyelamatkanku dari bandar penjualan wanita dan membawaku ke rumahnya. Pagi harinya aku di kasih tahu budi kalau riski balik ke kotanya hari ini tapi aku tidak merespon dan bodo amat dengan riski. Tapi budi bilang suruh cek sms di hpku dan aku cek nggak ada lalu aku teringat hp lamaku. Singkat cerita sampai di kos di temani mas dino aku cek hpku ada sms dari riski (Anggi cantik maafkan aku yang bodoh ini. Aku meninggalkanmu bukan karena aku tak sayang tapi aku sudah melakukan kesalahan besar yang cukup aku yang tahu. Entah kamu baca sms ini kapan yang jelas saat kamu baca tulisanku ini aku minta kamu mau di nikahi adiknya budi karena dia cowok yang baik tidak sepertiku dan budi pasti akan turut menjagamu. Sekali lagi maaf dan terima kasihku untukmu anggi wanita tersayang.) Mataku berkaca kaca membaca sms itu dan aku ingin tahu kesalahan apa yang di lakukan riski saat itu."


Anggar dan bayu bertatapan seolah tahu apa kesalahan riski itu.


"Jadi saat ini riski sudah kembali ke kota asalnya?" tanya anggar.


"Iya dia kembali ke kota asalnya sekaligus kembali ke tangan sang pencipta mas." ucap dino lemas.


"Apa maksudnya kembali ke tangan sang pencipta?" tanya anggar kaget.


"Iya pagi itu mas budi di telpon mas riski buat pamit pulang nanti siang dan menitipkan anggi ke aku dan mas budi. Mas budi hanya mendo'akan mas riski selamat sampai kota asalnya. Tapi aku dan anggi saat itu pulang mengajak mas budi ke terminal untuk menemui mas riski untuk terakhir kalinya. Sampai di terminal bus yang di tumpangi mas riski udah berangkat jam 10 tadi jadi kami pulang dengan perasaan kecewa. Besoknya mas budi dan aku melihat berita di tv kalau ada kecelakaan beruntun di Tol A kilometer 47. Disitu terlihat bus ringsek dengan tujuan kota asal mas riski. Mas budi mencoba menelepon mas riski tapi saat di angkat adalah suara perempuan yang mengaku suster yang mengamankan hp mas riski. "


"Jadi riski udah nggak ada dia udah meninggal hah.. " ucap anggar berdiri dan menarik kerah baju dino.


"Kenapa budi dan elu nggak ngabarin gw? nomor gw nggak pernah ganti dan selalu aktif. Bahkan alan dan waluyo meninggal gw nggak di kasih info apa apa. Apa kalian sengaja tidak memberi tahuku? Sampai kakak lu sendiri nggak ada tapi nggak ada seorang pun yang datang ke rumah gw buat ngasih tahu." ucap anggar dengan keras di depan dino.


"Apa mas waluyo dan mas alan juga udah meninggal? Sumpah mas gw aja baru tahu hari ini kalau sudah meninggal."


Wulan yang melihat aura gelap anggar muncul segera menyalurkan energi positif untuk meredamnya.


Anggi dan bayu segera memisahkan keduanya takut sampai berkelahi. Anggar di dudukan di kursi tempatnya duduk dan dino di peluk anggi. Setelah duduk anggar hanya bisa menutup mukanya dengan kedua tangannya sepertinya dia menangis.


"Sebelumnya maaf mas kalau lupa ngasih kabar mas anggar saat mas budi meninggal. Aku sangat terpukul waktu itu. Tapi untuk meninggalnya mas riski aku kira mas udah tahu di tv makanya nggak dateng ke rumah mas anggar. Saat pemakaman mas riski saja kita sampai di kota mas riski udah telat kok. Mas riski udah di makamkan" jelas dino dengan nada terbata bata yang tidak di jawab anggar.


"Udah mas dino diam aja dulu maaf ikut campur. Biar mas anggar tenang dulu ya. Mbak boleh tolong minta air putihnya 2 gelas saja?" ucap bayu kepada anggi. Anggi melepas pelukannya lalu melihat suaminya dan suaminya mengangguk tanda dirinya baik baik saja. Setelah anggi ke belakang dino bertanya kepada bayu.


"Masnya ini siapa ya? kok bisa bersama mas anggar kesini?" tanya dino.


"Ohh perkenalkan saya bayu tidak usah di panggil mas saya masih sekolah. Saya disini untuk membantu mas anggar ini menemukan sesuatu punya nadia untuk di kembalikan." ucap bayu.


"Apa nadia yang kamu maksud anak SMK Putra Bangsa satu angkatanku itu?" tanya anggi.


"Iya mbak. Mbak tau siapa yang membunuh nadia?" tanya bayu.


"Yu jangan kasih tahu rahasia itu ke mereka!" ucap anggar di tengah tangisnya yang mulai mereda dan sudah tidak menutupi muka nya lagi.


"Mereka masih ada hubungan dengan para korban biar mereka tahu siapa tahu mereka bisa membantu." jawab bayu.


"Bentar2 bukannya nadia mati gantung diri di kelas ya? kata temen temenku dulu gitu akibat nggak bisa bayar biaya sekolah dia bunuh diri." jelas anggi.


"Mbak salah besar sebenarnya nadia di perkaos di kelas baru di cekik setelah mati baru di gantung supaya di kira gantung diri. Mbak tahu siapa yang merkaos nadia? pertama Pak A sebagai dalangnya dan gengnya mas anggar ini pelakunya?" ucap bayu.


"Jadi mas budi juga terlibat?" tanya dino.


"Apa riski juga terlibat? nggak nggak mungkin riski terlibat riski setia sama gw saat itu mana mungkin dia merkaos cewek lain. Nggar jawab nggar apa bener yang di omongin anak ini? riski nggak terlibat kan?" ucap anggi teriak teriak.


"Iya kita berlima terlibat." jawab anggar lemah.


Dino dan anggi jadi terdiam lalu bayu berkata.


"Nah sekarang mas dan mbak sudah tahu kan penyebab kematian mas alan, mas waluyo, mas riski dan mas budi? mereka meninggal berurutan loh dengan rentang 1 tahun muncul 1 korban." ucap bayu memecah keheningan.


"Nadia." jawab anggi lirih.


"Iya betul mbak dan saat ini giliran mas anggar yang akan di bunuh maka dari itu saya mencari sesuatu yang tidak layak di simpan seseorang."